Rabu, Agustus 19, 2009

Merdeka ku di Gn Sibayak

Aq lg senyum-senyum sendiri neh…
bukan krn seseorang, bukan krn rezeki nomplok, ataupun krn turun berat badan.... hehehheeeee….
Aq senyum, abis liat semangat mereka melakukan upacara HUT RI ke-64. Mulai dari gua grubug, dasar laut bunaken, puncak semeru, dll yg belum sempat aq saksikan di layar tv…
Trus kok senyum2??!!.. heheheee lagi…, ya iya lah..!! hal itu mengingatkan ku peristiwa dua tahun lalu…************

Tepatnya jelang malam pergantian tgl 16 ke 17 Agustus 2007, aq bareng puluhan temen2 Mapala bulatkan tekad merayakan HUT RI ke- 62 di puncak gn Sibayak Sumatera Utara.
Hosh.. hosh.. hosh.. semangat kaki menapaki jalan, membalut udara dingin yg menusuk sendi. Maklum lah, perkampungan di kaki gn Sibayak itu cukup dingin.. engg.. kira2 ada kali 23 derajat.. (mohon diluruskan klo salah)..
itu baru di kaki loh pemirsa, belum klo di puncak, di ketinggian sekisar 2200 lebih Dpl.. Brrrrr…..rrasa banget.. dingin dan aroma khas belerangnya.. *********.

Pukul delapan pagi Teng!! upacara dimulai..,
tidak ada kemeja, sepatu mengkilap atauw sikap sempurna.. sudah jadi khas penampilan anak2 Mapala, pakaian lusuh bertema Sang Petualang, rambut sembrawut, tdk ketinggalan Mitela melingkar di leher.
“Istirahat di tempaaaa..aatt grak!!!”, perntah pemimpin upacara. Buru-buru para peserta lipat kedua tangan di dada dan mengapit jari2nya di ketiak… hahahhaaa.. lucu juga.. udara dingin merubah ambil sikap mereka saat istirahat di tempat ..

senyum ku pun menjadi tawa kecil yg tersembunyi di balik handy cam yg ku sorot ke arah mereka *****************

Sabtu, Mei 23, 2009

konversi, sukses kah?!

Katanya, program pengalihan atau konversi minyak tanah ke gas elpiji untuk menghemat subsidi "penguasa". Tujuannya agar subsidi minyak tanah bisa dialihkan untuk subsidi yang lain. Masyarakat terlihat pro dan kontra dengan program itu. bagi yang kontra beralasan khawatir gasnya "meledak"!!...


Balikpapan terpilih sebagai kota perdana diluncurkannya program konversi minyak tanah ke gas elpiji di Kalimantan. Persiapannya diawali pencacahan atau pendataan oleh konsultan yang dipilih Upms VI Pertamina yakni PT Info Cahaya Hero pada Januari 2009. Adapun penerima paket konversi di Balikpapan mencapai 71 ribu rumah tangga sasaran. Penerimanya pengguna minyak tanah, baik kalangan keluarga miskin, pelaku UKM dan masyarakat umum dengan penghasilan di bawah Rp 1,5 juta.
GM Upms VI Pertamina Giri Santoso mengatakan, untuk minyak tanah pemerintah harus merogoh kocek sebesar Rp 3500 per liter. Sementara untuk subsidi gas elpiji pemerintah hanya merogoh kocek Rp 1700 per kilo gram.
"Selain mengirit subsidi, LPG juga irit pake. Dua liter minyak tanah itu setara pemakaiannya dengan satu kilo gram LPG," imbuh Giri.
Giri juga mengatakan, potensi penghematan di Balikpapan terkait program tersebut mencapai 50 miliar per tahun.
masyarakat Balikpapan, khususnya kalangan pedagang dengan penghasilan pas-pasan mengaku sedikit berberat hati terhadap program tersebut. Begitu tau ada konversi ia melakukan penimbunan. Karena,setelah pembagian paket LPG selesai, pertamina hanya akan menyediakan minyak tanah yang non sunsidi. Yang per liternya mencapai Rp 8000 lebih.
"Aduh, saya itu masih takut pake kompor gas, Nanti meledak. Ya itu aq kemarin banyak mbak beli minyak tanah. itu sudah ada itu di rumah 80 liter saya simpan. aq pake itu dulu mbak..," kilah Fatimah, salah satu pedagang gado-gado di kawasan lapangan merdeka.
kekhawatiran seperti itu didapati Pertamina. Mariadi, Kepala Operasi Gas Domestik Regional V Makasar menegaskan, tidak ada istilah tabung gas LPG meledak.
"kalau pun ada tabung yang bocor, akan menimbulkan bau seperti buah durian. Nah, kalau gas keluar dari tabung, bisa mengakibatkan ruangan terakumulasi. ini lah yang menyebabkan timbulnya suara keras," imbuh Mariadi.
memang ada baik dan buruknya kalau menggunakan LPG. Satu sisi kalau pemasangan tabulator tidak tepat, bisa menyebabkan kebocoran gas. dan bukan tidak mungkin bis amengakibatkan kebakaran. tapi disisi lain, memasak dengan kompor gas lebih hemat waktu dan merata hasil masakannya.
"Kalau saya dukung aja mbak. ga perlu takut, kan kita selain dapat kompor,LPG 3 Kg dan tabulator, kita kan dapat petunjuk pemakaian. klo ga ngerti nanti kan bisa minta tolong ke kelurahan," ujar salah satu penerima paket konversi Siti Aminah.
"Lagianmasak pake elpiji itu cepat, bisa hemat uang dan itu mbak peralatan dapur juga ga kotor (berjelaga, red)," tambahnya.
beranjak dari warga penerima paket konversi, sejumlah pengusaha kompor minyak tanah justru merasa diuntungkan. Kasinem, pemilik usaha kompor IDMAS mengatakan, seiring didengungkannya program konversi/ pembelian kompor minyak tanah per hari mencapai lima unit. Padahal sebelumnya, usaha yang berada di bilangan karang jati Balikpapan Tengah itu hanya mampu menjual dua unit per hari.
"Justru untung saya. Malah pernah kompor saya laku 20 biji. Masyarakat sini masih takut pake kompor gituan mbak..," tutur wanita paruh baya itu.
kendati meningkat, Kasinem melakukan ancang-ancang. mengingat si "penguasa" nantinya hanya menyediakan minyak tanah non subsidi. wanita yang menggeluti usaha kompor sejak 1968 itu berencana menjual kompor yang menggunakan batu bara atau arang,"
"Pokoknya kita ga kehabisan akal. apa mau pemerintah itu ya kita ikuti saja lah. saya ga takut rugi kok," pungkasnya mantap.

