Tampilkan postingan dengan label feature global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature global. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 19, 2009

pak tani padi

Dihadiahi Hand Tractor, Petani Diundang ke Rumjab Wawali
Gapoktan “Tani Makmur” Karang Joang Panen Padi Perdana

KAMIS (9/10/08), merupakan hari bersejarah bagi empat kelompok tani Karang Joang yang tergabung dalam Gapoktan “Tani Makmur“. Hari itu merupakan panen perdana padi mereka yang juga dihadiri Wakil Wali Kota (Wawali) Balikpapan H Rizal Effendi SE.

Pagi itu, hujan deras membasahi bumi kota Minyak. Namun tidak menyurutkan rencana yang sudah disusun matang oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wilayah Utara khususnya Karang Joang untuk melakukan panen padi perdana secara simbolis. Yang rencananya panen simbolis itu dilakukan oleh Wakil Walikota Balikpapan H Rizal Effendi SE.

Perhelatan bertempat KM 12, tidak jauh dari Waduk Manggar itu, dikemas secara sederhana. Di tengah hamparan sawah, yang ukurannya tidak terlalu luas itu diatapi dengan terpal. Dibawahnya berjejer seadanya kursi plastik yang berhadapan dengan meja sepanjang dua meter di bagian tengah. Bukan hidangan mewah tersaji di atasnya. Hanya ada jagung rebus, singkong rebus, kedelai rebus dan buah pepaya yang membuat semua yang hadir disana tidak mampu berhenti mengunyah. Terlebih cuaca yang cukup membuat tubuh menggigil lantaran hujan.

Pukul 09.30 Wita, hujan masih mengguyur. Ketua Gapoktan “Tani Makmur” Ir Agus Basuki menyampaikan sambutannya. Disitu telah hadir Wawali, Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Kota Balikpapan Ir H Chaidar Chairulsyah, Kasubdin Tanaman Pangan Ir Heria Prisni, Camat Balikpapan Utara (Balut) Sugianto SSos Map, Lurah Karang Joang Djamhari, perwakilan dari BPS, RT setempat dan puluhan petani padi diwilayah tersebut.

Agus menyampaikan, bertanam padi adalah dalam rangka mendukung program pemerintah untuk Peningkatkan Produksi Beras Nasional (P2BN) sebanyak dua Ton. Sehingga Gapoktan “Tani Makmur” yang berada di Kelurahan Karang Joang mengembangkan penanaman padi di sawah. Mengingat pula telah dialokasikan dana pertanian sebesar Rp 450 juta dari APBN 2008 dengan target 100 Ha, petani padi Karang Joang mengambilnya sebanyak 30,5 Ha untuk padi sawah dan 20 Ha lagi untuk padi gunung atau ladang.

“Tapi saat ini kita hanya padi sawah. Padi ladang rencananya November yang rencananya di daerah sektor waduk manggar,” terangnya.

Agus mewakili para petani juga menyampaikan sejumlah harapan. Perbaikan infrastruktur/akses jalan dari lokasi persawahan sehingga melancarkan proses pengangkutan hasil pertanian. Pun diharapkan perbaikan saluran irigasi yang kini buntu akibat pembuatan jalan dalam kegiatan peninggian waduk manggar. Pengadaan mesin penggiling pun juga menjadi harapan utama mereka dengan asumsi bahwa produksi rata-rata per Ha empat Ton Gabah Kering Giling (GKG). Maka diperkirakan akan ada produksi gabah sekira 200 Ton.

“Mudah-mudahan petani akan terus berkarya dan terus maju dengan motto “Petani Makmur. Dan ini tidak bisa berkembang tanpa dukungan dari berbagai pihak,“ ucapnya seraya tersenyum.

Sementara itu, Kadis Pertanian Chaidar Chairulsyah menyampaikan apresiasi besarnya dengan kinerja “Tani Makmur” ini. Dan sebagai bentuk dukungan itu, Chaidar berjanji akan menghadiahkan masing-masing satu unit hand tractor dan power threser untuk semakin menyemangati para petani padi itu. Dengan harapan wilayah itu menjadi rancangan percetakan sawah supaya optimal hasilnya.

“Nanti mesinnya kita serahkan ke kelompok tani. Sekarang belum bisa karena masih dalam proses tender. Semoga dengan ini bisa meningkatkan kesejahteraan,“ harap Chaidar.

Sebelum seluruh yang hadir benar-benar turun ke sawah untuk memanen padi, Wawali pun didaulat untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Rizal mengaku kagum karena sangat jarang bisa menjumpai persawahan di daerah kota. Selain itu, dengan bertani padi juga membantu kelangkaan beras di Balikpapan. Juga masyarakat Balikpapan tidak perlu lagi membeli beras dari luar karena pasokan beras dari Kota Minyak sudah benar-benar mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Balikpapan.

“Saya mengundang para petani bertandang ke rumah jabatan wawali. Disana nanti kita akan buat pasa (13 okt)

salam tempel

Supaya Lebih Sopan, Anak-anak Tambah Semangat Bertamu Tradisi Angpau dan Ornamen Pintu saat Lebaran Idul Fitri

TRADISI memberikan uang receh bagi anak kecil yang berkunjung ke rumah saat lebaran Idul Fitri bukan hal yang baru bagi masyarakat Kota Minyak. Hanya saja budaya itu kini dikemas lebih rapi sama seperti tradisi masyarakat Tionghoa saat perayaan Imlek. Uang dimasukkan dalam amplop mungil yang dikenal dengan sebutan angpau.

Mengemas uang receh biasanya pecahan Rp 1.000, Rp 5.000, Rp 10.000, walaupun ada yang sampai Rp 50.000 bahkan Rp 100.000 per anak. Dulunya uang receh itu begitu saja diserahkan, biasanya ketika si bocah hendak berpamitan setelah menikmati jajanan lebaran. Namanya juga anak-anak, kalau tahu uang yang diberi pemilik rumah tergolong besar, pasti ada saja yang nakal dengan kembali berkunjung ke rumah yang bersangkutan.

Berburu angpau dilakukan lebih sering dilakukan anak-anak secara berjamaah. Tidak ada penunjukkan langsung siapa yang jadi pemimpin, namun ada saja anak yang dijadikan panutan sekaligus penunjuk jalan mana saja rumah yang angpaunya hendak diserbu.

Dengan munculnya angpau lebaran Idul Fitri, bocah-bocah lebih bersemangat untuk bersilaturahim walaupun tujuan utamanya ya angpau itu, atau mengantongi kue lebaran yang dianggap paling lezat serta minuman kaleng.

“Bapak kan anak tertua. Jadi kalau lebaran hari pertama pada ngumpul di rumah semua,” kata Lina, warga RT 04 Karang Jati yang baru saja membeli angpau lebaran.

