Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 02, 2010

Potret Wanita Perkasa

Di kota berkembang seperti Balikpapan, masih ditemukan para pekerja wanita yang terpaksa ikut mencari nafkah, dengan melakukan pekerjaan kasar.

Dalam perjalanan hidup yang cukup panjang, mereka bekerja keras, dengan bermandikan peluh, mengganti kewajiban yang seharusnya diemban oleh suami.

Yah, mereka lah para janda, pekerja kasar wanita, dengan hidup di bawah garis kemiskinan yang berupaya bertahan hidup ditengah gemerlapnya kota minyak Balikpapan.

Dan saya pun tertarik untuk berbincang dengan segelintir wanita perkasa itu..

***************************

Wanita paruh baya itu bernama sunariah, warga gunung bakaran kelurahan sepinggan, balikpapan selatan.

Usia wanita dengan warna kulit kecoklatan kusam itu sudah melampaui setengah abad, yakni 58 tahun, sehingga tampaklah kerutan yang bergelambir pada kulitnya.

Janda dengan enam anak itu bekerja sebagai pemulung, mengais-ngais sampah bau di tong sampah atau memungutinya di pinggir jalan.

Sunariah mencari barang-barang yang layak jual, seperti kardus, plastik dan botol, kemudian menjualnya pada lapak.

Baju dinas berupa kaus oblong, celana panjang dan jilbab lusuh, lengkap dengan topi bundar serta sandal jepit butut. tidak ketinggalan keranjang sampah dari rotan dan alat pengais, yang setia menemaninya beraktivitas setiap hari.

Sunariah bercerita, aktivitas mulung dilakukan pagi hingga tengah hari. biasanya sunariah mulung di kawasan pasar klandasan, pasar pandan sari dan sekitar rumah.

Hasil mulung rata-rata 10 hingga 17 ribu rupiah per hari. menurutnya, untuk satu kilo gram kardus, seharga 400 rupiah, plastik seharga 600 rupiah dan botol seharga 300 rupiah.

”Saya itu mbak, mulung dari habis salat subuh sampe itu jam 12 siang. Yaa.. sukurin aja mbak dapat 10 ribu 15 ribu atau 17 ribu ya alhamdulillah,” ujar Sunariah seraya tersenyum.

Selain mengais sampah, wanita berdarah buton itu juga mencari nafkah dengan menjual telur ayam milik orang lain, dari rumah ke rumah. untuk satu piring ia memperoleh keuntungan 1000 rupiah. dan biasanya dalam satu hari ia hanya mampu menjual lima piring telur dengan hasil pendapatan 5000 rupiah.

”Pulang dari mulung saya salat duhur. Trus masak, trus saya pigi jualan telur mbak. Keliling sini-sini aja dekat rumah,” lanjutnya.

Sunariah menjadi janda sejak lima tahun lalu. Ia bercerita, sang suami meninggal dunia akibat mengalami kecelakaan saat memulung sampah.

Memang, memulung sudah dilakoni sunariah dan suami sekisar 30 tahun lalu, bertepatan dengan usia pernikahan mereka. namun, seiring dengan meninggalnya sang suami, membuat sunariah harus bekerja ekstra keras, menghidupi dirinya, anak dan ayah dari almarhum suaminya yang kini telah sakit-sakitan.

”Suami saya sudah ga ada mbak. Suami saya meninggal ditikam orang waktu mulung, sudah ada itu lima tahunan,” tuturnya dengan mata sedikit menerawang, seolah mencoba mengingat kembali peristiwa menyedihkan itu.

Akibat terlalu giat bekerja, tak jarang sunariah merasa nyeri pada tubuh, khususnya sendi punggung dan pinggang yang kerap memikul sampah-sampah hasil memulung. kalau sudah begitu, sunariah hanya melakukan pengobatan secara tradisional karena tersandung di biaya untuk periksa ke dokter.

”Kalau berobat dokter ya ga ada biaya. Kadang saya urut sendiri atau minta tolong tetangga aja sudah,,” lirih Sunariah.

Untungnya, dari enam anak tersebut, hanya satu yang masih dibiayai bersekolah, yakni ana, yang kini duduk dibangku kelas 1 smk negeri 4, jurusan perhotelan.

Dua anak lainnya telah berkeluarga dan menetap di pulau jawa, dua anak lagi meninggal dunia saat usia remaja dan satu lagi pergi merantau, mencoba mengadu nasib di kota sorong.

”Dua anak saya udah meninggal juga mbak, sakit mereka.. ada anak saya sudah kerja di sorong. Tapi enggak lah mbak. Saya ga mau nyusahin anak,” tegasnya lagi.

Kewajiban dan beban serupa juga dialami Yamini, warga kampung damai balikpapan selatan.

Wanita berusia 51 tahun itu justru menyandang status janda sejak tahun 1998, saat ia tengah mengandung tujuh bulan anak terakhir. saat itu sang suami yang bekerja sebagai pemulung meninggal dunia akibat mengalami sakit.

”Saya itu ditinggal suami meninggal saat hamil tujuh bulan. Ya kayak apaa.. saya namanya baru melahirkan ga bisa kerja.. alhamdulillah waktu itu tetangga ada aja yang bantu. Trus tiga bulan baru saya mulai kerja lagi mbah,” kenang Yamini.

Jadilah ibu enam anak itu menjadi tulang punggung keluarga, bekerja keras diterik matahari, dengan memulung dan menjaja kue keliling tempat tinggalnya.

Menurut yamini, dalam satu hari dari kedua aktivitas tersebut ia mengantongi hasil 20 hingga 25 ribu rupiah.

Dari jerih payahnya itu lah ia bisa menyekolahkan anaknya hingga jenjang sma. saat ini wanita berdarah jawa itu membiayai sekolah dua anaknya, masing-masing jenjang sma dan sd. yamini juga membiayai ibunya yang menderita strok, sejak empat tahun lalu.

Sementara tiga lainnya telah berumah tangga dan satu lagi merantau di pulau jawa.

”Ada seh mbak anak. Tapi enggak lah, saya masih bisa bekerja cari nafkah sendiri. Kasian anak-anak hidupnya juga pas-pasan mbak,” ucap Yamini.

Sungguh beratnya beban yang di pikul Yamini. meski begitu,
Ia tidak mengizinkan anak-anaknya untuk membantu mencari nafkah.

Wanita berbalut jilbab itu hanya ingin anaknya belajar giat, menuai prestasi dan mendapat pekerjaan layak. yamini berharap agar anak-anaknya tidak bernasib sama dengan dirinya.

”Mudah-mudahan mbak.. mudah-mudahan saja anak-anak saya ini tidak bernasip sama seperti saya...,” ucap Yamini penuh harap.