mendapati hal ini, pemerintah, khususnya pemda Balikpapan dan pertamina patut merasa was-was. apalagi di jawa sana ada yang kedapatan justru menjual paket konversi tersebut dan tetap memilih menggunakan minyak tanah.
sales area manager BBM pertamina Retail Kaltim Agus Taufik Harahap dalam suatu kesempatan, mengingatkan masyarakat penerima paket konversi, untuk tidak menjualnya. karena itu hanya merugikan diri sendiri.
"Satu misal, dalam satu hari rumah tangga bapak dan ibu menghabiskan satu liter minyak tanah. harga per liter minyak tanah itu kisaran Rp 3000. berarti dalam 8 hari, bapak dan ibu harus merogoh uang Rp 24 ribu. Tapi kalau Bapak dan Ibu menggunakan LPG, selama 8 hari cukup membayar Rp 12.500 saja," pesan Agus dalam sosialisasi program konversi di aula Balaikota Balikpapan.
terlepas dari itu, sejumlah pangkalan pun mengatakan tidak menyanggupi untuk menjual LPG 3 Kg. dengan alasan tidak mampu melakukan penebusan.
"Ya untuk itu Pertamina membuka kesempatan kepada masyarakat Balikpapan yang mau membuka pangkalan LPG. terutama untuk daerah pinggiran," imbuh humas Upms Vi Pertamina Bambang Iriyanto.

cukup rumit memang. ditengah keterbatasan kemampuan dan pemikiran sejumlah masyarakat, itu bertentangan dengan pemikiran "penguasa". sejumlah pangkalan pun mengatakan tidak menyanggupi untuk menjual LPG 3 Kg. dengan alasan tidak mampu melakukan penebusan. namun yakinilah pemerintah sang "penguasa" punya rencana jitu di balik itu. bisa saja, subsidi minyak tanah itu dialihkan untuk program pemerataan pendidikan dan mensejahterakan masyarakat. betul kah??!! (*)

Jumat, Februari 27, 2009

dinas pertanian

Dinas Pertanian Perikanan dan Kelautan Balikpapan, siapkan 150 ekor bibit sapi, sebagai program sapi bergulir di tahun 2009. Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kelautan Balikpapan Chaidar Chairulsyah mengatakan,saat ini program tersbeut masih dalam tahap pencarian tender. sementara untuk pelelangannya, dilaksanakan oleh tim satgas pembangunan.

"Aksi lelangnya akan berjalan satu bulan. itu kita mulai laksanakan pada April mendatang," sebut Chaidar lagi.

lebih lanjut, suami utami ini mengatakan, program yang menyedot APBD Provinsi 2009 sebesar satu miliar rupiah tersebut dalam rangka menyanggupi kebutuhan daging sapi di balikpapan. Selama ini, Rumah Potong Hewan (RPH) hanya mampu menyuplai satu persen dari kebutuhan daging sapi di Balikpapan di setiap bulan.

"Di Balikpapan kebutuhan sapi mencapai 750 ekor per tahun. sedangkan RPH kita hanya mampu menyediakan satu persen, lima sampai delapan ekor per bulan. dan untuk menutupi kekurangan itu, penjagal mengambil pasokan sapi dari sulawesi NTT sampai NTB," ujarnya.

"Nanti per ekor bibit sapi kita hargai lima sampai tujuh juta,. kita akan memberikannya kepada masing-masing kelompok" tambahnya lagi sembari mengatakan di balikpapan terdapat 70 kelompok tani.

Segala sesuatunya terkait kesuksesan program sapi bergulir, sudah dipersiapkannya matang-matang. Termasuk jika nanti ada penyelewengan dari petani. pihaknya akan membuat perjanjian dengan kelompok tani. Pun dilakukan pengawasan terhadap tumbuh kembang ternak sapi mereka kelak.

"Kita punya lima petugas penyuluhan untuk memantau kesehatan hewan ternak. namun, kita juga sudah ancang-ancang, jika program sapi bergulir ini tidak berjalan maksimal, kita akan lakukan inseminasi atau kawin suntik," ucapnya mantap.

Selain, sapi bergulir dinas yang berada di jalan marsma iswahyudi ini juga menyiapkan 150 hektar lahan untuk perkebunan karet. program ini menyedot dana apbd provinsi 2009 sebesar dua miliar rupiah.

Dan sama seperti lahan yang disiapkan untuk program sapi, bergulir, perkebunan karet ini tersebar di dua wilayah. yaitu Kelurahan Teritip Balikpapan Timur dan Kelurahan Karang Joang Balikpapan Utara.

"saat ini sudah tersedia 3000 hektar pertanian karet. Dan karet ini mbak, adalah komoditas unggulan di balikpapan loh," ucapnya seraya tersenyum.

Chaidar pun tidak menapik, sejak oktober 2008, harga karet turun hingga 60 persen. jika sebelumnya per kilo karet beku seharga 10 ribu rupiah, kini turun menjadi empat ribu rupiah per kilo gram.