Lina memborong dua plastik angpau Idul Fitri. Setiap paket isinya bisa lima sampai 10 angpau. Selain lebih praktis, angpau lebaran lebih terlihat sopan ketika akan diserahkan kepada anak-anak. Kesannya itu bukan seperti tamu datang kemudian diberi uang. “Biar lebih sopan saja, lagi pula amplopnya menarik, masih bisa disimpan buat kenang-kenangan,” kata Lina yang tercatat sebagai mahasiswi Politeknik Samarinda

Ukuran, bahan dan model amplop versi Idul Fitri sama seperti amplop untuk Imlek. Hanya saja, kalau amplop angpau Imlek ini hanya ada satu warna yakni merah dengan ukiran huruf kanji di atasnya. Ada juga gambar sepasang tokoh kartun, dengan mata sipit yang mengenakan baju Shanghai. Tokoh kartun wanita, rambutnya dikepang dua yang disertai sanggul berbalut kain merah, sementara kartun pria mengenakan penutup kepala menyerupai lobe dengan kunciran rambut yang panjang dibelakangnya. Kedua tangan kartun ini terkatup didepan dada seolah mengucapkan “Gong Tzi Fat Choy“.

Untuk versi Idul Fitri, terdapat aneka warna pilihan. Diantaranya merah, putih dan hijau. Motifnya pun beragam. Ada gambar masjid, ketupat dan orang yang sedang bersalaman dengan mengenakan busana muslim. Ada juga amplop dengan motif sedikit kekanak-kanakan, seperti gambar kartun yang lucu. Tapi tetap tidak meninggalkan suasana yang oleh umat muslim di Indonesia menyebutnya Lebaran. Karena disetiap amplop terdapat tulisan Selamat Idul Fitri, Minal Aizin Wal Faizin atau Mohon Maaf Lahir Batin.

Selain angpau lebaran, ada pula tradisi lain yang diadopsi yakni ornamen buat dipajang di pintu. Saat perayaan Natal, ornamen yang biasa dipasang di pintu berupa tokoh Sinterklas, bunga berbentuk bulat dan lainnya. Sementara ornamen pintu untuk lebaran Idul Fitri berbentuk masjid, ketupat, serta ucapan mohon maaf lahir dan batin.

“Harga angpau lebarannya murah kok, cuma Rp 3.000 per plastik, isinya 10 amplop. Kalau ornamen pintu, ada yang Rp 25 ribu, Rp 35 ribu tergantung bentuknya,” ujar seorang penjual di kawasan Damai.

Penjaga toko UD Adi Jaya, Anis mengatakan, jelang lebaran seperti sekarang, angpau Idul Fitri di tempatnya terjual sebanyak 500 amplop. “Rata-rata yang beli dari kalangan muda,” sebutnya.(*)


liat museum perang yukz

Murid SMP Diajari Nembak, Murid TK Nonton Film Latihan Perang

WIH, keren. Kini di Kota Beriman telah hadir museum perjuangan yang berlokasi di Rumah Jabatan (Rumjab) Kepala Hukum Kodam

VI/Tanjungpura. Mau lihat beragam atribut militer, senjata, granat tangan, dan seputar perlengkapan militer lainnya. Mau belajar menembak bisa juga loh atau nonton film latihan perang.

Museum Tanjungpura ini kemarin secara resmi dibuka untuk masyarakat umum oleh Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI Tono Suratman. Launching museum ditandai dengan kunjungan pelajar dan murid TK di lingkungan Yayasan Kartika.

“Aku kalau udah gede mau jadi tentara,” seru seorang bocah TK yang mengenakan seragam tentara lengkap dengan pangkat dan sempritan di lengan kanan.

Keliling melihat koleksi museum Tanjungpura tak hanya menciptakan kekaguman akan kekuatan militer Tanjungpura. Semangat juang dan rasa patriotik bangsa langsung bergelora. “Masuk museum gratis dan ini terbuka bagi masyarakat umum. Silakan bagi mereka yang ingin berkunjung, museum kami buka mulai pukul 09.00 hingga 15.00 setiap Senin hingga Jumat,” ungkap Kepala Museum Tanjungpura, Capten Chb Sartono yang juga Bintal Kodam VI/Tanjungpura.

Di ruang tengah museum, berjejer rapi aneka jenis senjata api, peluru serta alat komunikasi yang digunakan selama jajaran Kodam VI/Tanjungpura melakukan operasi menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Koleksi senjata api misalkan, tersimpan rapi dalam lemari kaca senjata kaliber 45 yang digunakan fretilin yang berhasil dirampas oleh anggota Yonif 621/MTG saat operasi Timtim tahun 1978. Sedangkan amunisi, diantaranya kaliber 12,7 milimeter. Jenis amunisi ini untuk senjata mesin berat Browning 50 HBFL yang digunakan oleh pasukan Yonif 611 Awang Long saat operasi Seroja di Timor-Timur tahun 1988.

Tak hanya peluru dan senjata api, terompet yang digunakan saat pemakaman prajurit yang gugur di daerah operasi dan sangkakala yang digunakan pada tahun 1964 juga terpampang di satu lorong. Bulu kuduk agak sedikit berdiri ketika tak jauh dari lorong tadi terdapat prasasti bertuliskan nama sejumlah prajurit yang gugur saat operasi mulai 1957 hingga 2005. Foto-foto pangdam dan Kasdam sebelum reorganisasi juga tersusun rapi di satu lemari kaca yang terkunci rapat semakin menambah rasa kecintaan akan kekuatan militer di tanah air. Sementara di luar bangunan museum, terpajang dua meriam asal negara Inggris dan Australia yang dioperasikan tahun 1942.

“Kalau nanti ramai pengunjung atau ada yang datang rombongan, bisa kita putarkan film dokumenter latihan tempur. Kita juga siapkan lapangan latihan tembak. Nanti menembaknya pakai senapan angin,“ jelas Sartono.

Dikatakan, tujuan mendirikan museum, untuk menggugah kembali semangat bangsa Indonesia untuk mencintai tanah air. Juga mengenang sejarah pendahulu yang berjuang mendirikan negara Indonesia. Sasaran utama adalah kalangan pelajar dengan harapan mampu menumbuhkan rasa cintanya kepada tanah air.(*)



Selasa, November 25, 2008

Jawara Administrasi RT Tk Kota 2008


Tegen dan Misto menunjukkan penghargaan sebagai jawara lomba administrasi tk kota balikpapan 2008

Swadaya Beli Komputer, Bangun Balai Serbaguna
Kiat RT 33 Menjadi Jawara Administrasi

