Minggu, Agustus 17, 2008

Siti Djahrah, Gerilyawan Wanita Yang Enggan Tinggalkan Rumah Dinas Berjalan Tanpa Alas Kaki, Jemput Pistol Revolver

Nama lengkapnya Siti Dzahrah. Zaman revolusi, diusianya yang masih muda, ia dipercaya membawa surat rahasia dan tergabung dalam ekstrimisme. Kini, pejuang RI asal Banjarmasin ini lebih memilih tinggal sendiri ditempat penuh kenangan semasa suami hidup.


GERILYAWAN kelahiran Kampung Walang 25 Januari 1930 ini cukup ramah menyambut kedatangan media ini, Rabu (13/8), meskipun datangnya lewat pintu belakang. Bergegas ia membungkus nasi yang tersisa sedikit itu, kemudian memasukkannya kedalam tudung saji. Tentu saja setelah mempersilakan aku masuk kerumah yang beralamat Jalan Mangga RT 24 Nomor 24 Mekar Sari itu.
“Beginilah. Duduk, seperti anak-anak kembali. Setiap hari makan, kalau capek tidur, salat. Salat itu kadang duduk kadang baring. Kada kuat kaki nenek. Mau nonton kada bisa melihat juga,” Siti Dzahrah langsung menyampaikan keluh kesahnya.
Siang itu, pejuang veteran asal Banjrmasin ini mengenakan daster berwarna merah hati yang dibalut lagi dengan kebaya yang warnanya sudah usang dimakan usia. Mengenakan kacamata tebal berbingkai hitam, guratan di wajah, kulit yang bergelambir dengan rambut putih, menunjukan usianya sudah lebih dari setengah abad.
Pemilik sapaan akrab Djah ini adalah satu dari sekian pejuang wanita sebagai ekstrimis di era revolusi tahun 1945 hingga 1949. Satu yang paling berkesan dalam ingatan wanita usia 78 tahun ini adalah, dimana ia bersama satu rekan bernama Saasiyah dipercayakan mengantar surat rahasia dengan misi menjemput pistol. Kala itu ia masih berusia 17 tahun.
“Bahari (dulu) kalau ga salah tahun 1947, jumat jam 10.00 Wita aku pegi. Aku pas dikelas. Jadi bilang sama guru, izin ada risalah na. Dikasi..,“ tutur ibu delapan anak ini.
Djah menjelaskan. Saat itu pria bernama Hami yang juga masih satu keluarga dengannya memutuskan hengkang dari keprajuritan Belanda. Hami memilih kembali bergabung dalam ekstrimis dan membawa lari satu pucuk senjata api atau biasa disebut pistol revolver. Djah tidak tau bagaimana bisa senjata itu kemudian pindah tangan, sehingga Hami menugaskannya untuk menjemput kembali sejata itu.
Mengenakan kebaya dengan selendang menggelantung dipundak, tanpa alas kaki, ia bersama Saasiyah menyusuri jalan dari hutan ke hutan yang berbukit-bukit. Melawan derasnya arus sungai tapin yang kedalamannya hingga dada mereka. Surat rahasia yang ditulis dengan kode revolusi itu pun dia simpan rapi di tas selempang berbahan dasar kain. Tentu saja saat melewati sungai, tas itu dijunjung tinggi agar tidak basah. Hingga akhirnya sampai ditempat tujuan, menyerahkan surat rahasia berisi perintah pengambilan pistol tadi kepada sudu gapar, si peranakan cina.
“Dari Kampung Walang ke Bitahan jaraknya 40 km. Pistolnya di tempat peranakan cina,” urai nenek 13 cucu ini sembari menambahkan ia kembali tiba di Kampung Walang pukul 15.00 Wita.
Jumat itu benar-benar terasa panjang. Setelah mengantar pistol dan tiba dirumah, baru saja hendak menyantap makan siang, deru suara mobil perang terdengar. Sejumlah pasukan tentara belanda mengepung rumah warga di Jalan Margasari itu. Tujuannya mencari gerilyawan perintis kemerdekaan laki-laki. Mendengar itu, anak pertama dari enam bersaudara ini segera memberitahu ayahnya untuk lari lewat pintu belakang. Dan tinggallah dia seorang diri didalam rumah. Tentara itu dengan garang menelurkan tembakan-tembakan ke langit-langit rumah dan berteriak lantang agar si penghuni rumah segera keluar.
“Waktu itu ada tiga kami wanita. Saya bilang orang laki ga ada, kerja di sawah tuan. Ditanya saya sudah belaki kah. Saya bilang, saya belum belaki tuan,” kenang nenek yang pernah menimba ilmu di sekolah agama normal islam.
Di era 50-an, hingga akhirnya ia memutuskan hijrah ke Balikpapan dan ikut dalam seleksi penerimaan pegawai penerangan di Kantor Kotamadya Balikpapan. Kala itu kantornya masih berada di Gunung Sari. Dan ia pun mendapatkan fasilitas rumah dinas, yakni yang ia tempati sekarang ini.
Di kota minyak ini juga ia bertemu pujaan hati Muhammad Basri. Dan sudah takdir Allah SWT, ia rela melepas kepergian Basri untuk selamanya pada 12 Mei 1989. Anak-anaknya telah dewasa dan berumahtangga, sehingga mengharuskan ia tinggal seorang diri di rumah semi permanen itu.
“Pernah diajak sama anakku di manggar, tapi aku sayang rumah ini. Banyak kenangan sama bapak,“ ujarnya sembari menatap foto besar tanpa warna, potret mereka berdua yang terpajang di dinding samping meja makan. (*)