"Krisis finansial ini akan lewat kok. Jadi karet nanti tetap memiliki nilai jual yang tinggi. karet ini bisa bertahan selama satu tahun. jadi sembari menunggu harga stabil, petani bisa beralih dulu ke tanam sayur," tandasnya."

Chaidar juga mengatakan, pohon karet ini akan terus berproduktivitas hingga usia 25 tahun. dan untuk satu hektar perkebunan karet mampu menghasilkan 20 kilo gram karet beku.(*)

Kamis, Februari 19, 2009

Karel Baginda Wafat

Rabu (18/02/09), langit tampak mendung. Bahkan terlihat butir-butir air langit yang jatuh ke bumi jelang siang itu. Yah,, hari itu sekira pukul 12.45 Wita, alam sedih dan berduka. satu sosok pejuang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang eksis sebagai veteran pejuang kemerdekaan, pergi untuk selamanya.

Innalilahi Wainalilahi Roji'un. Kepala Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Balikpapan Karel Baginda menghembuskan nafas terakhir di usianya yangke-83 dikarenakan sakit. Veteran Pejuang Kemerdekaan ini tutup usia pada Rabu 18 pebruari 2009 di kediaman putranya di kawasan Klandasan Ilir pukul 12.45 Wita.
Jenazah Baginda dimakamkan di taman makam pahlawan Dharma Agung, keesokan harinya sekira pukul 11.00 Wita. Prosesi pemakaman dilangsungkan secara militer oleh Denzipur Tanjungpura dengan inspektur upacara Letkol Amari Dullah.
Suasana haru mengiringi prosesi pemakaman, jelang siang itu. Sejumlah veteran dengan jubah kebesarannya, dan rombongan pemerintah kota yang diwakili Kabag Humas Sekdakot Balikpapan Adam Ari Muladi terlihat tunduk menatap sayu. Keluarga yang ditinggalkan mengaku tidak ada firasat apa-apa menjelang kematian Karel Baginda. Seperti yang disampaikan putra ke-10 Baginda Amir Husein kepada ku.
"Saya ga ada firasat apa-apa kok mbak. memang pernah itu beberapa kali saya mimpi. Bapak ngajak saya jalan-jalan, katanya mau ketemu Almarhumah Ibu. tapi kami anggap biasa saja dan kita bawa bapak langsung ke rumah sakit," kenang Amir Husein dengan mata sedikit sembab.
Satu yang tidak di lupakan pria berusia 37 tahun ini tentang sang Ayah.
"Dulu kecil, saya pernah minta mainan. Padahal saat itu kita tidak punya apa-apa mbak. Carimakan itu sulit sekali. Tapi Bapak itu saya ga tau dapat uang dari mana terus saya di belikan mainan itu," ucapnya sedikit menerawang dengan mata dagu yang terkatup.

Baginda berpangkat Letnan Satu Infantri ini mengantongi 14 bintang tanda jasa. Ia pensiunan kesatuan Batalyon Infantri 3 Mei Merdeka di Manado. sebelum meninggal Bapak 11 anak ini sempat di rawat di rumah sakit tentara selama 10 hari. berdasarkan diagnosa, kakek 27 cucu ini mengalami sakit ginjal. yang setelah itu ia dirawat rumahkan selama dua minggu dan akhirnya meninggal dunia.

Dimata para sahabat, Baginda adalah sosok yang sederhana, tegas dan pengayom. salah satu anggota LVRI Balikpapan Ahmadu yang kamis itu terlihat paling pagi ke makam mengaku mengagumi sosok Baginda. dengan terbata bata ia mengisahkan, kehidupan Baginda cukup memprihatinkan. Namuntidak pernah mengeluh.

"Dia (Baginda, red) ga pernah mengeluh kalau sakit. makanya saya kaget dengar dia masuk rumah sakit. Kalau liat rumahnya mbak, MasyaAllah, ga layak tinggal mbaak..saya sampai sedih lihatnya," ucap pria berusia 74 tahun itu.

senada diucapkan Sekretaris DPD Veteran Kaltim La Ode Djamani. Ia mengagumi sepak terjang Baginda dalam sejarah memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Sudah berapa periode ia dipercayai menjadi Kepala LVRI Balikpapan. ia pantang menyerah dah tidak mau terlihat susah di mata kami semua. ia sangat hebat. Dari Almarhum Baginda kita akan banyak belajar demi kelangsungan LVRI ini," ucapnya mantap.

Sekretaris Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Balikpapan Sukaryanto mengaku sangat kehilangan sosok Baginda yang penuh semangat. ia juga mengakui, sosok kepemimpinan Baginda bisa menjadi contoh tauladan bagi anggota lainnya.

"Yang saya ingat dari Karel Baginda, waktu HUT LVRI beberapa waktu lalu. saat itu dia sedang sakit namun bersedia menjadi inspektur upacara. dia senang bergurau sehingga membuat suasana menjadi akrab. semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan pun tetapsabar dan ikhlas," tutup sukaryanto tersenyum tipis. (*)

Senin, Januari 19, 2009

pak tani padi

Dihadiahi Hand Tractor, Petani Diundang ke Rumjab Wawali
Gapoktan “Tani Makmur” Karang Joang Panen Padi Perdana

KAMIS (9/10/08), merupakan hari bersejarah bagi empat kelompok tani Karang Joang yang tergabung dalam Gapoktan “Tani Makmur“. Hari itu merupakan panen perdana padi mereka yang juga dihadiri Wakil Wali Kota (Wawali) Balikpapan H Rizal Effendi SE.

Pagi itu, hujan deras membasahi bumi kota Minyak. Namun tidak menyurutkan rencana yang sudah disusun matang oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wilayah Utara khususnya Karang Joang untuk melakukan panen padi perdana secara simbolis. Yang rencananya panen simbolis itu dilakukan oleh Wakil Walikota Balikpapan H Rizal Effendi SE.