PANTASLAH RT 33 Kelurahan Sumber Rejo Balikpapan Tengah (Balteng) meraih peringkat pertama, dalam lomba administrasi RT tingkat kota tahun 2008. Upaya yang dilakukan ketua RT yang kala itu masih dijabat oleh Misto beserta msyarakat sungguh maksimal. Bagaimana tidak. Secara swadaya RT yang dihuni 102 Kepala Keluarga (KK) membeli seperangkat komputer dan mendirikan balai serbaguna. Dibalai serbaguna itulah, komputer diletakkan disana untuk entry data. Dibalai itu juga rutin kegiatan posyandu dan periksa kesehatan lansia, disamping rapat pengurus.
"Pembenahan administrasi ini juga, saya hanya meneruskan semasa RT ini dipegang pak Tegun. Dan semua upaya ini juga tidak terlepas dari bantuan masyarakat setempat," kelakar Sumito pada Selasa (25/11).
Untuk diketahui Misto menjabat sebagai Ketua RT 33 pada 2005-2008. Dan sejak Juli 2008-2011, RT 33 dibina oleh H Sumarlan Tegen. Beliau jugalah yang menjabat sebagai ketua RT 3 periode berturut-turut, kemudian digantikan Misto. Dan kini, Tegen kembali dipercayai warga untuk membina RT seluas kurang lebih 1 ha tersebut.
Menjumpai Misto di balai serbaguna, didampingi Tegen dirinya mengatakan yang menjadi kriteria penilaian dalam lomba, bukan semata administrasi RT terkait luas wilayah, penduduk, surat menyurat dan biaya-biaya. Kata Misto, penilaian juga terkait administrasi posyandu, siskamling dan lingkungan. Dan saat itu tim penilai diantaranya dari unsur Polresta dan Pemkot Balikpapan.
"Disini kalau ada kegiatan, pasti langsung dicatat. Kematian, kedatangan, sumbangan dari luar dan swadaya masyarakat. Dan saat penilaian itu, semua seksi-seksi ditanyain sama tim penilai," ujar Misto.
Disamping piagam dan piala, Selaku sang jawara administrasi tingkat kota, RT 33 telah mengantongi uang pembinaan sebesar Rp 17,5 juta. Dan hadiah itu telah diserahkan langsung oleh Wali Kota Balikpapan H Imdaad Hamid SE di dome pada Minggu (23/11). Akan dimanfaatkan untuk apakah dana itu? Tegen melanjutkan, sebagai ketua RT 33, dirinya berencana memanfaatkan hadiah itu untuk seragam ibu-ibu PKK, membeli mesin perintis dan menggerakkan cleen green heality (CGH). Tegen menuturkan, di lingkungannya masih ada lahan kosong. Rerumputan disana akan dirintis, kemudian ditanami apotik hidup atau toga dan sayur-sayuran.
"Sebenarnya kita untuk CGH juara 3 tingkat kelurahan. Dan ini akan kita gerakkn lagi. Tapi tujuan utama dari ini semua bukan semata juara. Kita ingin merangsang rasa sadar akan kebersihan, kesehatan dan semangat gotong royong kepada masyarakat," pungkasnya.(*)




latihan jurnalistik


beginilah gaya priyambodo saat memberi pembekalan

 
“Sikat Sampai Licin, Kayak Kepala Kecoak"


PELATIHAN Jurnalistik media pers dan kehumasan digelar Humas Pemkot Balikpapan. Bertempat Aula Balaikota, pelatihan berlangsung sejak 25-26 November dan diikuti sedikitnya 50 peserta. Berikut isi dari pelatihan tersebut.


MATERI yang disuguhkan di hari pertama pelatihan, yakni Selasa (25/11) Peningkatan Cyber Media Jurnalistik. Sebagai pembicara Priyambodo RH Direktur Eksekutif lembaga pers Dr Soetomo (LPDS).
Priyambodo membocorkan bagaimana agar website kehumasan pemerintahan asik dan lebih interaktif. Ketika memiliki portal, penulisan dalam gaya blog biasa menggunakan bahasa formal dan dominan berisi saran. Kata dia, supaya menarik, baiknya jika disitus itu disisihkan kolom komentar. Karena situs itu official, sifatnya resmi, tetaplah mengacu kepada 5 W + 1 H (who what where when why + how). Tetapi libatkan juga apa nilai lebihnya.
“Saya ingat waktu kecil dulu. Bapak saya dari angkatan. Jadi saya disuruh sikat sepatunya. Sikat sampai licin, kayak kepala kecoa, kata bapak. Begitu juga dengan artikel atau berita. Kredibel dan kapabel. Agar beritanya dibaca orang berkualitas, buat konsep yang berbobot. Harus ada fakta, nara sumber dan back ground. Yang berbicara adalah orang yang punya hak semisal kepolisian untuk kasus kriminal dan saksi mata. Buka juga situs google sebagai penambah bahan,” ulasnya dan menambahkan panduan untuk kehumasan antara lain hindari ’benar sendiri’, kemukakan akurasi informal, manfaatkan ’off the record’ (hak ingkari nara sumber), manfaatkan Teknologi Informasi (IT), berkelakarlah secara kreatif dan yakinkan wartawan adalah mitra.
Pengajar di Galeri Fotografi Jurnalistik ANTARA (GFJA) juga menerangkan, dalam penulisan jangan langsung menggambarkan imajinasi, tetapi perhatikan dari segi pelayanan publiknya. Contoh, lanjut ayah tiga putri ini, saat kita membicarakan tentang lokasi wisata. Ceritakanlah proses perjalanannya, harus naik apa, berapa lama, ongkosnya berapa jika naik bis atau taxi. Bukan semata menuliskan eksoktik lokasi wisata itu sendiri. Dengan demikian, berita itu juga menyentuk untuk kepentingan publik, bukan semata mengangkat lokasi wisatanya saja.
Alumnus International Institute for Journalism (IIJ) di Berlin itu berbicara blak-blakan. Ia selalu serius dan cepat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta yang lebih didominasi oleh kehumasan yang bermitra dengan Pemkot Balikpapan. Diantaranya Telkomsel, Lanud, TV Beruang, Polresta, PT Angkasa Pura dan RS Bhayangkara.
Suami ATS Ernawati ini juga menyoroti kebebasan pers dalam menggali berita. Satu contoh, tentang kasus mutilasi. Ketika media terlalu menuliskan secara detail bagaimana si pelaku memotong komponen-komponen tubuh korban, bisa berpengaruh kepada selera publik. Cilakanya, ketika media terlalu menuliskan secara detail proses mutilasi, tidak sebanding dengan ulama dan polisi yang ada.
“Ada temuan pers agak amburadul atau kacau balau. Karena di Indonesia ada kultur wartawan adalah profesi yang terbuka. Kalau di luar negeri, wartawan tertutup. Mereka harus kursus jurnalistik, sehingga mengetahui kode etik, etika dan tatacara sebagai insan media pers. Sekarang berbalik. Seperti ahli kesehatan di rumah sakit, bukan dari sarjana kedokteran. Begitu juga dengan jurnalistik,“ ungkapnya.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Bidang Multimedia itu menyampaikan bahwa ketika berita dimuat dan disosialisasikan ke publik, itu sudah menjadi tanggungjawab redaksi bukan penulis. Stack holder supaya tidak terjadi kesalahpahaman penyalahgunaan. Ketika wartawan menggebu-gebu buat suatu berita, dan kebenaran redaktur juga sepaham dengan si wartawan sehingga tidak disaring dengan baik. Sementara itu bertolak dari apa informasi yang didapat dilapangan. Sebab itulah, pesan dia, kawan-kawan dari kehumasan menjalin hubungan baik dengan wartawan (insan pers). Buru-buru dia tambahkan, supaya tidak ada kesalahan persepsi, tidak ada salahnya memberi informasi melalui blog dengan bahasa formal.
Lepas daripada itu, kebijakan pengelolaan informasi berbasis internet perlu diterapkan kalangan humas, guna meningkatkan kinerjanya secara profesional. Sementara Teknologi Informasi (IT) dan sejumlah hal lainnya yang bersifat teknis, hanyalah alat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan penyebaran informasi. Sedangkan faktor kemanusiaan dan kecepatan mengendalikan gagasan untuk segera mempublikasikan adalah faktor utamanya. (*)