Kamis, Juli 31, 2008

Melihat dari Dekat Kapal Perang Prancis, Vendemiaire


KAPAL perang perang Prancis, Vendemiaire, sejak 30 Juni hingga 3 Juli sandar di Pelabuhan Semayang. Kapal yang mampu mengangkut 93 awak ini masuk ke perairan Balikpapan dalam rangka kunjungan kehormatan. Bagaimana kecanggihan Vendemiaire?

“Kapal perang ini termasuk kapal perusak kawal, berpeluru kendali,” terang Kapten Thierry Arnoult berbahasa Inggris bercampur Prancis. Awalnya aku sempat kesulitan mencari informasi kapal perang Prancis karena penjagaan pihak militer yang sangat ketat. kata penjaga, open sheepnya mulai pukul 09.00 Wita hingga 12.00 Wita. Namun bukan imay namanya kalau langsung menyerah. Setelah berupaya keras, akhirnya aku bisa naik ke atas kapal dan menemui kapten kapal.

“Kapal ini beroperasi sejak tahun 1993. Di dalamnya banyak alat canggih,” kata dia.

Peralatan canggih itu antara lain terletak pada sistem persenjataan. Kapal dengan ukuran 130 x 18 meter ini dilengkapi sonar yang mampu melacak keberadaan kapal selam sekaligus memperhitungkan jarak dan akurasi tembak ke sasaran. Sebagai penangkal serangan kapal selam musuh, Vendemiare dilengkapi dengan sejumlah torpedo. Serangan udara juga mampu dilumpuhkan karena persenjataannya memang dirancang untuk hal tersebut.

“Nama Vendemiaire ini di ambil dari peristiwa revolusi prancis pada tahun 1789. Kita memakai nama ini untuk mengenang jalinan persahabatan pejuang yang tergabung dalam Vendemiaire,“ ungkap Arnoult.

“Misi kami diantaranya mengawasi nelayan ilegal dan perdagangan bebas,“ tambah pria yang telah 11 bulan menjadi kapten Vendemiaire ini.

Lanjut pria berambut pirang ini menjelaskan, kunjungan tahun ini bukan hanya Indonesia. Pria ramah ini mengatakan juga telah melakukan lawatan ke Malaysia, China, Rusia dan Jepang.

“Sebelum Balikpapan, kita mendatangi Dili. Dan tujuan selanjutnya kota Surabaya,“ tambahnya.

Terlepas dari itu, terlihat pula sejumlah aparat menjaga di pintu masuk ke lokasi kapal perang Prancis bersandar. Sugiharto, seorang dari penjaga itu mengatakan sejak masuknya Vendemiaire telah dikerahkan sebanyak enam orang untuk berjaga selama 24 jam. Alasan penjagaan ini, untuk mengantisipasi segala sesuatunya.