*********************************

Sunariah dan Yamini, keduanya membangun rumah ala kadarnya di atas tanah milik orang lain. dengan kondisi rumah beratap seng, berdinding dan beralaskan kayu papan, tidak membuat keduanya mengeluh pada nasib.

Karena mereka tidak punya keahlian lain selain mulung dan berjualan untuk memperbaiki taraf hidup. mereka juga tidak ingin menyusahkan anak mereka dan orang lain dengan memintanya menanggung kebutuhan hidup mereka.

Mereka bekerja keras dengan senyum yang ikhlas, untuk masa depan anak-anak, tanpa berharap adanya pamrih.

Pengalaman Sunariah dan Yamini, memberi ilmu dan pesan moral pada diri saya tentang kehidupan yang sangat berharga. yaitu tentang semangat dan tekun dalam menjalani pekerjaan dalam hidup.

Satu lagi pelajaran yang paling utama yang dapat saya petik adalah, selalu bersyukur atas rizki dan nikmat yang diberi Allah SWT.(***)

Rabu, November 11, 2009

Kisah Seorang Veteran: Dibonceng Sepeda Ontel, Bawa Surat Rahasia

Diusianya yang senja, wajar jika Siradjudin tidak ingat pasti kisah masa lalunya sebagai pejuang kemerdekaan. Veteran asal Laskar Persatuan Pemuda Indonesia (PPI) Banjarmasin itu, kini menjadi pasien terlama di RSU Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan.

NAMA lengkapnya Mohamad Siradjudin Mahdjuri. Sore itu di bangsal 10 Flamboyan C Rumah Sakit Umum Kanujoso Djatiwibowo (RSUKD), pria yang oleh penghuni RS sekitar dipanggil Kai ini sedang duduk diatas pembaringan. Terlihat tangan kirinya memainkan tasbih berwarna putih yang terbuat dari manik-manik mata kucing. Terlihat pula bibirnya yang bergetar berkomat-kamit mengucapkan kalimat-kalimat dzikir.
Sosok kelahiran Banjarmasin 7 Juli 1931 ini cukup ramah menyambut kehadiranku. Ia pun mempersilakan aku ini duduk di sudut pembaringannya. Sedikit kaget, lantaran saat memperkenalkan diri, ia menyodorkan tangan kiri. Ternyata tubuh bagian kanan Sirad sudah tidak berfungsi alias mati separuh akibat stroke yang dideritanya.
Konon, stroke menyerangnya secara tiba-tiba sekira tiga tahun silam saat ia masih menetap di Sekretariat Dewan Pimpinan Cabang Legiun Veteran Republik Indonesia (DPC LVRI) Kota Balikpapan. Saat itu, ia langsung diboyong rekan sesama veteran menuju RSUKD. Dan atas kebijakan RSUKD, sejak itu hingga sekarang ia diperbolehkan menetap di ruang itu meski sudah diperbolehkan pulang. Pernah satu ketika, ada seorang kerabat yang mengajaknya keluar dari RS, tapi seorang Sirad dalah sosok mandiri dan tidak mau menyusahkan keluarga, sehingga ia lebih memilih menjadi penghuni RSUKD.
“Eee..saya..saya..ga mau gini..ga…ga..,“ ucap Sirad terbata-bata sembari mengulurtangan kirinya kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Sirad adalah satu dari sekian pejuang kemerdekaan di era 1945 hingga 1949 di Banjarmasin. Satu yang paling berkesan dihati Sirad kala dia masih kecil, adalah saat dimana mengkuti sang ayah mengantar surat rahasia dari kandangan ke Banjarmasin. Ayah Sirad bernama Mahruji, adalah pahlawan perintis kemerdekaan. Bermodal sepeda ontel, Sirad dibonceng ayah yang terus mengayuh sekencang-kencangnya agar segera sampai ditujuan. Sirad tidak ingat persis berapa jarak dan waktu yang ia tempuh untuk sampai di Banjarmasin demi menyerahkan surat rahasia ke sosok yang bernama Kapten Rusman. Yang ia ingat, harus melewati hutan belantara yang cukup panjang dan lama dibarengi rasa was-was terhadap serangan musuh.
“Itu.. eee..dari Kandangan antar ke dari hulu sungai..eng..ke kecamatan pangaron.. eng..ke Banjarmasin naik sepeda. Pangaron ke Banjarmasin 80 km. Trus..eng..trus.. suratnya disimpan didalam ban,” dengan nada bergetar dan terputus-putus ia berusaha mengingat.
Tidak jarang Perwira Navigasi di Komando Daerah Kepolisian VII/Metropolitan Jakartaraya ini menepuk-nepuk jidatnya untuk mengingat peristiwa-peristiwa seru yang dialaminya tempo dulu. Setelah sedikit mengingat, ia kembali bercerita. Ada satu cerita lucu tentang Sirad kecil. Masa penjajahan Belanda, tidak semua orang bisa membaca. Dan Sirad yang mengenyam bangku Sekolah Rakyat sering dimintai untuk membacakan isi surat kabar harian dihadapan khalayak ramai. Namanya anak-anak, sesekali ia membaca isi berita, namun tidak sesuai dengan yang tersurat.
“Yang lucu, datu (paman,red) saya ee.. pembekal lurah.. aku disuruh baca.. neh..neh.. saya disuruh baca didepan 20 orang. Saya bilang..ee..ada berita kapal terbang mendarat di loteng (atap rumah, red). Pulang..eng..saya..saya..dipanggil datu. Mana sirad?! Dusta aja kapal terbang diloteng..,“ kenangnya sembari tersenyum.
Beranjak dewasa, Sirad menjadi seorang pelaut. Bermodal kemampuan bahasa inggris dan holand speaker, Sirad pernah menjadi wakil kapten alias modem II selama dua tahun di kapal Ga Vina. Kapal yang perairannya menuju Hongkong, RRC dan luar negeri lainnya. Setelah dua tahun, akhirnya ia turun di Jakarta dan kembali lagi menjadi awak kapal. Kali ini kapalnya berupa kapal barang menuju Singapura. Kai yang kini berusia 77 tahun ini pun tidak ingat pasti kapan ia bertemu pujaan hati hingga memutuskan mengikat tali pernikahan dan kemudian berpisah. (*)

Kamis, Februari 19, 2009

Karel Baginda Wafat

Rabu (18/02/09), langit tampak mendung. Bahkan terlihat butir-butir air langit yang jatuh ke bumi jelang siang itu. Yah,, hari itu sekira pukul 12.45 Wita, alam sedih dan berduka. satu sosok pejuang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang eksis sebagai veteran pejuang kemerdekaan, pergi untuk selamanya.