Senin, September 29, 2008

Suka Pakai Jilbab, Bocah Bersisik Hafal Doa Makan

Saat aku menyambangi rumah Hj Rohana, orangtua angkat Amanda di Gang Sepakat RT 47 Manggar, bocah bersisik itu sedang tidak di rumah. Amanda sedang asik bermain di rumah tetangga dan langsung pulang ke rumah saat Rohana berteriak memanggilnya dari jendela rumah dari jendela belakang.
Amanda sepertinya sedikit heran melihat ada banyak orang berdiri di teras rumahnya. Memang, kali ini Post Metro hadir bersama rombongan dari Badan Amil Zakat (BAZ) dan Bukit Damai Indah (BDI). Tujuannya adalah berbagi paket ceria dengan Amanda.
“Ma...mama... itu ada olang datang ma...,“ teriak Amanda saat tiba di rumah dan langsung masuk memanggil Rohana yang dianggapnya sebagai ibu kandungnya. Tentu saja setelah melepas kedua alas kakinya di depan pintu. Tergopoh-gopoh Rohana keluar dan mempersilakan rombongan ini masuk kekediamannya.
Amanda tampaknya semakin cerdas. Saat dimintai mengucapkan doa, dengan cepat ia mengucapkan doa makan. Lucu dan mengharukan. Ditengah kondisi fisik yang sedari lahir tanpa pori-pori kulit, ia dengan lancar mengucapkan doa, yang tentu saja sesuai ciri khas bocah usia tiga tahun.
“Allohumma baalik lanaa, fiima lozaqtanaa waqinaa adzabannaal...,“ ucap Amanda kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Sontak membuat semua yang hadir semakin merasa terharu dan kagum dengan Amanda.
“Ayo baca doa lagi. Coba baca doa mau tidur. Biar dapat hadiah dari ibu-ibunya,” rayu Rohanah yang duduk di samping Amanda.
Bocah yang terancam buta karena rentan mengalami iritasi mata itu sepertinya sangat menyayangi Rohana. Saat ditanya, dimana ibu kandungnya, dengan polos Amanda menjawab ibunya telah lari dengan orang. Dimana ayah, ditanya begitu, ia menjawab di penjara karena nakal. Rohana sendiri mengatakan, jika si ayah keluar dari tahanan, bocah itu enggan ikut ayah. Amanda juga tidak mau ikut dengan Ibunya yang telah tega meninggalkannya sedemikian lama.
“Sudah satu tahun ia tidak bertemu ibunya. Pernah ibunya nelpon katanya lagi di Penajam. Anaknya juga ga mau. Ya sudah lah, saya juga bisa menjaga Amanda,” ujar Rohana sembari tersenyum menatap Amanda.
Ekspresi dan raut wajah Amanda selalu datar. Ia tidak bisa tersenyum atau tertawa lebar. Karena memang kulitnya seperti beku dan kaku, sehingga sulit digerakkan oleh otot-otot urat saraf. Tapi dari sikap Amanda yang acuh menunjukan bahwa ia senang dikunjungi. Itu bisa dilihat dari tatapan kedua matanya.
Bisa juga perilaku riang Amanda karena ia baru saja dihadiahi Handphone (HP). Eits, bukan HP beneran, tapi mainan yang bentuknya menyerupai HP, dan bisa mengeluarkan melodi jika ditekan tombol-tombolnya. HP itu nyaris selalu tergantung di lehernya. Saat ditanya Amanda mau menghubungi siapa? Ia hanya menatap lugu media ini kemudian tersipu malu.
“Kira-kira satu minggu lalu saya ke DKK, terus dikasih obat dan uang untuk Amanda. Saya belikan mainan itu. Senang dia itu,“ ucap ibu yang sore itu berbalut daster panjang dengan rambut tertutup topi haji berwarna pink.
Keceriaan terpancar di kedua bola mata bocah mungil itu kembali terlihat saat Sinta, staf BAZ, menghadiahinya sepasang busana muslim. Busana itu berwarna soft pink. Amanda pun terlihat manis saat Sinta memasangkan jilbab kemudian merapatkan baju itu ke badan Amanda. Saat jilbab hendak dilepas, Amanda ngotot tidak mau melepasnya. Sepertinya ia menyukai hadiah itu. Padahal yang dikhawatirkan ia akan merasa gerah dan kepanasan karena kulitnya tidak mampu menyerap keringat.
“Telimakacih ya bu…,” ucap Amanda tersipu sambil terus memainkan ujung jilbab yang ia kenakan.
Disamping Paket Ceria Ramadan (PCR) dan busana muslim, Amanda juga mendapatkan santunan. Badrus staf BAZ, menyerahkan dana santunan itu lewat Rohanah. Ia menyampaikan dana santunan itu untuk menjaga kesehatan Amanda sembari menunggu saatnya Amanda diboyong ke Jakarta Eye Center (JEC) untuk mengoperasi kelopak mata. Operasi yang belum bisa dipastikan kapan, lantaran kulit paha Amanda yang rencananya dipakai untuk transpalasi kulit itu masih bersisik, sehingga tidak mungkin digunakan untuk kelopak mata. (*)