“Setiap hari ada enam penjaga yang berasal dari staff intelegent, polisi militer dan personel staff sendiri,” sebut anggota Lanal Balikpapan bagian Fasilitas Dinas (Faslan) ini. Mengomentari kapal perang asal Prancis ini, menurutnya masuk dalam tipe Excoced MK 44, sama seperti kapal perang Indonesia. Hanya bedanya kapal perang Indonesia menggunakan tenaga turbin uap, sedangkan Vendemiaire menggunakan tenaga turbin gas. “Ini bisa dilihat dari cerobong asapnya,” imbuh Sugiharto.

Berbahan bakar solar, jarak tempuh fregate mampu mencapai 12 hingga 18 knot. Kecepatannya memang maksimal 12 mil/jam, tetapi jika urgent bisa sampai 20-30 knot/jam. “Intinya lambat bisa, cepat juga bisa,” tutupnya.(*)

Pintar dan Cerdas Emosional, Kunci Menjadi Anak Berguna

Anak yang belajar dan menunjukkan kepintarannya di sekolah negeri belum tentu ketika dewasa kelak bakal menjadi orang sukses. Sukses tidak semata ditentukan oleh kepintaran otak, melainkan juga kemampuan memanage emosional.


Joko meraung-raung dan menangis sejadi-jadinya, memanggil ibunya yang sedang memasak di dapur. “Mbok..huaaa…huaaa, iku ono telek..(ada kotoran)!! resi i.. resi i(bersihkan),” raung Joko sambil menunjukkan ke pahanya yang ada kotoran ayam, saat sang ibu datang. “Kok iso ono telek ayam le,” tanya ibu yang bernama Sastro ini seraya membersihkan kotoran itu dari paha buah hatinya.
Baru saja beranjak masuk dan akan membersihkan tangan, kembali terdengar rengekan si Joko. Dan dengan tergopoh-gopoh, Sastro kembali menghampiri Joko. “Mbok...baleni..(kembalikan),“ pinta Joko seraya menunjukan kotoran ayam yang telah dibersihkan sang ibu. Sastro dengan sikap sabar dan tenang, memungut kembali kotoran itu dari tanah, kemudian meletakkan kembali ke paha Joko.
Selang beberapa saat ketika melangkahkan kaki menuju rumah, Sastro kembali dikejutkan dengan rengekan Joko, yang kali ini jauh lebih keras. Kali ini, Sastro ingin menangis menahan emosi melihat tingkah laku putra kecilnya. Namun, ia berusaha membendung air matanya, kemudian menuju keluar seraya tersenyum simpul. “huaa...huaaaa..., ora podo! (tidak sama),“ Joko sedikit berontak melihat kotoran ayam yang bentuknya tidak sama dengan sebelum dibuang Sastro.
Menyaksikan itu, Sastro berusaha tenang, untuk tidak menangis dan tidak pula meluapkan kemarahan pada bocah itu. Sastro telah berhasil menjaga mata dan mulutnya. “Eee.. ora podo yo le,” ujar Sastro seraya memandang wajah Joko dengan tatapan penuh kasih sayang. Di usap-usapnya lah punggung Joko seraya berkata,”Le..le cilik cilik wes merintah merintah, koyok jendral. Mugi-mugi, sesuk dadi jenderal yo le,” Dengan halus Sastro bertutur.
Keesokan harinya, kembali Joko membuat pusing Sastro. Pagi itu Joko berlari-lari menuju rumah dengan menggenggam sejumlah timun. Terlihat dibelakangnya seorang pria tua yang berteriak sambil menunjuk si Joko. Rupanya Joko mengambil tanpa izin saat pria tua itu manen timun di kebun. Sukses membujuk Joko untuk kembalikan timun yang dia ambil dan setelah pria tua itu berlalu dan membawa timun yang diambil Joko, Sastro kembali menatap Joko dengan kasih sayang. Kemudian dielus-elusnya lagi punggung Joko seraya berkata “Mugi mugi sesok dadi wong sugih yo le. Ben ga usah nyolong meneh.“
Itulah kisah Joko. Satu kisah yang dengan manis disampaikan Hj Neno Warisman. Kisah yang menggugah dan membangkitkan emosional ratusan hadirin yang memadati Aula BI. Joko kini benar-benar telah menjadi seorang jenderal. Membuat ibunya hidup tenang di alam baka karena sang anak kini telah menjadi orang berhasil.
“Jenderal Joko bilang pada saya, dia bisa jadi jenderal bukan karena pintar. Tapi karena ibunya yang semasih hidup tidak pernah sedikitpun melontarkan kata-kata buruk dari mulutnya. Maka itu, hargailah anak-anak kita,” ujar Hj Titi Widoretno Warisman, lebih akrab dipanggil Neno Warisman..
Penyanyi dan bintang film era 1980-an ini menjadi pembicara tunggal dalam seminar parenting di Aula Bank Indonesia (BI), Sabtu (26/7). Seminar ini dihelat oleh Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang bekerjasama dengan Ikatan Wanita Bank (Iwaba).
Seminar gelaran BMH-Iwaba ini bertema ”Peran orangtua membantu mengembangkan potensi kecerdasan fisik, mental dan sosial anak di era globalisasi”, Neno mengatakan sistem pendidikan terbaik ada di Negara Finlandia, alasannya karena disana tidak ada anak yang tidak naik kelas. Sementara di Jepang, lanjutnya, yang kurang pintar adalah gurunya. Alasannya, guru lah yang memohon kepada murid agar tekun belajar. Dan setelah muridnya berhasil, barulah si guru dikatakan pintar.
“Mari ubah paradigma kita yang menganggap yang pintar adalah anak yang masuk sekolah negeri. Atau anak yang pintar matematika dan logika. Anak yang pintar menyantuni dan peminta maaf, juga memiliki kecerdasan emosional yang pasti jadi anak berguna. Katakan dia punya rangking satu karena taat pada Allah,” ajak Neno Warisman.
Usai seminar, kepada media ini, Ketua Iwaba Nining Causa Iman berujar, ini kali pertama Iwaba bekerja sama dengan BMH. Dan kemarin, selain seminar, juga dilaunchingkan Kencleng Pendidikan Donatur Cilik BMH. Dikatakan Nining, sebelum kencleng ini dilaunchingkan, puteranya telah mensedeqahkan sebagian uang jajannya ke dalam kencleng itu. Kemudian saat penuh kencleng tersebut dikembalikan ke BMH untuk kepentingan sosial.
“Ini pertama kalinya Iwaba kerja sama dengan BMH. Moga-moga seminar ini jadi agenda tahunan kita yang tiap tahunnya. Tentu saja dengan tema yang berbeda,” imbuh Nining didampingi suami, Kepala Cabang Bank Indonesia (BI) Balikpapan Causa Iman Karana.(*)