Perhelatan bertempat KM 12, tidak jauh dari Waduk Manggar itu, dikemas secara sederhana. Di tengah hamparan sawah, yang ukurannya tidak terlalu luas itu diatapi dengan terpal. Dibawahnya berjejer seadanya kursi plastik yang berhadapan dengan meja sepanjang dua meter di bagian tengah. Bukan hidangan mewah tersaji di atasnya. Hanya ada jagung rebus, singkong rebus, kedelai rebus dan buah pepaya yang membuat semua yang hadir disana tidak mampu berhenti mengunyah. Terlebih cuaca yang cukup membuat tubuh menggigil lantaran hujan.

Pukul 09.30 Wita, hujan masih mengguyur. Ketua Gapoktan “Tani Makmur” Ir Agus Basuki menyampaikan sambutannya. Disitu telah hadir Wawali, Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Kota Balikpapan Ir H Chaidar Chairulsyah, Kasubdin Tanaman Pangan Ir Heria Prisni, Camat Balikpapan Utara (Balut) Sugianto SSos Map, Lurah Karang Joang Djamhari, perwakilan dari BPS, RT setempat dan puluhan petani padi diwilayah tersebut.

Agus menyampaikan, bertanam padi adalah dalam rangka mendukung program pemerintah untuk Peningkatkan Produksi Beras Nasional (P2BN) sebanyak dua Ton. Sehingga Gapoktan “Tani Makmur” yang berada di Kelurahan Karang Joang mengembangkan penanaman padi di sawah. Mengingat pula telah dialokasikan dana pertanian sebesar Rp 450 juta dari APBN 2008 dengan target 100 Ha, petani padi Karang Joang mengambilnya sebanyak 30,5 Ha untuk padi sawah dan 20 Ha lagi untuk padi gunung atau ladang.

“Tapi saat ini kita hanya padi sawah. Padi ladang rencananya November yang rencananya di daerah sektor waduk manggar,” terangnya.

Agus mewakili para petani juga menyampaikan sejumlah harapan. Perbaikan infrastruktur/akses jalan dari lokasi persawahan sehingga melancarkan proses pengangkutan hasil pertanian. Pun diharapkan perbaikan saluran irigasi yang kini buntu akibat pembuatan jalan dalam kegiatan peninggian waduk manggar. Pengadaan mesin penggiling pun juga menjadi harapan utama mereka dengan asumsi bahwa produksi rata-rata per Ha empat Ton Gabah Kering Giling (GKG). Maka diperkirakan akan ada produksi gabah sekira 200 Ton.

“Mudah-mudahan petani akan terus berkarya dan terus maju dengan motto “Petani Makmur. Dan ini tidak bisa berkembang tanpa dukungan dari berbagai pihak,“ ucapnya seraya tersenyum.

Sementara itu, Kadis Pertanian Chaidar Chairulsyah menyampaikan apresiasi besarnya dengan kinerja “Tani Makmur” ini. Dan sebagai bentuk dukungan itu, Chaidar berjanji akan menghadiahkan masing-masing satu unit hand tractor dan power threser untuk semakin menyemangati para petani padi itu. Dengan harapan wilayah itu menjadi rancangan percetakan sawah supaya optimal hasilnya.

“Nanti mesinnya kita serahkan ke kelompok tani. Sekarang belum bisa karena masih dalam proses tender. Semoga dengan ini bisa meningkatkan kesejahteraan,“ harap Chaidar.

Sebelum seluruh yang hadir benar-benar turun ke sawah untuk memanen padi, Wawali pun didaulat untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Rizal mengaku kagum karena sangat jarang bisa menjumpai persawahan di daerah kota. Selain itu, dengan bertani padi juga membantu kelangkaan beras di Balikpapan. Juga masyarakat Balikpapan tidak perlu lagi membeli beras dari luar karena pasokan beras dari Kota Minyak sudah benar-benar mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Balikpapan.

“Saya mengundang para petani bertandang ke rumah jabatan wawali. Disana nanti kita akan buat pasa (13 okt)

salam tempel

Supaya Lebih Sopan, Anak-anak Tambah Semangat Bertamu Tradisi Angpau dan Ornamen Pintu saat Lebaran Idul Fitri

TRADISI memberikan uang receh bagi anak kecil yang berkunjung ke rumah saat lebaran Idul Fitri bukan hal yang baru bagi masyarakat Kota Minyak. Hanya saja budaya itu kini dikemas lebih rapi sama seperti tradisi masyarakat Tionghoa saat perayaan Imlek. Uang dimasukkan dalam amplop mungil yang dikenal dengan sebutan angpau.

Mengemas uang receh biasanya pecahan Rp 1.000, Rp 5.000, Rp 10.000, walaupun ada yang sampai Rp 50.000 bahkan Rp 100.000 per anak. Dulunya uang receh itu begitu saja diserahkan, biasanya ketika si bocah hendak berpamitan setelah menikmati jajanan lebaran. Namanya juga anak-anak, kalau tahu uang yang diberi pemilik rumah tergolong besar, pasti ada saja yang nakal dengan kembali berkunjung ke rumah yang bersangkutan.

Berburu angpau dilakukan lebih sering dilakukan anak-anak secara berjamaah. Tidak ada penunjukkan langsung siapa yang jadi pemimpin, namun ada saja anak yang dijadikan panutan sekaligus penunjuk jalan mana saja rumah yang angpaunya hendak diserbu.

Dengan munculnya angpau lebaran Idul Fitri, bocah-bocah lebih bersemangat untuk bersilaturahim walaupun tujuan utamanya ya angpau itu, atau mengantongi kue lebaran yang dianggap paling lezat serta minuman kaleng.