Puasanya Kaum Dhuafa di Kota Madinatul Iman

SEANDAINYA diminta memilih, Sanibah lebih memilih setiap bulan adalah bulan Ramadan. Menurut gakin RT 07 Batu Ampar ini, puasa atau tidak, lambungnya juga jarang terisi nasi. Selain keadan yang membuat demikian, lanjut usia (lansia) yang tercatat sebagai warga miskin (gakin) ini mendapati kelainan di tenggorokan jika menelan suatu jenis makanan yang tidak dapat diterima tenggorokannya.
Sanibah tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung minyak dan santan. Kalau pun ada tetangga yang mendermakan makanan yang mengandung dua hal diatas, Sanibah yang kini berusia 60 tahun itu sekadar mencicipi. Selebihnya dikonsumsi suaminya Laode (63) dan dua anak angkatnya Pardiansyah (16) dan Yuliani (7). Sanibah hanya mampu mengkonsumsi rebus-rebusan saja.
“Sama aja. Biar ga puasa sehari cuma sekali atau dua kali makan. Puasa aku makan pas sahur aja satu sendok. Trus minum air banyak. Kalau buka makan biasa, itu juga nasinya sedikit,“ tutur Sanibah.
Pada umumnya, menjelang buka puasa, umat muslim menyiapkan hidangan buka puasa yang menggiurkan. Apalagi mereka berasal dari kalangan elite, hidangan terbaik dengan ragam menu lah yang disajikan. Tentu saja sebagai gakin, menyajikan hidangan berbuka yang lezat hanya sebatas mimpi bagi Sanibah. Hanya cukup satu menu, nasi dan air putih aja. Sedikit berbeda lah dengan suami dan anak-anaknya. Terkadang mereka mencampur air putih dengan gula. Agar air terasa manis, dan tubuh tetap bertenaga karena kandungan koarbohidrat pada gula, sehingga tetap fit menjalankan ibadah puasa.
Kondisi Sanibah saat disanggong Post Metro kemarin, sudah lebih baik dibanding terakhir kali bertemu. Sekira satu setengah bulan yang lalu, lansia yang dikaruniai empat anak dan telah berkeluarga itu terlihat susah sekali berbicara. Suaranya berat dan terputus-putus. Terkadang hanya bisikan berat yang terdengar ketika ia hendak mengatakan sesuatu. Kini pemandangan itu berangsur-angsur membaik. Sejak lima hari lalu, lansia berdarah Bugis ini rutin minum jamu tradisional. Jamu itu diberikan oleh anak angkatnya yang menetap di Somber, yang tidak begitu jauh dari kediamannya.
Yang namanya jamu, pasti rasanya pahit dan tidak enak. Untuk Jamu Cap Putri Sakti dalam kemasan botol kaca satu liter, yakni jamu yang ia konsumsi ini, rasanya pahit dan agak sedikit pedas. Kendati setelah minum jamu yang berkhasiat mengobati asam urat dan rematik itu langsug disorong dengan air, tetap saja rasa pahit itu ada dan lama menghilang. Namun, lansia ini amat bersyukur karena gurah yang selama ini menganjal di kerongkongannya berangsur-angsur berkurang. Sehingga ia mulai terlihat enak berbicara.
“Aku minumnya sedikit aja. Seperempat gelas kecil dua kali sehari. Sejak minum ini sudah nak, sedikit enak ini tenggorokanku. Ini tinggal setengah lagi,“ kisahnya sembari menunjukkan jamu yang ia maksud.
Sanibah juga tau benar, bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan barokah. Jika asmanya tidak kambuh, lansia dengan berat badan 29 kg ini rajin salat ke masjid. Tetapi, jika penyakit sesak itu kambuh, ia sungguh tidak mampu lagi. Terutama saat melaksanakan sujud. Ia takut saat itu ia tidak dapat bangkit kembali untuk selama-lamanya.
“Kalau longgar berinak (nafas) baru salat nak. Ngaji juga jarang, karena tarik nafas susah nak,“ keluhnya.
Jika rasa ngilu dibadan menyerang, Sanibah mengobatinya sendiri. Oleskan minyak kayu putih di pundak, kemudian melakukan pijatan-pijatan kecil semampunya. Tak jarang airmatanya berlinang karena tidak kuasa menahan rasa sakit itu. Lain halnya jika ada Yuliani, ia merasa sedikit terbantu. Sementara La ode sibuk mencari nafkah sebagai pemulung dan dibantu Pardiansyah mengutipi sampah di rumah-rumah RT 07 usai pulang sekolah. (*)





Senin, September 22, 2008

Doa Dibacakan, Girls Berlinang Air Mata


BERTEMPAT di ruang serba guna Gedung Bank Indonesia (BI) Cabang Balikpapan, pada Sabtu (13/9) dihelat kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat). Santrinya adalah putra putri perbankan mulai SD hingga SMA yang mana kegiatannya berakhir hari ini. Acaranya dikemas sederhana, semua yang hadir dalam ruangan duduk lesehan sehingga menambah keakraban.
Ustazah Wilda menceritakan satu kisah. Judulnya a glass of water (Segelas Air). Menggunakan Inggris ia mulai bercerita tentang seorang anak bernama Syarifuddin Yahya. Saat masih kecil, Syarifuddin sudah sangat menyayangi kedua orangtuanya. Terlebih lagi kepada Ibu. Berikut kisahnya.
Suatu malam, sang Ibu sangat haus. Ibu pun memanggil Syarifuddin. “Nak, ambilkan minum,“ pinta Ibu. Masih dalam keadaan sedikit mengantuk, Syarifuddin pun pergi ke dapur, mengambilkan segelas air untuk Ibu. Namun apa yang didapatinya? Ternyata si Ibu ketiduran. Apa yang dilakukan si anak? Ternyata Syarifuddin tetap setia menunggu sampai Ibu kembali terbangun. Cukup lama ia duduk dihadapan sang Ibu dengan menggenggam segelas air putih. Saat terbangun sang Ibu kaget seraya berkata, “Subhanallah, apa yang kamu lakukan nak?”, tanya si ibu. Syarifuddin pun menjawab lembut, “Ibu tadi kan minta air minum.” Sang Ibu pun tersenyum dan menatap Syarifuddin dengan penuh kasih sayang.
“Nah, bagaimana dengan anak-anak Ibu Wilda ya? Sudah kah belum? Kalau disuruh langsung ah ih huhh, terus mengeluh Ibu ini nyuruh terus?,” tanya Wilda dihadapan santri yang sepertinya masih terhanyut dengan kisah Segelas Air itu.
Kegiatan Sanlat 1429 H putra putri perbankan tersebut bertema Peningkatan Pemahaman Ajaran Islam bagi anak-anak. Sebanyak 203 santri terdiri dari 120 santri laki-laki dan 83 santri perempuan. Saat tampil, ia juga sering melontarkan kalimat dalam bahasa Inggris. Sekalian melatih anak-anak mengucapkan bahasa internasional dunia itu. Kepada santri putra ia memanggil boys, sementara santri putri ia memanggil girls.
Sebelum bercerita, Wilda yang hadir untuk mengetahui psikologi peserta memberi sejumlah psikotest. Seperti mengajak peserta untuk membentuk ulat. Sebanyak lima boys tampil kedepan tanpa ditunjuk. Dalam hitungan satu sampai sepuluh boys itu diminta memikirkan bagaimana membentuk seekor ulat. Dan ternyata mereka berhasil. Boy paling depan seolah sujud, disusul teman lainnya ‘ngekor’ dibelakang sembari kedua tangan mereka memegang pinggul teman didepan. Selanjutnya mereka merangkak kedepan dengan pelan layaknya seekor ulat. Aksi lima boys ini mendapat tepuk tangan meriah dari semua yang hadir.
Kembali Wilda memberi psikotest untuk girls. Namanya cewek kesannya malu-malu. Akhirnya Wilda menunjuk enam diantara 83 peserta. Kepada girls, Wilda meminta mereka membentuk kepompong. Setelah dihitung peserta satu sampai sepuluh, ternyata girls malah membentuk ulat. Karena salah, Wilda kembali meminta enam boys tampil kedepan. Ternyata boys itu berhasil. Dua orang jongkok, sementara empat lainnya membentuk lingkaran mengelilingi yang jongkok lagi. Kembali santri boys mendapat aplaus dari peserta dan Wilda.
“Memang pada dasarnya anak laki-laki itu ide-ide untuk berkreativitas itu lebih besar dibanding perempuan. Tapi kalian tadi sudah bagus,” ujar wanita berjilbab besar itu, seraya mempersilakan boys dan girls kembali ketempat.
Setelah puas bermain, Wilda mengajak peserta doa bersama. Peserta dituntun untuk duduk yang tegak, tangan diatas paha, kepala tertunduk dengan mata yang terpejam. Peserta diajak untuk merenungkan segala hal yang mereka alami dan yang mereka lakukan. Doa-doa yang dipanjatkan Wilda benar-benar menyentuh perasaan. Doa yang cukup panjang dengan isi pengakuan dosa, permohonan maaf kepada Allah SWT dan harapan untuk berubah lebih baik membuat sejumlah girls tidak kuasa menahan tangis. Kemudian menutup mata mereka dengan kedua tangan dan ada pula yang menggunakan kain kerudung.
Usai renungan dan doa, sebelum kelas Wilda ditutup, kembali dipanggil dua peserta yang terdiri dari satu boy dan satu girl untuk dimintai komentar. Adalah Ade, saat tampil kedepan, ia tidak mampu berkata karena sesak menahan luapan tangis. Dengan terbata-bata ia mengaku jarang membaca Alquran dan berjanji akan mengubah sikap dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua.
“Insya Allah saya mau berubah. Ga mau pemarah lagi sama orangtua,” janji Ade seraya memeluk Wilda.