Jumat, Juli 25, 2008

Renungan di Hari Anak Nasional


Tanggal 23 Juli adalah hari anak nasional. Di usianya, anak seharusnya menghabiskan sebagian besar waktunya belajar di sekolah serta bermain. Nyatanya di Kota Minyak sekalipun, masih banyak anak yang harus bekerja karena tuntutan ekonomi.

Selasa (22/7) pagi suasana Balikpapan berselimut mendung setelah hujan semalam suntuk. Sama seperti beberapa hari sebelumnya akhir-akhir ini. Melongok aktivitas kota Balikpapan diatas dua roda, di simpang empat lampu merah Balikpapan Baru, terlihat segerombolan anak-anak berpakaian lusuh dengan menggendong tumpukan koran. Kulit anak-anak itu berwarna gelap akibat seringnya menantang panas matahari. Rambut mereka tak ubahnya seperti rambut jagung yang kasar dan berwarna kecoklat-coklatan, dan tentu saja merupakan dampak dari penerang langit di siang hari.

Setelah sandarkan motor, yang tidak jauh dari simpang lampu merah, aku mencoba mendekati seorang diantara segerombolan anak-anak penjaja koran. Akibat sejumlah tanda tanya muncul di benak. Apa mereka masih bersekolah, ataukah sudah berhenti. Kenapa diusia belia mereka memilih kerja daripada bermain dan belajar. Seperti apa sih suka duka jadi pekerja anak. Seorang anak itu yang kemudian diketahui bernama Samuk, dengan terbuka menerima kehadiranku. Tentu saja setelah memperkenalkan diri dan menceritakan maksud dan tujuan.

Agak sulit lakukan komunikasi denganya. Matanya terkadang berputar kanan dan kekiri yang sepertinya mencari-cari jika saja ada yang memanggil dirinya untuk beli koran. Sesekali, Asmuk berlalu dari media ini manakala lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Satu persatu kendaraan yang berjejer itu ia tawarkan koran dengan menunjukkan halaman utama bagian atas, tetapi korannya dilipat dua sebelumnya, agar lebih mudah digenggam. Sesekali juga ia lari menyeberang jalan, manakala terlihat kendaraan dari seberang sana melambaikan tangan kepadanya. Yang ternyata pemilik kendaraan itu juga berniat membeli koran.