“Bapak kan anak tertua. Jadi kalau lebaran hari pertama pada ngumpul di rumah semua,” kata Lina, warga RT 04 Karang Jati yang baru saja membeli angpau lebaran.

Lina memborong dua plastik angpau Idul Fitri. Setiap paket isinya bisa lima sampai 10 angpau. Selain lebih praktis, angpau lebaran lebih terlihat sopan ketika akan diserahkan kepada anak-anak. Kesannya itu bukan seperti tamu datang kemudian diberi uang. “Biar lebih sopan saja, lagi pula amplopnya menarik, masih bisa disimpan buat kenang-kenangan,” kata Lina yang tercatat sebagai mahasiswi Politeknik Samarinda

Ukuran, bahan dan model amplop versi Idul Fitri sama seperti amplop untuk Imlek. Hanya saja, kalau amplop angpau Imlek ini hanya ada satu warna yakni merah dengan ukiran huruf kanji di atasnya. Ada juga gambar sepasang tokoh kartun, dengan mata sipit yang mengenakan baju Shanghai. Tokoh kartun wanita, rambutnya dikepang dua yang disertai sanggul berbalut kain merah, sementara kartun pria mengenakan penutup kepala menyerupai lobe dengan kunciran rambut yang panjang dibelakangnya. Kedua tangan kartun ini terkatup didepan dada seolah mengucapkan “Gong Tzi Fat Choy“.

Untuk versi Idul Fitri, terdapat aneka warna pilihan. Diantaranya merah, putih dan hijau. Motifnya pun beragam. Ada gambar masjid, ketupat dan orang yang sedang bersalaman dengan mengenakan busana muslim. Ada juga amplop dengan motif sedikit kekanak-kanakan, seperti gambar kartun yang lucu. Tapi tetap tidak meninggalkan suasana yang oleh umat muslim di Indonesia menyebutnya Lebaran. Karena disetiap amplop terdapat tulisan Selamat Idul Fitri, Minal Aizin Wal Faizin atau Mohon Maaf Lahir Batin.

Selain angpau lebaran, ada pula tradisi lain yang diadopsi yakni ornamen buat dipajang di pintu. Saat perayaan Natal, ornamen yang biasa dipasang di pintu berupa tokoh Sinterklas, bunga berbentuk bulat dan lainnya. Sementara ornamen pintu untuk lebaran Idul Fitri berbentuk masjid, ketupat, serta ucapan mohon maaf lahir dan batin.

“Harga angpau lebarannya murah kok, cuma Rp 3.000 per plastik, isinya 10 amplop. Kalau ornamen pintu, ada yang Rp 25 ribu, Rp 35 ribu tergantung bentuknya,” ujar seorang penjual di kawasan Damai.

Penjaga toko UD Adi Jaya, Anis mengatakan, jelang lebaran seperti sekarang, angpau Idul Fitri di tempatnya terjual sebanyak 500 amplop. “Rata-rata yang beli dari kalangan muda,” sebutnya.(*)


ga punya mukena

Kisah Gakin di Jl A Wahab Syahrani RT 64 Batu Ampar

LEBARAN sebentar lagi. Umat muslim bergembira menyambut datangnya Hari Kemenangan. Namun tidak demikian halnya kaum dhuafa satu ini, yaitu pasangan Paimung dan Sining serta seorang anaknya Robayah.

Kaum dhuafa ini, sepertinya tidak terlalu memikirkan apa yang harus dilakukan saat lebaran tiba. Seperti menyiapkan hidangan kue-kue kering, minuman ringan, membersihkan rumah dan menyambut kedatangan tamu.

Namun yang pastinya, pasangan suami istri (pasutri) Paimung dan Sinin serta satu-satunya buah hati Robayah tetap melaksanakan salat Id di masjid terdekat. Tidak memiliki mukena bukan menjadi alasan untuk tidak melaksanakan salat, karena masih ada sarung yang bisa dimanfaatkan untuk menutupi aurat. Karena momen itu hanya datang sekali dalam setahun, tentu saja sayang untuk dilewatkan.

“Abis salat, di sini aja (rumah, Red) gak kemana-mana. Gak ada uang,” ujar Robayah yang duduk di samping Sinin. Sementara Paimung sore itu belum pulang dari bekerja.

Yah, kemarin, media ini menyambangi kediaman Paimung bertempat Jalan A Wahab Syahrani RT 64 Batu Ampar (Batam). Keluarga yang telah 10 tahun menetap di Balikpapan itu hingga sekarang belum mengantongi kartu gakin. Padahal jika diperhatikan mereka termasuk dari kaum mustahik yang hidup dibawah garis kemiskinan, tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup benar-benar pas-pasan.

Pasutri ini mengira-ngira usia mereka sudah kepala tujuh. Dan Robayah mengira-ngira usianya telah mencapai kepala tiga. Dalam keseharian, Paimung bekerja sebagai pemotong rumput. Tapi secara manual, tanpa menggunakan mesin, lantaran Paimung tidak sanggup untuk memikul mesin pemotong rumput. Sementara Sinin, ia tidak dapat melakukan apa-apa. Tubuhnya yang ceking, kering dan keriput itu membuktikan bahwa lansia dengan rambut memutih itu tidak mampu bekerja keras. Sehingga dalam kesehariannya, Robayah lah yang mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga.

Tidak mengantongi kartu gakin, dikatakan Robayah lantaran belum memiliki surat-surat pindah yang lengkap dari tempat asal mereka yaitu Sanjai Sulawesi Selatan. Sehingga sulit bagi mereka yang hidup dari meminjam tempat dari saudara untuk memperoleh haknya sebagai keluarga miskin (gakin).