Ibu-ibu Senang Ustad Arifin Saat Dzikir


MASJID Istiqomah, yang biasa tampak lenggang, Selasa (16/9) mendekati Asar, masjid itu berubah menjadi padat dan ramai. Kaum muslimin dan muslimat di Balikpapan dengan balutan busana muslim anggun terlihat berdatangan satu-persatu. Terlihat pula di teras depan masjid, terjejer meja panjang secara vertikal berhadapan. Terlihat beberapa wanita dan pria, yang mengenakan busana seragam berdiri dibalik meja itu. Diatas meja panjang berlapis taplak batik itu, tersusun rapi takjil yang akan dibagikan kepada mereka yang menyambangi Masjid Istiqomah. Takjil sebelah kiri untuk akhwat, takjil sebelah kanan untuk ikhwan.
Masjid Istiqomah sendiri, sejak Ramadan memang rutin mengadakan tausiah, dengan menghadirkan penceramah asal Balikpapan. Namun kemarin, Masjid yang berada di lapangan merdeka itu kedatangan tamu istimewa, yaitu ustad kondang Muhammad Arifin Ilham. Kehadiran pendakwah yang sering muncul dilayar TV itu sontak membuat suasana Masjid Istiqomah menjadi hidup.
“Mana sih ustad Arifin (Sapaan akrab Muhammad Arifin Ilham, red)? Aduh ga keliatan lagi…” sedikit penasaran, seorang Ibu yang duduk tepat dibelakang pintu masuk masjid celingak celinguk menintip kearah dalam. Memang, sangkin ramainya pengunjung, untuk ikhwan, tempatnya di ruang salat dan akhwat diluar ruang salat hingga memadati ruang serbaguna Masjid Istiqomah.
Ada yang seorang diri, ada yang bersama keluarga, ada pula dari sejumlah perkumpulan pengajian yang tersugesti untuk ikut mendengar tausiah dari pria pendiri Majelis Dzikir Az-Zikra itu.
“Yang saya senangi dari ustad Arifin ini saat menyampaikan dzikir. Itu yang paling dominan. Tapi ceramah beliau juga menarik,” puji Saibah yang pernah mengikuti dzikir bersama ustad Arifin di Masjid Ataqwa masih ditahun 2008 ini.
Warga Jalan Prapatan Dalam itu mengaku, selama memasuki Ramadan, baru ini ia menginjakkan kaki di Masjid Istiqomah. Staff Organisasi Tata Laksana (Ortal) Pemkot Balikpapan ini rela sepulang dari kantor sekira pukul 15.00 Wita, langsung meluncur ke Masjid Istiqomah seorang diri.
Jika Saibah seorang diri, Niar, warga perumahan Graha Indah Batu Ampar memboyong 10 rekan se-pengajiannya untuk ikut mendengarkan tausiah pria kelahiran 8 Juni 1969. Nama pengajiannya adalah Miftahul Jannah. Demi mendapatkan posisi terdepan, pengajian ini pun melaksanakan salat Ashar di Masjid Istiqomah. Padahal dijadwalkan acara tausiah itu dimulai pukul 16.00 Wita.
Niar dan rekan-rekannya menuturkan, sosok ustad Arifin cukup piawai dalam memberikan ceramah rohani. Namun lebih piawai lagi saat memimpin dzikir. Saat diajak dzikir bersama, kalimat-kalimat suci yang dilontarkan ayah tiga anak itu mampu menggugah perasaan dan menyentuh hati para makmum. Itu dirasakan mereka saat juga saat mengkuti dzikir bersama di Masjid Ataqwa.
Tutur bahasa yang santun dengan penyampaian yang sederhana, tidak salah jika ustad Arifin menjadi ustad idola pengajian Miftahul Jannah ini. Seandainya sore itu ada kesempatan, pengajian yang aktif rebana ini juga ingin foto bareng ustad Arifin. Namun keinginan itu langsung pupus saat panitia mengatakan ustad arifin tidak mau batal wudhu.
“Kharismanya itu boleh lah. Beliau sosok ustad yang santun dengan dzikir yang selalu kena dihati. Di Balikpapan sekarang ini sering dilanda musibah, jadi kita perlu dzikir bersama dengan dipimpin oleh ustad lokal. Tapi kalau bisa ustad Arifin dipanggil lagi,“ ujar Niar sembari menambahkan pengajiannya lebih suka ustad santun daripada ustad gaul.
Sementara itu, dalam penyampaian tausiah berjudul Iman dan Ikhtiar Untuk Mencari Ridho Allah SWT, ustad Arifin lebih menekankan tentang arti Ramadan. Dikatakannya, datangnya Ramadan seyogyanya membangun kesadaran dan membangkitkan selera ibadah.
“Ramadan itu berasal dari kata romdon yang artinya pembakaran. Sesuatu yang dibakar ada yang bermanfaat, ada juga yang untuk kebersihan,” jelasnya.
Dalam tausiah berdurasi sekira 45 menit itu, ia mencontohkan, sampah yang dibakar tujuannya agar lingkungan menjadi bersih. Sementara besi yang dibakar bisa menjadi pisau yang bermanfaat untuk dapur. Demikian juga dengan manusia. Lanjutnya, bulan Ramadan yang diberi selama satu bulan itu dilakukan pembakaran yang baik. Karena Allah SWT ingin mencetak orang beriman pribadi kepada-Nya.
Lanjut pria yang masa kecilnya dihabiskan di Banjarmasin ini, datangnya Ramadan untuk membakar dosa-dosa umat Islam ini patut disyukuri. Kalau tidak datang bulan suci itu, umat muslim tidak bisa membersihkan dosa, takabur, rencana busuk dan pikiran jahat.
“Jangankan 11 bulan, sehari pun kita banyak dosa. Janganlah kita merasa paling suci. Sujudkan kepala yang mulia ini sejajar dengan telapak kaki,“ ucapnya penuh hikmat.