“Aku berenti sekolah pas naik kelas empat SD. Karena ga ada biaya bu,“ ucap anak berusia 13 tahun ini setelah sebelumnya aku mengajaknya menepi disalah satu sudut jalan.

Jual koran sejak dua tahun lalu, tidak jarang ia dan teman-temannya dikejar-kejar Satpol-PP saat gelar razia. Akibat ketakutan luar biasa, kaki berasalkan sendal jepit yang mulai usang itu pun lari menjauh. Sekencang-kencangnya, kemudian sembunyi dibalik rerimbunan pohon yang dia yakini tidak akan bisa ditemukan keberadaannya. Dan keesokan harinya, putera pasangan Lapinggiri dan Warima ini masih tetap jual koran seperti biasa, yakni mulai pukul 07.00 hingga 12.00 Wita.

Demam tinggi pernah ia rasakan, akibat tubuh cekingnya tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Sakit itu menuntun si bungsu dari lima bersaudara ini istirahat selama hampir satu minggu di rumah dan tidak bisa menyetor pendapatan yang biasa ia peroleh mulai Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu perharinya kepada orangtua. Dengan demikian, ia harus istirahat beberapa waktu dari membantu si ayah yang mencari nafkah sebagai buruh bangunan. Sementara ibu hanya sebagai ibu rumah tangga.

Selang beberapa waktu, seorang bocah yang nyata terlihat jauh lebih muda dari Samuk menghampiri dan sepertinya tertarik melihat perbincangan ini. Digendongannya terlihat masih bertumpuk koran-koran. Sepertinya ia baru saja tiba dan akan mulai berjualan koran.

“Ini bu. Masih sekolah. Namanya Mardin,“ tunjuk Samuk kemudian di sambut dengan senyum kecil bocah plontos itu.

Mardin, bocah plontos usia 9 tahun ini mengaku pulang cepat hari itu. sehingga ia bisa ikut jual koran lebih pagi dari biasanya. Mardin tergolong baru bergabung sebagai penjual koran, yakni saat libur kenaikan kelas beberapa waktu lalu. Jual koran pun ia mengakui lantaran di minta oleh ibunya untuk membant si ayah yang kerjanya sebagai buruh bangunan.

“Biar jual koran, aku ga pernah ngantuk di kelas,“ aku pemain olahraga futsal di SDN 013 Gunung Bakaran.

Karena postur tubuh yang mungil, tidak jarang pembeli koran milik mardin ini tidak meminta uang kembalian. Mungkin karena rasa iba melihat anak semuda itu harus ikut menopang hidup keluarga. Padahal Mardin masih punya tugas yang lebih penting lagi, yaitu belajar. Karena ia adalah calon pemimpin bangsa yang dipundaknya lah negara ini akan bersandar. (*)

Sabtu, Juni 14, 2008

Tunas Bangsa: Asmawati dan Arif, Rajin Belajar biar gampang cari kerja.

Penyakit dan Usia Bukan Alasan

Arif dan Asmawati, murid Asah Pena

Dalam dunia pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik.

Motivasi mengikuti proses pembelajaran demi meraih harapan dan cita-cita juga dirasakan oleh sejumlah anak usia sekolah yang berlatar belakang keluarga sederhana, bahkan kurang mampu. Keinginan besar mereka untuk memajukan taraf hidup ke arah lebih baik, mengalahkan rasa malu yang sesungguhnya melekat dalam diri mereka akibat faktor ekonomi ataupun usia. Satu yang mereka yakini, adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Mereka adalah M Arif dan Asmawati, masing-masing berusia 16 tahun dan 19 tahun. Keduanya adalah murid kelas 3 SMP Asah Pena Mawar 9 Balikpapan dan menetap di Kampung Ajiraden RT 6 Kelurahan Lamaru.

Arif-sapaan akrab M Arif,ia sempat merasakan bangku sekolah di sekolah formal. Sayangnya, akibat penyakit yang ia derita, si bungsu ini terpaksa putus sekolah dan menghabiskan waktu di rumah hanya sekedar membantu ibu di dapur. Saat resmi putus sekolah, sebenarnya Arif ingin bantu bapak ikut mencari ikan di laut, tetapi karena fisik, si bapak yang bekerja sebagai nelayan ini pun tidak mengijinkan.