Rumah yang ditempati itu dari depan tampak seperti rumah biasa. Namun tak selamanya bagus diluar bagus juga didalam. Hujan lebat yang mengguyur Balikpapan disertai angin kencang beberapa waktu lalu, telah memporak-porandakan tempat Mandi Cuci Kakus (MCK), sehingga rumah itu telah tidak memiliki MCK lagi. Dan bukan hanya itu. Bangunan yang berdiri diatas tanah liat dengan bagian belakang berbatasan langsung dengan sungai kecil, telah menjadi mereng sekira 30 derajat. Mungkin jika kembali hujan lebat dibarengi angin kencang, rumah sangat sederhana itu akan roboh seketika.

“Takut tambah longsor nanti,” celetuk Sinin dengan suara kecil, pelan dan halus.

Rasa khawatir yang luar biasa, membuat keluarga malang ini berencana pindah. Pindah dengan membangun gubuk kecil yang menempel di salah satu kediaman sanak famili. Kediaman sanak famili itu juga tidak jauh dari tempat tinggalnya, karena masih mencakup satu RT. Namun karena berbenturan dengan biaya, terpaksa niat itu diurungkan. Padahal mereka sangat berharap sekali saat lebaran, telah menempati rumah barunya. “Rencana mau tambal dari rumah saudara, tapi belum ada dana. Katanya itu Rp 500 ribu. Kalau baju lebaran dikasi-kasi orang aja,“ tutur wanita bertubuh kurus itu.(*)

cerita nek pinah..

Kenang Almarhum Suami, Nenek Pina Menyendiri di Gubuk Reot
Cucu Tak Merestui, Batal Dipindah ke Panti Jompo

Begitu miris hati ini, jika melihat sekilas kehidupan Pina. Lanjut usia (lansia) ini seorang diri hidup di satu gubuk reot, tempat ia berteduh dari hujan, panas dan melepas lelah di malam hari. Sementara ia masih memiliki anak yang tinggal tidak jauh dari gubuknya.


PINA, tiga tahun lagi genap berusia 100 tahun. Namun, kekuatan tenaga yang ia miliki tidak menunjukkan bahwa ia telah berusia 97 tahun. Ia masih mampu berjalan menapaki jalan bertangga yang terjal tanpa bantuan apapun. Kecuali malam, ia butuh bantuan seseorang sebagai penuntun arah, karena ia sudah tidak mampu lagi melihat dengan sempurna.

Pina yang uzur lebih menyukai hidup dalam kesendirian, meskipun sangat terbatas. Sekira empat tahun lalu, warga Jalan Dahor 2 Kelurahan Baru Ilir ini mendirikan gubuk di lahan sempit, tepat belakang perumahan Pertamina, kawasan RT 49. Padahal saat itu, ia tinggal bersama putrinya yang telah berkeluarga di RT 47 yang tentu saja masih mencakup wilayah Baru Ilir.

Gubuk, ukuran mulai panjang dan lebar tidak lebih dari dua meter. Gubuk itu sendiri terbuat dari papan-papan bekas bangunan, seng, bambu, karpet dan kertas-kertas karton. Pina telah meminta tolong kepada pemuda setempat untuk membantu mendirikannya. Dan dalam gubuk itu ada kasur, kompor dan rak tua yang terbuat dari rotan untuk menyusun pakaian dan peralatan makan.

Di luar gubuk, terdapat dua drum berkapasitas 50 liter yang ditutupi dengan plastik yang ditimpa dengan sepotong kayu tebal. Tujuannya agar air tidak kemasukan kotoran. Dibagian atas, terdapat dua tali jemuran. Ditempat terbuka itulah Pina melakukan rutinitas Mandi Cuci Kakus (MCK). Disebelahnya ada kebun mini Pina sepanjang satu meter. Ia menanami tanaman singkong, pepaya dan masih ada beberapa jenis sayuran lain disana yang digunakan sebagai pauk.

Masalah air, ia mendapatkan yang layik, karena terdapat selang yang dialirkan dari sumber mata air Pertamina. Dengan adanya selang itu, tidak jarang warga sekitar turut menampung air dari di gubuk itu.

Udara dingin di malam hari seakan tidak ia rasakan karena ada selimut tebal yang mendekap erat tubuh rentanya. Sengatan dan nyanyian serangga penghisap darah pun bisa ia hindari dengan menggunakan kelambu. Sehingga lansia bertubuh ceking dan keriput itu bisa nyenyak dalam tidur. Sebagai penerang di malam hari, nenek empat cucu itu mengandalkan lampu botol. Ia telah benar-benar menyiapkan segala sesuatunya untuk menetap di gubuk itu.

Apa yang membuatnya lebih memilih tinggal di gubuk sempit di atas lahan yang bukan miliknya? Sementara masih ada rumah anak yang layak dan nyaman untuk ditinggali. Lansia yang telah menjanda sejak 30 tahun itu menuturkan, ia tidak selamanya menetap di gubuk. Terkadang ia pulang ke rumah anaknya yang bernama Sutimah di RT 47 itu, meskipun di hari terang ia memilih menghabiskan hari di dalam gubuk. Hanya saja, jika ia sedang ingin menyendiri, merenung atau mengenang masa-masa dulu bersama suami, ia memilih ke gubuk derita. Bisa saja satu hingga dua minggu ia bermalam di sana. Anak-anak tidak ada yang mampu melarang. Jarak yang tempuh dari gubuk ke rumah sekira 250 meter dengan medan yang menanjak.

Selasa (23//9) pagi, gubuk derita itu disambangi Istri Wakil Wali Kota, Hj Arita Rizal didampingi lurah setempat bersama Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM). Arita begitu mengkhawatirkan kondisi Pina yang hidup menyendiri. Setelah dibahas bersama lurah dan KPM, muncul rencana memindahkan Ibu tiga anak itu ke Panti Jompo.