Kamis, Juli 31, 2008

Melihat dari Dekat Kapal Perang Prancis, Vendemiaire


KAPAL perang perang Prancis, Vendemiaire, sejak 30 Juni hingga 3 Juli sandar di Pelabuhan Semayang. Kapal yang mampu mengangkut 93 awak ini masuk ke perairan Balikpapan dalam rangka kunjungan kehormatan. Bagaimana kecanggihan Vendemiaire?

“Kapal perang ini termasuk kapal perusak kawal, berpeluru kendali,” terang Kapten Thierry Arnoult berbahasa Inggris bercampur Prancis. Awalnya aku sempat kesulitan mencari informasi kapal perang Prancis karena penjagaan pihak militer yang sangat ketat. kata penjaga, open sheepnya mulai pukul 09.00 Wita hingga 12.00 Wita. Namun bukan imay namanya kalau langsung menyerah. Setelah berupaya keras, akhirnya aku bisa naik ke atas kapal dan menemui kapten kapal.

“Kapal ini beroperasi sejak tahun 1993. Di dalamnya banyak alat canggih,” kata dia.

Peralatan canggih itu antara lain terletak pada sistem persenjataan. Kapal dengan ukuran 130 x 18 meter ini dilengkapi sonar yang mampu melacak keberadaan kapal selam sekaligus memperhitungkan jarak dan akurasi tembak ke sasaran. Sebagai penangkal serangan kapal selam musuh, Vendemiare dilengkapi dengan sejumlah torpedo. Serangan udara juga mampu dilumpuhkan karena persenjataannya memang dirancang untuk hal tersebut.

“Nama Vendemiaire ini di ambil dari peristiwa revolusi prancis pada tahun 1789. Kita memakai nama ini untuk mengenang jalinan persahabatan pejuang yang tergabung dalam Vendemiaire,“ ungkap Arnoult.

“Misi kami diantaranya mengawasi nelayan ilegal dan perdagangan bebas,“ tambah pria yang telah 11 bulan menjadi kapten Vendemiaire ini.

Lanjut pria berambut pirang ini menjelaskan, kunjungan tahun ini bukan hanya Indonesia. Pria ramah ini mengatakan juga telah melakukan lawatan ke Malaysia, China, Rusia dan Jepang.

“Sebelum Balikpapan, kita mendatangi Dili. Dan tujuan selanjutnya kota Surabaya,“ tambahnya.

Terlepas dari itu, terlihat pula sejumlah aparat menjaga di pintu masuk ke lokasi kapal perang Prancis bersandar. Sugiharto, seorang dari penjaga itu mengatakan sejak masuknya Vendemiaire telah dikerahkan sebanyak enam orang untuk berjaga selama 24 jam. Alasan penjagaan ini, untuk mengantisipasi segala sesuatunya.

“Setiap hari ada enam penjaga yang berasal dari staff intelegent, polisi militer dan personel staff sendiri,” sebut anggota Lanal Balikpapan bagian Fasilitas Dinas (Faslan) ini. Mengomentari kapal perang asal Prancis ini, menurutnya masuk dalam tipe Excoced MK 44, sama seperti kapal perang Indonesia. Hanya bedanya kapal perang Indonesia menggunakan tenaga turbin uap, sedangkan Vendemiaire menggunakan tenaga turbin gas. “Ini bisa dilihat dari cerobong asapnya,” imbuh Sugiharto.

Berbahan bakar solar, jarak tempuh fregate mampu mencapai 12 hingga 18 knot. Kecepatannya memang maksimal 12 mil/jam, tetapi jika urgent bisa sampai 20-30 knot/jam. “Intinya lambat bisa, cepat juga bisa,” tutupnya.(*)

Pintar dan Cerdas Emosional, Kunci Menjadi Anak Berguna

Anak yang belajar dan menunjukkan kepintarannya di sekolah negeri belum tentu ketika dewasa kelak bakal menjadi orang sukses. Sukses tidak semata ditentukan oleh kepintaran otak, melainkan juga kemampuan memanage emosional.