“Dulu saya sempat merasakan duduk di bangku sekolah SMP. Saat pelajaran olahraga, penyakit jantung saya sering kambuh dan terkadang pingsan. Karena kasihan, bapak nyuruh saya istirahat di rumah, sekalian bantu ibu juga. Saya terpaksa putus sekolah,” pelan Arif menjelaskan saat ditemui media ini di kediamannya belum lama ini.

Sama halnya dengan Asmawati. Di lokasi yang sama, Remaja yang kini tinggal bersama si tante ini juga mengalami putus sekolah saat di bangku SMP akibat sakit anemia yang dideritanya. Dalam kesehariannya sebelum masuk Asah Pena, Asmawati membantu om dan tantenya yang bekerja sebagai penjemur ikan.

Suprapto, Koordinator Asah Pena wilayah Balikpapan Timur mengatakan M Arif dan Asmawati, keduanya adalah murid Asah Pena yang selalu terlihat serius dan tekun dalam belajar. “Saya lihat, semangat Arif dan Asmawati dalam belajar bukan main-main. Saya yakin jika mereka terus giat belajar ditambah lagi motivasi dari kerabat mereka, saya yakin mereka bisa menjadi orang yang berhasil. Sekolah di Asah Pena ini atas kemauan mereka sendiri, tanpa paksaan dari siapapun,” pungkas Wakil Kepala Sekolah SMPN 8 ini.(*)

Senin, Mei 26, 2008

“Kita Ini Tikus Mati di Lumbung”

by: Imay Sembiring

KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) tak bisa dihindari lagi. Harga minyak dunia yang kini menyentuh level USD 120 per barrel menjadi penyebab utamanya. Sejumlah pengamat ekonomi menyatakan dukungannya, dengan alasan untuk mengurangi beban APBN. Tetapi pernahkah terfikir yang bakal terjadi dengan kaum dhuafa? Yang begitu kesulitan dalam menafkahi keluarganya? Bukan tidak mungkin akibat mahalnya kebutuhan pokok karena mengikuti kenaikan BBM ini, mereka melakukan segala cara demi. Salah satunya adalah berbuat kriminal.

Seorang terapis di klinik anak berkebutuhan, Nuria Amalianti dengan tegas mengatakan tingkat kriminalitas akibat melonjaknya BBM akan semakin meningkat. Menurutnya, dengan naiknya BBM dibarengi harga kebutuhan yang tinggi, rakyat kecil pun akan merasa terdesak dengan kebutuhan. Sejumlah masyarakat Balikpapan pun angkat bicara.

“Masyarakat, khususnya rakyat kecil pasti tidak bisa lagi berfikir secara sehat, karena kebutuhan hidup yang semakin terdesak. Mau tidak mau, mereka harus melakukan perbuatan yang melanggar hukum seperti mencuri bahkan sampai nekat melakukan pembunuhan demi memenuhi yang kebutuhanya yang semakin sulit dicari,” tegasnya.

“Cari uang tidak gampang. Dan sekuat-kuatnya iman orang kalau terdesak, ia akan nekat melakukan apa saja. Ini yang seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah sebelum menaikkan BBM,” tegasnya lagi.

Pernyataan berbeda, diutarakan Rikha Oktavian. Costumer service Indovision ini mengatakan, jika seandainya kenaikan kebutuhan primer masyarakat juga dibarengi dengan peningkatan tunjangan kerja, angka kriminalitas tidak akan meningkat.

“Saat BBM belum naik, kebutuhan yang lain sudah pasti ikut naik. Kalaupun sekarang di protes, kira-kira di dengar nggak? Kenyataannya surat keputusannya sudah diturunkan. Lebih baik perusahaan membuat kebijakan dengan menaikkan UMR para pekerjanya, agar seimbang. Sehingga mengurangi angka kriminalitas,” katanya.

Satu contoh, lanjut Rikha, di kota Malang, angka kriminalitasnya cukup tinggi. Ini dikarenakan UMR di kota itu hanya Rp 700 ribu. Saking minimnya pemasukan dan tingginya harga kebutuhan pokok, mereka terpaksa mencari sampingan lain.

“Sampingan lainnya itu ya mencuri, Mbak. Saat ini kita ibarat tikus mati di lumbung padi,” pungkasnya.