Innalilahi Wainalilahi Roji'un. Kepala Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Balikpapan Karel Baginda menghembuskan nafas terakhir di usianya yangke-83 dikarenakan sakit. Veteran Pejuang Kemerdekaan ini tutup usia pada Rabu 18 pebruari 2009 di kediaman putranya di kawasan Klandasan Ilir pukul 12.45 Wita.
Jenazah Baginda dimakamkan di taman makam pahlawan Dharma Agung, keesokan harinya sekira pukul 11.00 Wita. Prosesi pemakaman dilangsungkan secara militer oleh Denzipur Tanjungpura dengan inspektur upacara Letkol Amari Dullah.
Suasana haru mengiringi prosesi pemakaman, jelang siang itu. Sejumlah veteran dengan jubah kebesarannya, dan rombongan pemerintah kota yang diwakili Kabag Humas Sekdakot Balikpapan Adam Ari Muladi terlihat tunduk menatap sayu. Keluarga yang ditinggalkan mengaku tidak ada firasat apa-apa menjelang kematian Karel Baginda. Seperti yang disampaikan putra ke-10 Baginda Amir Husein kepada ku.
"Saya ga ada firasat apa-apa kok mbak. memang pernah itu beberapa kali saya mimpi. Bapak ngajak saya jalan-jalan, katanya mau ketemu Almarhumah Ibu. tapi kami anggap biasa saja dan kita bawa bapak langsung ke rumah sakit," kenang Amir Husein dengan mata sedikit sembab.
Satu yang tidak di lupakan pria berusia 37 tahun ini tentang sang Ayah.
"Dulu kecil, saya pernah minta mainan. Padahal saat itu kita tidak punya apa-apa mbak. Carimakan itu sulit sekali. Tapi Bapak itu saya ga tau dapat uang dari mana terus saya di belikan mainan itu," ucapnya sedikit menerawang dengan mata dagu yang terkatup.

Baginda berpangkat Letnan Satu Infantri ini mengantongi 14 bintang tanda jasa. Ia pensiunan kesatuan Batalyon Infantri 3 Mei Merdeka di Manado. sebelum meninggal Bapak 11 anak ini sempat di rawat di rumah sakit tentara selama 10 hari. berdasarkan diagnosa, kakek 27 cucu ini mengalami sakit ginjal. yang setelah itu ia dirawat rumahkan selama dua minggu dan akhirnya meninggal dunia.

Dimata para sahabat, Baginda adalah sosok yang sederhana, tegas dan pengayom. salah satu anggota LVRI Balikpapan Ahmadu yang kamis itu terlihat paling pagi ke makam mengaku mengagumi sosok Baginda. dengan terbata bata ia mengisahkan, kehidupan Baginda cukup memprihatinkan. Namuntidak pernah mengeluh.

"Dia (Baginda, red) ga pernah mengeluh kalau sakit. makanya saya kaget dengar dia masuk rumah sakit. Kalau liat rumahnya mbak, MasyaAllah, ga layak tinggal mbaak..saya sampai sedih lihatnya," ucap pria berusia 74 tahun itu.

senada diucapkan Sekretaris DPD Veteran Kaltim La Ode Djamani. Ia mengagumi sepak terjang Baginda dalam sejarah memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Sudah berapa periode ia dipercayai menjadi Kepala LVRI Balikpapan. ia pantang menyerah dah tidak mau terlihat susah di mata kami semua. ia sangat hebat. Dari Almarhum Baginda kita akan banyak belajar demi kelangsungan LVRI ini," ucapnya mantap.

Sekretaris Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Balikpapan Sukaryanto mengaku sangat kehilangan sosok Baginda yang penuh semangat. ia juga mengakui, sosok kepemimpinan Baginda bisa menjadi contoh tauladan bagi anggota lainnya.

"Yang saya ingat dari Karel Baginda, waktu HUT LVRI beberapa waktu lalu. saat itu dia sedang sakit namun bersedia menjadi inspektur upacara. dia senang bergurau sehingga membuat suasana menjadi akrab. semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan pun tetapsabar dan ikhlas," tutup sukaryanto tersenyum tipis. (*)

Senin, Januari 19, 2009

ga punya mukena

Kisah Gakin di Jl A Wahab Syahrani RT 64 Batu Ampar

LEBARAN sebentar lagi. Umat muslim bergembira menyambut datangnya Hari Kemenangan. Namun tidak demikian halnya kaum dhuafa satu ini, yaitu pasangan Paimung dan Sining serta seorang anaknya Robayah.

Kaum dhuafa ini, sepertinya tidak terlalu memikirkan apa yang harus dilakukan saat lebaran tiba. Seperti menyiapkan hidangan kue-kue kering, minuman ringan, membersihkan rumah dan menyambut kedatangan tamu.

Namun yang pastinya, pasangan suami istri (pasutri) Paimung dan Sinin serta satu-satunya buah hati Robayah tetap melaksanakan salat Id di masjid terdekat. Tidak memiliki mukena bukan menjadi alasan untuk tidak melaksanakan salat, karena masih ada sarung yang bisa dimanfaatkan untuk menutupi aurat. Karena momen itu hanya datang sekali dalam setahun, tentu saja sayang untuk dilewatkan.

“Abis salat, di sini aja (rumah, Red) gak kemana-mana. Gak ada uang,” ujar Robayah yang duduk di samping Sinin. Sementara Paimung sore itu belum pulang dari bekerja.

Yah, kemarin, media ini menyambangi kediaman Paimung bertempat Jalan A Wahab Syahrani RT 64 Batu Ampar (Batam). Keluarga yang telah 10 tahun menetap di Balikpapan itu hingga sekarang belum mengantongi kartu gakin. Padahal jika diperhatikan mereka termasuk dari kaum mustahik yang hidup dibawah garis kemiskinan, tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup benar-benar pas-pasan.

Pasutri ini mengira-ngira usia mereka sudah kepala tujuh. Dan Robayah mengira-ngira usianya telah mencapai kepala tiga. Dalam keseharian, Paimung bekerja sebagai pemotong rumput. Tapi secara manual, tanpa menggunakan mesin, lantaran Paimung tidak sanggup untuk memikul mesin pemotong rumput. Sementara Sinin, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Tubuhnya yang ceking, kering dan keriput itu membuktikan bahwa lansia dengan rambut memutih itu tidak mampu bekerja keras. Sehingga dalam kesehariannya, Robayah lah yang mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga.

Tidak mengantongi kartu gakin, dikatakan Robayah lantaran belum memiliki surat-surat pindah yang lengkap dari tempat asal mereka yaitu Sanjai Sulawesi Selatan. Sehingga sulit bagi mereka yang hidup dari meminjam tempat dari saudara untuk memperoleh haknya sebagai keluarga miskin (gakin).