Joko meraung-raung dan menangis sejadi-jadinya, memanggil ibunya yang sedang memasak di dapur. “Mbok..huaaa…huaaa, iku ono telek..(ada kotoran)!! resi i.. resi i(bersihkan),” raung Joko sambil menunjukkan ke pahanya yang ada kotoran ayam, saat sang ibu datang. “Kok iso ono telek ayam le,” tanya ibu yang bernama Sastro ini seraya membersihkan kotoran itu dari paha buah hatinya.
Baru saja beranjak masuk dan akan membersihkan tangan, kembali terdengar rengekan si Joko. Dan dengan tergopoh-gopoh, Sastro kembali menghampiri Joko. “Mbok...baleni..(kembalikan),“ pinta Joko seraya menunjukan kotoran ayam yang telah dibersihkan sang ibu. Sastro dengan sikap sabar dan tenang, memungut kembali kotoran itu dari tanah, kemudian meletakkan kembali ke paha Joko.
Selang beberapa saat ketika melangkahkan kaki menuju rumah, Sastro kembali dikejutkan dengan rengekan Joko, yang kali ini jauh lebih keras. Kali ini, Sastro ingin menangis menahan emosi melihat tingkah laku putra kecilnya. Namun, ia berusaha membendung air matanya, kemudian menuju keluar seraya tersenyum simpul. “huaa...huaaaa..., ora podo! (tidak sama),“ Joko sedikit berontak melihat kotoran ayam yang bentuknya tidak sama dengan sebelum dibuang Sastro.
Menyaksikan itu, Sastro berusaha tenang, untuk tidak menangis dan tidak pula meluapkan kemarahan pada bocah itu. Sastro telah berhasil menjaga mata dan mulutnya. “Eee.. ora podo yo le,” ujar Sastro seraya memandang wajah Joko dengan tatapan penuh kasih sayang. Di usap-usapnya lah punggung Joko seraya berkata,”Le..le cilik cilik wes merintah merintah, koyok jendral. Mugi-mugi, sesuk dadi jenderal yo le,” Dengan halus Sastro bertutur.
Keesokan harinya, kembali Joko membuat pusing Sastro. Pagi itu Joko berlari-lari menuju rumah dengan menggenggam sejumlah timun. Terlihat dibelakangnya seorang pria tua yang berteriak sambil menunjuk si Joko. Rupanya Joko mengambil tanpa izin saat pria tua itu manen timun di kebun. Sukses membujuk Joko untuk kembalikan timun yang dia ambil dan setelah pria tua itu berlalu dan membawa timun yang diambil Joko, Sastro kembali menatap Joko dengan kasih sayang. Kemudian dielus-elusnya lagi punggung Joko seraya berkata “Mugi mugi sesok dadi wong sugih yo le. Ben ga usah nyolong meneh.“
Itulah kisah Joko. Satu kisah yang dengan manis disampaikan Hj Neno Warisman. Kisah yang menggugah dan membangkitkan emosional ratusan hadirin yang memadati Aula BI. Joko kini benar-benar telah menjadi seorang jenderal. Membuat ibunya hidup tenang di alam baka karena sang anak kini telah menjadi orang berhasil.
“Jenderal Joko bilang pada saya, dia bisa jadi jenderal bukan karena pintar. Tapi karena ibunya yang semasih hidup tidak pernah sedikitpun melontarkan kata-kata buruk dari mulutnya. Maka itu, hargailah anak-anak kita,” ujar Hj Titi Widoretno Warisman, lebih akrab dipanggil Neno Warisman..
Penyanyi dan bintang film era 1980-an ini menjadi pembicara tunggal dalam seminar parenting di Aula Bank Indonesia (BI), Sabtu (26/7). Seminar ini dihelat oleh Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang bekerjasama dengan Ikatan Wanita Bank (Iwaba).
Seminar gelaran BMH-Iwaba ini bertema ”Peran orangtua membantu mengembangkan potensi kecerdasan fisik, mental dan sosial anak di era globalisasi”, Neno mengatakan sistem pendidikan terbaik ada di Negara Finlandia, alasannya karena disana tidak ada anak yang tidak naik kelas. Sementara di Jepang, lanjutnya, yang kurang pintar adalah gurunya. Alasannya, guru lah yang memohon kepada murid agar tekun belajar. Dan setelah muridnya berhasil, barulah si guru dikatakan pintar.
“Mari ubah paradigma kita yang menganggap yang pintar adalah anak yang masuk sekolah negeri. Atau anak yang pintar matematika dan logika. Anak yang pintar menyantuni dan peminta maaf, juga memiliki kecerdasan emosional yang pasti jadi anak berguna. Katakan dia punya rangking satu karena taat pada Allah,” ajak Neno Warisman.
Usai seminar, kepada media ini, Ketua Iwaba Nining Causa Iman berujar, ini kali pertama Iwaba bekerja sama dengan BMH. Dan kemarin, selain seminar, juga dilaunchingkan Kencleng Pendidikan Donatur Cilik BMH. Dikatakan Nining, sebelum kencleng ini dilaunchingkan, puteranya telah mensedeqahkan sebagian uang jajannya ke dalam kencleng itu. Kemudian saat penuh kencleng tersebut dikembalikan ke BMH untuk kepentingan sosial.
“Ini pertama kalinya Iwaba kerja sama dengan BMH. Moga-moga seminar ini jadi agenda tahunan kita yang tiap tahunnya. Tentu saja dengan tema yang berbeda,” imbuh Nining didampingi suami, Kepala Cabang Bank Indonesia (BI) Balikpapan Causa Iman Karana.(*)






Sabtu, Juni 14, 2008

Tunas Bangsa: Asmawati dan Arif, Rajin Belajar biar gampang cari kerja.

Penyakit dan Usia Bukan Alasan

Arif dan Asmawati, murid Asah Pena

Dalam dunia pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik.

Motivasi mengikuti proses pembelajaran demi meraih harapan dan cita-cita juga dirasakan oleh sejumlah anak usia sekolah yang berlatar belakang keluarga sederhana, bahkan kurang mampu. Keinginan besar mereka untuk memajukan taraf hidup ke arah lebih baik, mengalahkan rasa malu yang sesungguhnya melekat dalam diri mereka akibat faktor ekonomi ataupun usia. Satu yang mereka yakini, adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Mereka adalah M Arif dan Asmawati, masing-masing berusia 16 tahun dan 19 tahun. Keduanya adalah murid kelas 3 SMP Asah Pena Mawar 9 Balikpapan dan menetap di Kampung Ajiraden RT 6 Kelurahan Lamaru.

Arif-sapaan akrab M Arif,ia sempat merasakan bangku sekolah di sekolah formal. Sayangnya, akibat penyakit yang ia derita, si bungsu ini terpaksa putus sekolah dan menghabiskan waktu di rumah hanya sekedar membantu ibu di dapur. Saat resmi putus sekolah, sebenarnya Arif ingin bantu bapak ikut mencari ikan di laut, tetapi karena fisik, si bapak yang bekerja sebagai nelayan ini pun tidak mengijinkan.

“Dulu saya sempat merasakan duduk di bangku sekolah SMP. Saat pelajaran olahraga, penyakit jantung saya sering kambuh dan terkadang pingsan. Karena kasihan, bapak nyuruh saya istirahat di rumah, sekalian bantu ibu juga. Saya terpaksa putus sekolah,” pelan Arif menjelaskan saat ditemui media ini di kediamannya belum lama ini.

Sama halnya dengan Asmawati. Di lokasi yang sama, Remaja yang kini tinggal bersama si tante ini juga mengalami putus sekolah saat di bangku SMP akibat sakit anemia yang dideritanya. Dalam kesehariannya sebelum masuk Asah Pena, Asmawati membantu om dan tantenya yang bekerja sebagai penjemur ikan.

Suprapto, Koordinator Asah Pena wilayah Balikpapan Timur mengatakan M Arif dan Asmawati, keduanya adalah murid Asah Pena yang selalu terlihat serius dan tekun dalam belajar. “Saya lihat, semangat Arif dan Asmawati dalam belajar bukan main-main. Saya yakin jika mereka terus giat belajar ditambah lagi motivasi dari kerabat mereka, saya yakin mereka bisa menjadi orang yang berhasil. Sekolah di Asah Pena ini atas kemauan mereka sendiri, tanpa paksaan dari siapapun,” pungkas Wakil Kepala Sekolah SMPN 8 ini.(*)