Namun, seorang cucunya, Afendi, putra Sutimah yang telah berumah tangga itu merasa keberatan jika si nenek dibawa jauh darinya. Afandi memastikan bahwa ia mampu membiayai kehidupan Pina. Akhirnya, diputuskan, Pina harus beranjak dari gubuk dan kembali ke rumah. Selanjutnya gubuk itu akan dibongkar habis. Dan sebagai informasi tambahan, hari ini pihak kelurahan akan kembali menyambangi Pina dan menemui Afandi untuk meminta kepastian.

liat museum perang yukz

Murid SMP Diajari Nembak, Murid TK Nonton Film Latihan Perang

WIH, keren. Kini di Kota Beriman telah hadir museum perjuangan yang berlokasi di Rumah Jabatan (Rumjab) Kepala Hukum Kodam

VI/Tanjungpura. Mau lihat beragam atribut militer, senjata, granat tangan, dan seputar perlengkapan militer lainnya. Mau belajar menembak bisa juga loh atau nonton film latihan perang.

Museum Tanjungpura ini kemarin secara resmi dibuka untuk masyarakat umum oleh Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI Tono Suratman. Launching museum ditandai dengan kunjungan pelajar dan murid TK di lingkungan Yayasan Kartika.

“Aku kalau udah gede mau jadi tentara,” seru seorang bocah TK yang mengenakan seragam tentara lengkap dengan pangkat dan sempritan di lengan kanan.

Keliling melihat koleksi museum Tanjungpura tak hanya menciptakan kekaguman akan kekuatan militer Tanjungpura. Semangat juang dan rasa patriotik bangsa langsung bergelora. “Masuk museum gratis dan ini terbuka bagi masyarakat umum. Silakan bagi mereka yang ingin berkunjung, museum kami buka mulai pukul 09.00 hingga 15.00 setiap Senin hingga Jumat,” ungkap Kepala Museum Tanjungpura, Capten Chb Sartono yang juga Bintal Kodam VI/Tanjungpura.

Di ruang tengah museum, berjejer rapi aneka jenis senjata api, peluru serta alat komunikasi yang digunakan selama jajaran Kodam VI/Tanjungpura melakukan operasi menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Koleksi senjata api misalkan, tersimpan rapi dalam lemari kaca senjata kaliber 45 yang digunakan fretilin yang berhasil dirampas oleh anggota Yonif 621/MTG saat operasi Timtim tahun 1978. Sedangkan amunisi, diantaranya kaliber 12,7 milimeter. Jenis amunisi ini untuk senjata mesin berat Browning 50 HBFL yang digunakan oleh pasukan Yonif 611 Awang Long saat operasi Seroja di Timor-Timur tahun 1988.

Tak hanya peluru dan senjata api, terompet yang digunakan saat pemakaman prajurit yang gugur di daerah operasi dan sangkakala yang digunakan pada tahun 1964 juga terpampang di satu lorong. Bulu kuduk agak sedikit berdiri ketika tak jauh dari lorong tadi terdapat prasasti bertuliskan nama sejumlah prajurit yang gugur saat operasi mulai 1957 hingga 2005. Foto-foto pangdam dan Kasdam sebelum reorganisasi juga tersusun rapi di satu lemari kaca yang terkunci rapat semakin menambah rasa kecintaan akan kekuatan militer di tanah air. Sementara di luar bangunan museum, terpajang dua meriam asal negara Inggris dan Australia yang dioperasikan tahun 1942.

“Kalau nanti ramai pengunjung atau ada yang datang rombongan, bisa kita putarkan film dokumenter latihan tempur. Kita juga siapkan lapangan latihan tembak. Nanti menembaknya pakai senapan angin,“ jelas Sartono.

Dikatakan, tujuan mendirikan museum, untuk menggugah kembali semangat bangsa Indonesia untuk mencintai tanah air. Juga mengenang sejarah pendahulu yang berjuang mendirikan negara Indonesia. Sasaran utama adalah kalangan pelajar dengan harapan mampu menumbuhkan rasa cintanya kepada tanah air.(*)



Rabu, Desember 10, 2008

Yang Baru Pegadaian Syariah

Luncurkan Produk Mulia

Pegadaian syariah meluncurkan produk baru. Produk tersebut bernama mulia, singkatan dari murabahah emas logam mulia untuk investasi abadi. Kemasan produk ini berupa pembiayaan kepada masyarakat, yang berniat membeli emas batangan logam mulia, lewat pegadaian syariah.
Kepala cabang pegadaian syariah balikpapan nyoto margono mengatakan, produk pembiayaan emas batangan ini diluncurkan pada januari 2009.
Adapun emas batangan yang ditawarkan seberat lima gram, 10 gram, 25 gram, 250 gram dan satu kilo gram. Dan untuk menjamin karatase, akan diterbitkan sertifikat logam mulia.
Sembari menunggu launching, Margono mengatakan pihaknya tengah melakukan sosialisasi. Sosialisasi tersebut ditujukan kepada sejumlah lembaga seperti masjid dan lembaga kegiatan bersifat keagamaan. Sosialisasi tersebut berupa proses mengikuti produk mulia dan jangka pembiayaannya.

Eksistensi Perbankan Syariah di Balikpapan

Bank Syariah Nambah Satu

Jaringan perbankan syariah di Balikpapan akan bertambah satu, yakni Bank Pengkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Ibadurrahman. Pemimpin Bank Indonesia Balikpapan Causa Iman Karana mengatakan, diperkirakan pendirian bank itu pada akhir desember 2008.
suami nining ini mengatakan saat ini BPRS Ibadurahman kini dalam tahap administrasi. perbankan syariah itu tinggal menyerahkan rencana izin prinsip dan rencana kerja untuk 12 bulan kedepan. dan tahap selanjutnya, setelah mendapat tandatangan persetujuan dari pemimpin bi balikpapan, pengelola BPRS bisa beroperasi, selambat-lambatnya 30 hari setelah penandatanganan. Dan selambat-lambatnya 10 hari setelah beroperasi, mengirim laporan ke Bank Indonesia dan melakukan pemasangan papan nama.

didampingi staff perbankan Bank Indonesia Balikpapan Muhammad Ali, causa iman mengatakan BPRS Ibadurahman adalah cabang dari Kabupaten Penajam Paser Utara. Dengan bergabungnya BPRS Ibadurrahman, maka kota balikpapan memiliki enam perbankan berbasis syariah.