Rumah yang ditempati itu dari depan tampak seperti rumah biasa. Namun tak selamanya bagus diluar bagus juga didalam. Hujan lebat yang mengguyur Balikpapan disertai angin kencang beberapa waktu lalu, telah memporak-porandakan tempat Mandi Cuci Kakus (MCK), sehingga rumah itu telah tidak memiliki MCK lagi. Dan bukan hanya itu. Bangunan yang berdiri diatas tanah liat dengan bagian belakang berbatasan langsung dengan sungai kecil, telah menjadi mereng sekira 30 derajat. Mungkin jika kembali hujan lebat dibarengi angin kencang, rumah sangat sederhana itu akan roboh seketika.

“Takut tambah longsor nanti,” celetuk Sinin dengan suara kecil, pelan dan halus.

Rasa khawatir yang luar biasa, membuat keluarga malang ini berencana pindah. Pindah dengan membangun gubuk kecil yang menempel di salah satu kediaman sanak famili. Kediaman sanak famili itu juga tidak jauh dari tempat tinggalnya, karena masih mencakup satu RT. Namun karena berbenturan dengan biaya, terpaksa niat itu diurungkan. Padahal mereka sangat berharap sekali saat lebaran, telah menempati rumah barunya. “Rencana mau tambal dari rumah saudara, tapi belum ada dana. Katanya itu Rp 500 ribu. Kalau baju lebaran dikasi-kasi orang aja,“ tutur wanita bertubuh kurus itu.(*)

cerita nek pinah..

Kenang Almarhum Suami, Nenek Pina Menyendiri di Gubuk Reot
Cucu Tak Merestui, Batal Dipindah ke Panti Jompo

Begitu miris hati ini, jika melihat sekilas kehidupan Pina. Lanjut usia (lansia) ini seorang diri hidup di satu gubuk reot, tempat ia berteduh dari hujan, panas dan melepas lelah di malam hari. Sementara ia masih memiliki anak yang tinggal tidak jauh dari gubuknya.


PINA, tiga tahun lagi genap berusia 100 tahun. Namun, kekuatan tenaga yang ia miliki tidak menunjukkan bahwa ia telah berusia 97 tahun. Ia masih mampu berjalan menapaki jalan bertangga yang terjal tanpa bantuan apapun. Kecuali malam, ia butuh bantuan seseorang sebagai penuntun arah, karena ia sudah tidak mampu lagi melihat dengan sempurna.

Pina yang uzur lebih menyukai hidup dalam kesendirian, meskipun sangat terbatas. Sekira empat tahun lalu, warga Jalan Dahor 2 Kelurahan Baru Ilir ini mendirikan gubuk di lahan sempit, tepat belakang perumahan Pertamina, kawasan RT 49. Padahal saat itu, ia tinggal bersama putrinya yang telah berkeluarga di RT 47 yang tentu saja masih mencakup wilayah Baru Ilir.

Gubuk, ukuran mulai panjang dan lebar tidak lebih dari dua meter. Gubuk itu sendiri terbuat dari papan-papan bekas bangunan, seng, bambu, karpet dan kertas-kertas karton. Pina telah meminta tolong kepada pemuda setempat untuk membantu mendirikannya. Dan dalam gubuk itu ada kasur, kompor dan rak tua yang terbuat dari rotan untuk menyusun pakaian dan peralatan makan.

Di luar gubuk, terdapat dua drum berkapasitas 50 liter yang ditutupi dengan plastik yang ditimpa dengan sepotong kayu tebal. Tujuannya agar air tidak kemasukan kotoran. Dibagian atas, terdapat dua tali jemuran. Ditempat terbuka itulah Pina melakukan rutinitas Mandi Cuci Kakus (MCK). Disebelahnya ada kebun mini Pina sepanjang satu meter. Ia menanami tanaman singkong, pepaya dan masih ada beberapa jenis sayuran lain disana yang digunakan sebagai pauk.

Masalah air, ia mendapatkan yang layik, karena terdapat selang yang dialirkan dari sumber mata air Pertamina. Dengan adanya selang itu, tidak jarang warga sekitar turut menampung air dari di gubuk itu.

Udara dingin di malam hari seakan tidak ia rasakan karena ada selimut tebal yang mendekap erat tubuh rentanya. Sengatan dan nyanyian serangga penghisap darah pun bisa ia hindari dengan menggunakan kelambu. Sehingga lansia bertubuh ceking dan keriput itu bisa nyenyak dalam tidur. Sebagai penerang di malam hari, nenek empat cucu itu mengandalkan lampu botol. Ia telah benar-benar menyiapkan segala sesuatunya untuk menetap di gubuk itu.

Apa yang membuatnya lebih memilih tinggal di gubuk sempit di atas lahan yang bukan miliknya? Sementara masih ada rumah anak yang layak dan nyaman untuk ditinggali. Lansia yang telah menjanda sejak 30 tahun itu menuturkan, ia tidak selamanya menetap di gubuk. Terkadang ia pulang ke rumah anaknya yang bernama Sutimah di RT 47 itu, meskipun di hari terang ia memilih menghabiskan hari di dalam gubuk. Hanya saja, jika ia sedang ingin menyendiri, merenung atau mengenang masa-masa dulu bersama suami, ia memilih ke gubuk derita. Bisa saja satu hingga dua minggu ia bermalam di sana. Anak-anak tidak ada yang mampu melarang. Jarak yang tempuh dari gubuk ke rumah sekira 250 meter dengan medan yang menanjak.

Selasa (23//9) pagi, gubuk derita itu disambangi Istri Wakil Wali Kota, Hj Arita Rizal didampingi lurah setempat bersama Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM). Arita begitu mengkhawatirkan kondisi Pina yang hidup menyendiri. Setelah dibahas bersama lurah dan KPM, muncul rencana memindahkan Ibu tiga anak itu ke Panti Jompo.

Namun, seorang cucunya, Afendi, putra Sutimah yang telah berumah tangga itu merasa keberatan jika si nenek dibawa jauh darinya. Afandi memastikan bahwa ia mampu membiayai kehidupan Pina. Akhirnya, diputuskan, Pina harus beranjak dari gubuk dan kembali ke rumah. Selanjutnya gubuk itu akan dibongkar habis. Dan sebagai informasi tambahan, hari ini pihak kelurahan akan kembali menyambangi Pina dan menemui Afandi untuk meminta kepastian.

Senin, November 24, 2008

Ketika Veteran Belum Mendapatkan Tunjangan dari Pemerintah

ASAH OTAK: Djamani, dikala senggang, memilih mengisi TTS, bertemankan secangkir kopi.




Masuk Sel Belanda, Djamani Seperti Kaset Tanpa Judul


Veteran mengantar nyawa, berjuang mengembalikan kemerdekaan kepangkuan ibu pertiwi. Sedikit mengherankan. Kendati telah turun Peraturan Pemerintah (PP) mengenai Tunjangan Hari Tua (Tupat) Veteran Republik Indonesia (RI), hingga saat ini mereka dan keluarga tidak dapat menikmatinya.