Melihat TPS Yang Unik


Melihat TPS 009 Batu Ampar Yang Unik

by: Imay Sembiring

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 Wita. Udara pagi itu cukup terasa dan terlihat mendukung moment besar tersebut. Beberapa warga di lingkungan RT 11 Batu Ampar tampak berjalan kaki menuju lokasi TPS 009. Tetapi ada juga di antara mereka yang menggunakan sepeda motor.
Tidak sulit menemukan lokasi TPS itu. Hanya butuh waktu dengan berjalan kaki sekira 15 menit dari Kelurahan Batu Ampar. Atau, tidak lebih dari 30 meter masuk ke lokasi TPS dari gapura RT 11 Batu Ampar.
Sebuah bangunan tradisional tampak berdiri kokoh dengan tanaman hias gantung yang memanfaatkan media pot, yang terbuat dari botol plastik di sekitarnya. Dari arsitekturnya, bangunan menyerupai pendopo yang disanggah dengan bambu kuning beratapkan nipah. Ada juga dua bilik yang masing sekira 1 M x 1 M, yang bangunannya juga terdiri dari bambu dan nipah yang dirangkai sendiri oleh warga sekitar. Ada taman dan kolam mini berisikan ikan hias, berikut air mancur didepannya. Tampak beruang madu sedang bergantung manja di salah satu bambu yang ada di taman itu.

Selain TPSnya yang terkesan istimewa, keunikan lain juga terjadi pada seragam yang digunakan tujuh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Untuk melakukan tugas-tugasnya itu, panitia yang dikoordinir oleh Ketua RT 11 Bambang Kustiantoro, mereka tidak mengenakan seragam formal, melainkan pakaian tradisional. Seperti pakaian adat Aceh, Jawa, Batak dan Toraja, menjadikan suasana TPS menjadi terkesan lebih familiar. Suasana kedaerahan dengan multi etnis tergambar jelas di RT peraih juara 3 Lomba taman lingkungan gelaran Post Metro Balikpapan beberapa waktu lalu tersebut.

Terlihat pula beberapa warga yang datang untuk mencoblos tersenyum melihat dekorasi TPS dan para petugas KPPSnya. Ada yang mengatakan “Wah, seperti suasana kampung ya, apalagi dengan iringan musik gamelan seperti ini. Jadi ingat suasana pedesaan”, ucap salah satu calon pemilih. Mendengar itu, para petugas pun membalas dengan senyum ramah.

“Ide memakai pakaian adat ini tercetus atas usul warga RT 11 juga RT 12, karena kita ini gabung. Ini juga untuk membuat pelaksanaan Pilkada tahun ini meriah dan berkesan,” kata Ketua TPS Bambang diwakili Ketua RT 12 Ardi usai rapat penghitungan suara.

Dari 510 data pemilih yang ada pada panitia, sebanyak 268 orang yang hadir untuk memenuhi undangan. Dan berdasarkan perolehan suara, berdasarkan nomor urut adalah AFI sebanyak 59 suara, Nusa Hebat sebanyak 97 suara, Ampera sebanyak 61 suara dan Julu sebanyak 41 suara. Sementara itu, terdapat 10 kertas suara yang dinyatakan rusak. (*)

Minggu, Mei 25, 2008

Ternak Burung Yang Dilindungi, Burung Lomba Wajib Pakai Gelang

By: Imay Sembiring

Sangkin hobi berat dengan hewan ungas jenis burung, HM Sidik, Kepala Sekolah SD PD I Balikpapan pun membuka ternak khusus burung cucak rowo kalimantan di samping kediamannya di kawasan Muara rapak. Agrobis dibidang burung ini sudah ditekuninya sejak 1,5 tahun lamanya. Dan karena usaha ini terlihat cukup menjanjikan, dia pun berencana untuk menambah satu koleksi lagi untuk diternakkan. Dan saat ini ia telah memiliki tiga ekor murai medan dan dua diantaranya adalah sepasang.

“Selain cucak rowo, jika usaha ini berjalan mulus, kedepannya saya akan ternak murai medan,” ujar Sidik.

Dikatakan, cucak rowo dan murai medan, keduanya tergolong hewan yang dilindungi karena keberadaannya kini hampir punah.