SEBAGAI veteran pembela kebenaran (masa-masa 1963 hingga 1976) yang berjuang dalam pembebasan Irian Barat, Djamani hingga saat ini belum mendapatkan tunjangan dari Pemerintah RI. Padahal berdasarkan PP RI Nomor 34 Tahun 2008 yang berlaku sejak tanggal 1 januari 2008, para veteran berhak menerima tunjangan setiap bulan.
Nominal tunjangan yang disebut-sebut sabagai Tupat itu sendiri disesuaikan berdasarkan golongan, yakni golongan A hingga E. dan untuk veteran pembela masuk dalam golongan E dan berhak dapat tunjangan sebesar Rp 746 ribu setiap bulan.
“Kita sudah dapat piagam penghargaan dari presiden sebagai tokoh kehormatan. Saya bingung, kita tokoh kehormatan harus menunjukkan surat miskin baru bisa dapat tunjangan,” keluh Djamani dengan nada datar.
Pemilik nama lengkap La Ode Djamani ini sebenarnya tidak mau menuntut banyak. Dijumpai di Kantor Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Balikpapan kemarin, ia berujar asal ada asap di dapur dan mampu biayai sekolah si buah hati saja, itu sudah cukup. Lantaran tidak mau menuntut banyak itulah, ia mencukupi kebutuhan hidup dengan mengandalkan keahliannya sebagai tenaga penjahit. Yah, dengan membuka taylor di rumah kontrakan yang sederhana berlokasi di Komplek BTN Manggar Baru itu ia berjuang menafkahi istri dan seorang anak yang kini duduk di bangku kelas V SD.
Djamani, lahir di Kaimana Irian Jaya 25 Oktober 1946. Tahun 1961, Djamani tergabung dalam Tri Komando Rakyat (Trikora), yang mana Trikora itu terbentuk atas perlawanan dengan cara militer terhadap Belanda yang tidak senang atas berubahnya status RI dari negara serikat menjadi negara kesatuan. Djamani sendiri berjuang di irian lokal, tepatnya di Kalimana, tanah kelahirannya.
Banyak pergolakan yang perlu mendapat perlawanan para pejuang. Terutama dari sisi politik, hingga akhirnya kisah penjajahan Belanda berakhir pada 1 Mei 1963. sepanjang perjuangan itulah, Djamani bersama pejuang lainnya merasakan pahitnya kehidupan sebagai negara terjajah. Tokoh-tokoh perjuangan disana, selalu dan dapat mengatasi kepentingan pertikaian yang terjadi, yang biasanya berakhir dengan penangkapan-penangkapan tokoh pejuang itu.
“Selama pergolakan itu, kelihatan bahwa penindasan terhadap pertumbuhan bangsa kita sangat tidak manusiawi. Golongan separatis tertindas. Itu sangat saya rasakan dari segi pendidikan dan pekerjaan juga dari segi fisik,“ kenang Djamani.
Sejenak mata layunya menerawang. Suami Sariyonah itu mencoba mengingat kejadian-kejadian yang ia alami pada masa pembelaan. Selang beberapa detik, ia membenarkan posisi duduknya diatas kursi, menarik nafas panjang dan kembali bercerita. Pada masa Trikora, jika pribumi dilihat mengenakan busana berwarna merah, putih atau atribut-atribut lain dengan kombinasi warna atau salah satu diantaranya, akan langsung dijegal komplotan Belanda. Pribumi itu langsung diangap sebagai kaum separatis dan langsung dihajar habis-habisan oleh tentara Belanda itu.
Pernah satu ketika, Djamani bersama sekerumput anak muda lainnya duduk bersantai di satu sudut jalan. Hanya sekadar kumpul-kumpul anak muda menghabiskan waktu.
Apesnya, sejumlah tentara Belanda yang melintas malah mereka adalah sekelompok anak muda yang membentuk demonstrasi, menuntut kebebasan. Sontak, penjajah kulit putih berbaju loreng itu menghujankan pukulan bertubi-tubi, tanpa ampun kepada Djamani dan 19 rekan lainnya. Tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan, sekerumput anak muda itu pun di boyong ke tahanan dan mendekam disana didalamnya dua hari. Djamani mengaku sangat geram saat itu. Namun apa daya, persenjataan dan kekuatan penjajah lebih kuat dibanding mereka.
Yang berkesan pada masa itu, bagi pemilik Nomor Pokok Veteran (NPV) 20.000.764 itu adalah masa-masa setelah pembebasan Irian Barat. Rasa kebebasan berpendapat dan berbuat, kendati harus diatur dengan peraturan kenegaraan, membuatnya bisa lebih leluasa mengeluarkan pendapat.
Terlepas dari itu, Djamani pun mencoba mengadu nasib, dari Ambon kemudian ke Balikpapan bersama sang istri. Seolah Dewi Fortuna sedang tidak bersamanya, saat turun dari kapal, tas tentengan berisi dokumen penting seperti ijazah perguruan tinggi saat ia lulus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum dan Tata Negara di salah satu universitas di Jayapura, rahip di gondol pencopet. Pencopet itu mengira tas itu berisi uang, sehingga si pencopet memotong tas itu dari bawah hingga pegangan tas.
“Itulah kata teman-teman, saya ini ibarat kaset tanpa judul. Saya punya ilmu yang bisa saya sampaikan ketika saya terdaftar sebagai guru. Tapi apa buktinya. Ijazah saya sudah tidak ada,“ ucapnya seraya tersenyum kecil.
Untungnya, dokumen penting lainnya seperti Surat Keputusan (SK) Veteran, piagam penghargaan dari Presiden RI dan satya lencana karya satya tidak termasuk isi dari tas tenteng itu. Hingga akhirnya ia berjumpa dengan Karel Baginda, Ketua LVRI Balikpapan dan menunjukan SK itu. Kini, jadilah ia sebagai sekretaris markas daerah LVRI Provinsi Kaltim. Dan dari situ, dengan mengandalkan biaya operasional yang tidak mencapai Rp 300 ribu itu berikut kemampuannya dalam menjahit, ia menjalani kerasnya tuntutan ekonomi kota minyak Balikpapan. (*)


Senin, September 29, 2008

Puasanya Kaum Dhuafa di Kota Madinatul Iman

SEANDAINYA diminta memilih, Sanibah lebih memilih setiap bulan adalah bulan Ramadan. Menurut gakin RT 07 Batu Ampar ini, puasa atau tidak, lambungnya juga jarang terisi nasi. Selain keadan yang membuat demikian, lanjut usia (lansia) yang tercatat sebagai warga miskin (gakin) ini mendapati kelainan di tenggorokan jika menelan suatu jenis makanan yang tidak dapat diterima tenggorokannya.
Sanibah tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung minyak dan santan. Kalau pun ada tetangga yang mendermakan makanan yang mengandung dua hal diatas, Sanibah yang kini berusia 60 tahun itu sekadar mencicipi. Selebihnya dikonsumsi suaminya Laode (63) dan dua anak angkatnya Pardiansyah (16) dan Yuliani (7). Sanibah hanya mampu mengkonsumsi rebus-rebusan saja.
“Sama aja. Biar ga puasa sehari cuma sekali atau dua kali makan. Puasa aku makan pas sahur aja satu sendok. Trus minum air banyak. Kalau buka makan biasa, itu juga nasinya sedikit,“ tutur Sanibah.
Pada umumnya, menjelang buka puasa, umat muslim menyiapkan hidangan buka puasa yang menggiurkan. Apalagi mereka berasal dari kalangan elite, hidangan terbaik dengan ragam menu lah yang disajikan. Tentu saja sebagai gakin, menyajikan hidangan berbuka yang lezat hanya sebatas mimpi bagi Sanibah. Hanya cukup satu menu, nasi dan air putih aja. Sedikit berbeda lah dengan suami dan anak-anaknya. Terkadang mereka mencampur air putih dengan gula. Agar air terasa manis, dan tubuh tetap bertenaga karena kandungan koarbohidrat pada gula, sehingga tetap fit menjalankan ibadah puasa.
Kondisi Sanibah saat disanggong Post Metro kemarin, sudah lebih baik dibanding terakhir kali bertemu. Sekira satu setengah bulan yang lalu, lansia yang dikaruniai empat anak dan telah berkeluarga itu terlihat susah sekali berbicara. Suaranya berat dan terputus-putus. Terkadang hanya bisikan berat yang terdengar ketika ia hendak mengatakan sesuatu. Kini pemandangan itu berangsur-angsur membaik. Sejak lima hari lalu, lansia berdarah Bugis ini rutin minum jamu tradisional. Jamu itu diberikan oleh anak angkatnya yang menetap di Somber, yang tidak begitu jauh dari kediamannya.
Yang namanya jamu, pasti rasanya pahit dan tidak enak. Untuk Jamu Cap Putri Sakti dalam kemasan botol kaca satu liter, yakni jamu yang ia konsumsi ini, rasanya pahit dan agak sedikit pedas. Kendati setelah minum jamu yang berkhasiat mengobati asam urat dan rematik itu langsug disorong dengan air, tetap saja rasa pahit itu ada dan lama menghilang. Namun, lansia ini amat bersyukur karena gurah yang selama ini menganjal di kerongkongannya berangsur-angsur berkurang. Sehingga ia mulai terlihat enak berbicara.
“Aku minumnya sedikit aja. Seperempat gelas kecil dua kali sehari. Sejak minum ini sudah nak, sedikit enak ini tenggorokanku. Ini tinggal setengah lagi,“ kisahnya sembari menunjukkan jamu yang ia maksud.
Sanibah juga tau benar, bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan barokah. Jika asmanya tidak kambuh, lansia dengan berat badan 29 kg ini rajin salat ke masjid. Tetapi, jika penyakit sesak itu kambuh, ia sungguh tidak mampu lagi. Terutama saat melaksanakan sujud. Ia takut saat itu ia tidak dapat bangkit kembali untuk selama-lamanya.
“Kalau longgar berinak (nafas) baru salat nak. Ngaji juga jarang, karena tarik nafas susah nak,“ keluhnya.
Jika rasa ngilu dibadan menyerang, Sanibah mengobatinya sendiri. Oleskan minyak kayu putih di pundak, kemudian melakukan pijatan-pijatan kecil semampunya. Tak jarang airmatanya berlinang karena tidak kuasa menahan rasa sakit itu. Lain halnya jika ada Yuliani, ia merasa sedikit terbantu. Sementara La ode sibuk mencari nafkah sebagai pemulung dan dibantu Pardiansyah mengutipi sampah di rumah-rumah RT 07 usai pulang sekolah. (*)





Minggu, Agustus 17, 2008

Siti Djahrah, Gerilyawan Wanita Yang Enggan Tinggalkan Rumah Dinas Berjalan Tanpa Alas Kaki, Jemput Pistol Revolver

Nama lengkapnya Siti Dzahrah. Zaman revolusi, diusianya yang masih muda, ia dipercaya membawa surat rahasia dan tergabung dalam ekstrimisme. Kini, pejuang RI asal Banjarmasin ini lebih memilih tinggal sendiri ditempat penuh kenangan semasa suami hidup.