“cucak rowo kalimantan dan Murai medan adalah burung langka. Ikut melestarikan kedua burung tersebut, maka saya memilih bisnis ini,” paparnya.

Dikatakan, saat ini sepasang murai medan usia 4 minggu dihargai Rp 1 juta. Jika di beli terpisah, harga murai jantan dan betina masing-masing adalah Rp 750 ribu dan Rp 500 ribu.

Berdasarkan kebijakan Ikatan Burung Indonesia (IBI), kini burung siap lomba wajib mengenakan gelang. Bagi burung yang tidak memakai gelang, tidak diperkenankan mengikuti kontes kicau burung. Menurut penuturan Sidik, gelang itu sebagai tanda bahwa burung yang dilombakan adalah hasil ternak, buka dari hutan.

“Kalau tidak pakai gelang, dianggap burung itu diambil dari hutan. Demi menjaga populasi burung di hutan, maka dibuatlah kebijakan ini. Tetapi sayangnya banyak yang belum mengetahui hal ini,” ungkap Sidik sambil memperlihatkan gelang yang dimaksud pada salah satu murai medan miliknya.

Bagi Sidik, untuk mempermudah ia dalam membedakan burung betina dan jantan, adalah melalui nomor dan posisi gelang burung tersebut.

“Kalau betina angkanya genap dan saya pakaikan di kaki kiri. Kalau jantan sebaliknya, angka ganjil dan saya pasangkan di kaki kanan burung itu. Layaknya perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki sebelah kiri,” pungkasnya tersenyum. (*)

Sabtu, Mei 24, 2008

asah pena

Penyakit dan Usia Bukan Alasan
Arif dan Asmawati, murid Asah Pena

Imay Sembiring

BALIKPAPAN — Dalam dunia pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik.

Motivasi mengikuti proses pembelajaran demi meraih harapan dan cita-cita juga dirasakan oleh sejumlah anak usia sekolah yang berlatar belakang keluarga sederhana, bahkan kurang mampu. Keinginan besar mereka untuk memajukan taraf hidup ke arah lebih baik, mengalahkan rasa malu yang sesungguhnya melekat dalam diri mereka akibat faktor ekonomi ataupun usia. Satu yang mereka yakini, adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Mereka adalah M Arif dan Asmawati, masing-masing berusia 16 tahun dan 19 tahun. Keduanya adalah murid kelas 3 SMP Asah Pena Mawar 9 Balikpapan dan menetap di Kampung Ajiraden RT 6 Kelurahan Lamaru.

Arif-sapaan akrab M Arif,ia sempat merasakan bangku sekolah di sekolah formal. Sayangnya, akibat penyakit yang ia derita, si bungsu ini terpaksa putus sekolah dan menghabiskan waktu di rumah hanya sekedar membantu ibu di dapur. Saat resmi putus sekolah, sebenarnya Arif ingin bantu bapak ikut mencari ikan di laut, tetapi karena fisik, si bapak yang bekerja sebagai nelayan ini pun tidak mengijinkan.

“Dulu saya sempat merasakan duduk di bangku sekolah SMP. Saat pelajaran olahraga, penyakit jantung saya sering kambuh dan terkadang pingsan. Karena kasihan, bapak nyuruh saya istirahat di rumah, sekalian bantu ibu juga. Saya terpaksa putus sekolah,” pelan Arif menjelaskan saat ditemui media ini di kediamannya belum lama ini.

Sama halnya dengan Asmawati. Di lokasi yang sama, Remaja yang kini tinggal bersama si tante ini juga mengalami putus sekolah saat di bangku SMP akibat sakit anemia yang dideritanya. Dalam kesehariannya sebelum masuk Asah Pena, Asmawati membantu om dan tantenya yang bekerja sebagai penjemur ikan.

Suprapto, Koordinator Asah Pena wilayah Balikpapan Timur mengatakan M Arif dan Asmawati, keduanya adalah murid Asah Pena yang selalu terlihat serius dan tekun dalam belajar. “Saya lihat, semangat Arif dan Asmawati dalam belajar bukan main-main. Saya yakin jika mereka terus giat belajar ditambah lagi motivasi dari kerabat mereka, saya yakin mereka bisa menjadi orang yang berhasil. Sekolah di Asah Pena ini atas kemauan mereka sendiri, tanpa paksaan dari siapapun,” pungkas Wakil Kepala Sekolah SMPN 8 ini.