GERILYAWAN kelahiran Kampung Walang 25 Januari 1930 ini cukup ramah menyambut kedatangan media ini, Rabu (13/8), meskipun datangnya lewat pintu belakang. Bergegas ia membungkus nasi yang tersisa sedikit itu, kemudian memasukkannya kedalam tudung saji. Tentu saja setelah mempersilakan aku masuk kerumah yang beralamat Jalan Mangga RT 24 Nomor 24 Mekar Sari itu.
“Beginilah. Duduk, seperti anak-anak kembali. Setiap hari makan, kalau capek tidur, salat. Salat itu kadang duduk kadang baring. Kada kuat kaki nenek. Mau nonton kada bisa melihat juga,” Siti Dzahrah langsung menyampaikan keluh kesahnya.
Siang itu, pejuang veteran asal Banjrmasin ini mengenakan daster berwarna merah hati yang dibalut lagi dengan kebaya yang warnanya sudah usang dimakan usia. Mengenakan kacamata tebal berbingkai hitam, guratan di wajah, kulit yang bergelambir dengan rambut putih, menunjukan usianya sudah lebih dari setengah abad.
Pemilik sapaan akrab Djah ini adalah satu dari sekian pejuang wanita sebagai ekstrimis di era revolusi tahun 1945 hingga 1949. Satu yang paling berkesan dalam ingatan wanita usia 78 tahun ini adalah, dimana ia bersama satu rekan bernama Saasiyah dipercayakan mengantar surat rahasia dengan misi menjemput pistol. Kala itu ia masih berusia 17 tahun.
“Bahari (dulu) kalau ga salah tahun 1947, jumat jam 10.00 Wita aku pegi. Aku pas dikelas. Jadi bilang sama guru, izin ada risalah na. Dikasi..,“ tutur ibu delapan anak ini.
Djah menjelaskan. Saat itu pria bernama Hami yang juga masih satu keluarga dengannya memutuskan hengkang dari keprajuritan Belanda. Hami memilih kembali bergabung dalam ekstrimis dan membawa lari satu pucuk senjata api atau biasa disebut pistol revolver. Djah tidak tau bagaimana bisa senjata itu kemudian pindah tangan, sehingga Hami menugaskannya untuk menjemput kembali sejata itu.
Mengenakan kebaya dengan selendang menggelantung dipundak, tanpa alas kaki, ia bersama Saasiyah menyusuri jalan dari hutan ke hutan yang berbukit-bukit. Melawan derasnya arus sungai tapin yang kedalamannya hingga dada mereka. Surat rahasia yang ditulis dengan kode revolusi itu pun dia simpan rapi di tas selempang berbahan dasar kain. Tentu saja saat melewati sungai, tas itu dijunjung tinggi agar tidak basah. Hingga akhirnya sampai ditempat tujuan, menyerahkan surat rahasia berisi perintah pengambilan pistol tadi kepada sudu gapar, si peranakan cina.
“Dari Kampung Walang ke Bitahan jaraknya 40 km. Pistolnya di tempat peranakan cina,” urai nenek 13 cucu ini sembari menambahkan ia kembali tiba di Kampung Walang pukul 15.00 Wita.
Jumat itu benar-benar terasa panjang. Setelah mengantar pistol dan tiba dirumah, baru saja hendak menyantap makan siang, deru suara mobil perang terdengar. Sejumlah pasukan tentara belanda mengepung rumah warga di Jalan Margasari itu. Tujuannya mencari gerilyawan perintis kemerdekaan laki-laki. Mendengar itu, anak pertama dari enam bersaudara ini segera memberitahu ayahnya untuk lari lewat pintu belakang. Dan tinggallah dia seorang diri didalam rumah. Tentara itu dengan garang menelurkan tembakan-tembakan ke langit-langit rumah dan berteriak lantang agar si penghuni rumah segera keluar.
“Waktu itu ada tiga kami wanita. Saya bilang orang laki ga ada, kerja di sawah tuan. Ditanya saya sudah belaki kah. Saya bilang, saya belum belaki tuan,” kenang nenek yang pernah menimba ilmu di sekolah agama normal islam.
Di era 50-an, hingga akhirnya ia memutuskan hijrah ke Balikpapan dan ikut dalam seleksi penerimaan pegawai penerangan di Kantor Kotamadya Balikpapan. Kala itu kantornya masih berada di Gunung Sari. Dan ia pun mendapatkan fasilitas rumah dinas, yakni yang ia tempati sekarang ini.
Di kota minyak ini juga ia bertemu pujaan hati Muhammad Basri. Dan sudah takdir Allah SWT, ia rela melepas kepergian Basri untuk selamanya pada 12 Mei 1989. Anak-anaknya telah dewasa dan berumahtangga, sehingga mengharuskan ia tinggal seorang diri di rumah semi permanen itu.
“Pernah diajak sama anakku di manggar, tapi aku sayang rumah ini. Banyak kenangan sama bapak,“ ujarnya sembari menatap foto besar tanpa warna, potret mereka berdua yang terpajang di dinding samping meja makan. (*)








Jumat, Juli 25, 2008

Renungan di Hari Anak Nasional


Tanggal 23 Juli adalah hari anak nasional. Di usianya, anak seharusnya menghabiskan sebagian besar waktunya belajar di sekolah serta bermain. Nyatanya di Kota Minyak sekalipun, masih banyak anak yang harus bekerja karena tuntutan ekonomi.

Selasa (22/7) pagi suasana Balikpapan berselimut mendung setelah hujan semalam suntuk. Sama seperti beberapa hari sebelumnya akhir-akhir ini. Melongok aktivitas kota Balikpapan diatas dua roda, di simpang empat lampu merah Balikpapan Baru, terlihat segerombolan anak-anak berpakaian lusuh dengan menggendong tumpukan koran. Kulit anak-anak itu berwarna gelap akibat seringnya menantang panas matahari. Rambut mereka tak ubahnya seperti rambut jagung yang kasar dan berwarna kecoklat-coklatan, dan tentu saja merupakan dampak dari penerang langit di siang hari.

Setelah sandarkan motor, yang tidak jauh dari simpang lampu merah, aku mencoba mendekati seorang diantara segerombolan anak-anak penjaja koran. Akibat sejumlah tanda tanya muncul di benak. Apa mereka masih bersekolah, ataukah sudah berhenti. Kenapa diusia belia mereka memilih kerja daripada bermain dan belajar. Seperti apa sih suka duka jadi pekerja anak. Seorang anak itu yang kemudian diketahui bernama Samuk, dengan terbuka menerima kehadiranku. Tentu saja setelah memperkenalkan diri dan menceritakan maksud dan tujuan.

Agak sulit lakukan komunikasi denganya. Matanya terkadang berputar kanan dan kekiri yang sepertinya mencari-cari jika saja ada yang memanggil dirinya untuk beli koran. Sesekali, Asmuk berlalu dari media ini manakala lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Satu persatu kendaraan yang berjejer itu ia tawarkan koran dengan menunjukkan halaman utama bagian atas, tetapi korannya dilipat dua sebelumnya, agar lebih mudah digenggam. Sesekali juga ia lari menyeberang jalan, manakala terlihat kendaraan dari seberang sana melambaikan tangan kepadanya. Yang ternyata pemilik kendaraan itu juga berniat membeli koran.

“Aku berenti sekolah pas naik kelas empat SD. Karena ga ada biaya bu,“ ucap anak berusia 13 tahun ini setelah sebelumnya aku mengajaknya menepi disalah satu sudut jalan.

Jual koran sejak dua tahun lalu, tidak jarang ia dan teman-temannya dikejar-kejar Satpol-PP saat gelar razia. Akibat ketakutan luar biasa, kaki berasalkan sendal jepit yang mulai usang itu pun lari menjauh. Sekencang-kencangnya, kemudian sembunyi dibalik rerimbunan pohon yang dia yakini tidak akan bisa ditemukan keberadaannya. Dan keesokan harinya, putera pasangan Lapinggiri dan Warima ini masih tetap jual koran seperti biasa, yakni mulai pukul 07.00 hingga 12.00 Wita.

Demam tinggi pernah ia rasakan, akibat tubuh cekingnya tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Sakit itu menuntun si bungsu dari lima bersaudara ini istirahat selama hampir satu minggu di rumah dan tidak bisa menyetor pendapatan yang biasa ia peroleh mulai Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu perharinya kepada orangtua. Dengan demikian, ia harus istirahat beberapa waktu dari membantu si ayah yang mencari nafkah sebagai buruh bangunan. Sementara ibu hanya sebagai ibu rumah tangga.

Selang beberapa waktu, seorang bocah yang nyata terlihat jauh lebih muda dari Samuk menghampiri dan sepertinya tertarik melihat perbincangan ini. Digendongannya terlihat masih bertumpuk koran-koran. Sepertinya ia baru saja tiba dan akan mulai berjualan koran.

“Ini bu. Masih sekolah. Namanya Mardin,“ tunjuk Samuk kemudian di sambut dengan senyum kecil bocah plontos itu.

Mardin, bocah plontos usia 9 tahun ini mengaku pulang cepat hari itu. sehingga ia bisa ikut jual koran lebih pagi dari biasanya. Mardin tergolong baru bergabung sebagai penjual koran, yakni saat libur kenaikan kelas beberapa waktu lalu. Jual koran pun ia mengakui lantaran di minta oleh ibunya untuk membant si ayah yang kerjanya sebagai buruh bangunan.

“Biar jual koran, aku ga pernah ngantuk di kelas,“ aku pemain olahraga futsal di SDN 013 Gunung Bakaran.

Karena postur tubuh yang mungil, tidak jarang pembeli koran milik mardin ini tidak meminta uang kembalian. Mungkin karena rasa iba melihat anak semuda itu harus ikut menopang hidup keluarga. Padahal Mardin masih punya tugas yang lebih penting lagi, yaitu belajar. Karena ia adalah calon pemimpin bangsa yang dipundaknya lah negara ini akan bersandar. (*)

Sabtu, Juni 14, 2008

Tunas Bangsa: Asmawati dan Arif, Rajin Belajar biar gampang cari kerja.

Penyakit dan Usia Bukan Alasan

Arif dan Asmawati, murid Asah Pena

Dalam dunia pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik.

Motivasi mengikuti proses pembelajaran demi meraih harapan dan cita-cita juga dirasakan oleh sejumlah anak usia sekolah yang berlatar belakang keluarga sederhana, bahkan kurang mampu. Keinginan besar mereka untuk memajukan taraf hidup ke arah lebih baik, mengalahkan rasa malu yang sesungguhnya melekat dalam diri mereka akibat faktor ekonomi ataupun usia. Satu yang mereka yakini, adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Mereka adalah M Arif dan Asmawati, masing-masing berusia 16 tahun dan 19 tahun. Keduanya adalah murid kelas 3 SMP Asah Pena Mawar 9 Balikpapan dan menetap di Kampung Ajiraden RT 6 Kelurahan Lamaru.

Arif-sapaan akrab M Arif,ia sempat merasakan bangku sekolah di sekolah formal. Sayangnya, akibat penyakit yang ia derita, si bungsu ini terpaksa putus sekolah dan menghabiskan waktu di rumah hanya sekedar membantu ibu di dapur. Saat resmi putus sekolah, sebenarnya Arif ingin bantu bapak ikut mencari ikan di laut, tetapi karena fisik, si bapak yang bekerja sebagai nelayan ini pun tidak mengijinkan.

“Dulu saya sempat merasakan duduk di bangku sekolah SMP. Saat pelajaran olahraga, penyakit jantung saya sering kambuh dan terkadang pingsan. Karena kasihan, bapak nyuruh saya istirahat di rumah, sekalian bantu ibu juga. Saya terpaksa putus sekolah,” pelan Arif menjelaskan saat ditemui media ini di kediamannya belum lama ini.

Sama halnya dengan Asmawati. Di lokasi yang sama, Remaja yang kini tinggal bersama si tante ini juga mengalami putus sekolah saat di bangku SMP akibat sakit anemia yang dideritanya. Dalam kesehariannya sebelum masuk Asah Pena, Asmawati membantu om dan tantenya yang bekerja sebagai penjemur ikan.

Suprapto, Koordinator Asah Pena wilayah Balikpapan Timur mengatakan M Arif dan Asmawati, keduanya adalah murid Asah Pena yang selalu terlihat serius dan tekun dalam belajar. “Saya lihat, semangat Arif dan Asmawati dalam belajar bukan main-main. Saya yakin jika mereka terus giat belajar ditambah lagi motivasi dari kerabat mereka, saya yakin mereka bisa menjadi orang yang berhasil. Sekolah di Asah Pena ini atas kemauan mereka sendiri, tanpa paksaan dari siapapun,” pungkas Wakil Kepala Sekolah SMPN 8 ini.(*)

Sabtu, Mei 24, 2008

asah pena

Penyakit dan Usia Bukan Alasan
Arif dan Asmawati, murid Asah Pena

Imay Sembiring

BALIKPAPAN — Dalam dunia pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik.

Motivasi mengikuti proses pembelajaran demi meraih harapan dan cita-cita juga dirasakan oleh sejumlah anak usia sekolah yang berlatar belakang keluarga sederhana, bahkan kurang mampu. Keinginan besar mereka untuk memajukan taraf hidup ke arah lebih baik, mengalahkan rasa malu yang sesungguhnya melekat dalam diri mereka akibat faktor ekonomi ataupun usia. Satu yang mereka yakini, adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Mereka adalah M Arif dan Asmawati, masing-masing berusia 16 tahun dan 19 tahun. Keduanya adalah murid kelas 3 SMP Asah Pena Mawar 9 Balikpapan dan menetap di Kampung Ajiraden RT 6 Kelurahan Lamaru.

Arif-sapaan akrab M Arif,ia sempat merasakan bangku sekolah di sekolah formal. Sayangnya, akibat penyakit yang ia derita, si bungsu ini terpaksa putus sekolah dan menghabiskan waktu di rumah hanya sekedar membantu ibu di dapur. Saat resmi putus sekolah, sebenarnya Arif ingin bantu bapak ikut mencari ikan di laut, tetapi karena fisik, si bapak yang bekerja sebagai nelayan ini pun tidak mengijinkan.

“Dulu saya sempat merasakan duduk di bangku sekolah SMP. Saat pelajaran olahraga, penyakit jantung saya sering kambuh dan terkadang pingsan. Karena kasihan, bapak nyuruh saya istirahat di rumah, sekalian bantu ibu juga. Saya terpaksa putus sekolah,” pelan Arif menjelaskan saat ditemui media ini di kediamannya belum lama ini.

Sama halnya dengan Asmawati. Di lokasi yang sama, Remaja yang kini tinggal bersama si tante ini juga mengalami putus sekolah saat di bangku SMP akibat sakit anemia yang dideritanya. Dalam kesehariannya sebelum masuk Asah Pena, Asmawati membantu om dan tantenya yang bekerja sebagai penjemur ikan.

Suprapto, Koordinator Asah Pena wilayah Balikpapan Timur mengatakan M Arif dan Asmawati, keduanya adalah murid Asah Pena yang selalu terlihat serius dan tekun dalam belajar. “Saya lihat, semangat Arif dan Asmawati dalam belajar bukan main-main. Saya yakin jika mereka terus giat belajar ditambah lagi motivasi dari kerabat mereka, saya yakin mereka bisa menjadi orang yang berhasil. Sekolah di Asah Pena ini atas kemauan mereka sendiri, tanpa paksaan dari siapapun,” pungkas Wakil Kepala Sekolah SMPN 8 ini.