Dengan dibukanya perbankan syariah ini, Causa Iman mengatakan, indikasi perkembangan syariah di balikpapan mengalami pertumbuhan cukup pesat. Ini bisa dibuktikan dengan, pada awal 2009, BTN Syariah juga akan berkiprah di Balikpapan. pun dengan Bank Mega Syariah yang akan membuka cabang di tanah grogot.

Hingga oktober 2008, volume usaha tumbuh sebesar 19,75 persen dari tahun sebelumnya. Yaitu dari 306 miliar rupiah pada oktober 2007, tumbuh menjadi 367 miliar rupiah pada oktober 2008.

Sementara dana dari pihak ketiga, lanjut causa iman, pada Oktober 2007 sebesar 254 miliar rupiah, naik menjadi 304 miliar rupiah pada oktober 2008.

Sedangkan kredit bermasalah, causa iman mengatakan masih relatif kecil. Pada tahun 2008 mencapai 1, 73 miliar rupiah lebih.

dampak krisis ekonomi global

Penjualan kendaraan bermotor, elektronik menurun
harga obat meningkat

Terhitung oktober dan november 2008, penjualan kendaraan bermotor mengalami penurunan. Seperti cv semoga jaya, dealer sepeda motor merk Honda. Dealer ini mengalami penurunan mencapai 30 persen angka penjualan sejak dua bulan terakhir. dan ini merupakan dampak dari inflasi atau ketidakstabilan dolar amerika serikat.

Supervisor marketing CV Semoga Jaya Ramos Silalahi menuturkan, target penjualan di tahun 2008 setiap bulan adalah 150 unit. Sementara pada bulan oktober penjualan 131 unit dan november mencapai 120 unit. Sementara angka penjualan terakhir yang melampaui target pada bulan September, yakni sebesar 247 unit. Menurut ramos, ini disebabkan pada bulan tersebut ada satu perusahaan yang membeli sepeda motor honda sebanyak 51 unit.

Ramos sendiri mengaku tidak tahu persis apakah penurunan angka penjualan ini lantaran masyarakat menunggu dollar stabil atau mengalihkannya ke infestasi lain, seperti membeli emas. Namun untuk meningkatkan penjualan pihaknya meluncurkan produk. antara lain memberi bonus setiap pembelian sepeda motor atau memberi subsidi hingga 800 ribu rupiah setiap pembelian sepeda motor dengan cash.

Sementara itu, sales supervisor dealer mobil merk daihatsu dodi juliadi mengatakan, ketidakstabilan ekonomi berpengaruh dari segi permintaan customer dan penjualan. Dikatakan, pada oktober dan november masing-masing angka permintaan sebanyak 85 dan 73 unit. Sementara dari segi penjualan pada bulan yang sama, masing-masing sebanyak 74 dan 86 unit. Sehingga jika dipresentasekan penurunan mencapai 15 persen.

Dodi memprediksikan, 2009 untuk pemesanan produk daihatsu akan stabil di angka 70-an. Namun untuk Desember ini, Dodi menargetkan penjualan dan permintaan mencapai 100 unit.

pasar komputer di balikpapan juga makin lesu sejak oktober hingga desember ini. karyawan mascom balikpapan safik mengatakan sebelum dua bulan terakhir itu, omzet penjualan mencapai Rp 500 juta per bulan. namun kini mengalami penurunan mencapai 20 persen.
safik melontarkan, sebelum fluktuasi nilai tukar dollar amerika serikat, dalam satu hari masccom mampu menjual 10 perangkat komputer. namun sejak dua bulan terakhir, dalam satu hari, ia hanya terjual lima sampai tujuh perangkat komputer.

krisis ekonomi global juga terasa dari sektor kesehatan. harga obat dipasaran naik 0,97 persen. hal ini diamini Manager Apotek Pelayanan Kimia Farma di jalan soekarno hatta km 2,5 balikpapan, Zul Ikhwan. namun itu tidak sepenuhnya karena krisis ekonomi, melainkan juga kebutuhan baku obat-obatan dari negara Cina juga mengalami kenaikan harga lantaran langka.
ia mencontohkan beberapa item yang mengalami kenaikan hatga. antara lain anti biotik merk amoxan 500 mg yang sebelumnya Rp 37.200 per strip, sejak November menjadi Rp 38.200. pun dengan obat anti jamur merk nizoral tablet 200 mg. semula Rp 14.200 naik menjadi 14.300 per tablet.ul ikhwan
Zul Ikwan mengatakan, ada beberapa item obat yang malah mengalami penurunan. penurunan itu sudah berlaku sejak maret 2008. item-item itu adalah obat-obat esensial yang sudah menjadi konsumsi rutin si pasien. contohnya, obat anti diabetes glimel, sebelumnya Rp 11.400 per tablet, hingga sekarang bertahan di harga Rp 2.300 rupiah. pun dengan obat tekanan darah captensin, semula Rp 30 ribu per strip, hingga sekarang bertahan di harga Rp 8.000.

Selasa, November 25, 2008

Jawara Administrasi RT Tk Kota 2008


Tegen dan Misto menunjukkan penghargaan sebagai jawara lomba administrasi tk kota balikpapan 2008

Swadaya Beli Komputer, Bangun Balai Serbaguna
Kiat RT 33 Menjadi Jawara Administrasi

PANTASLAH RT 33 Kelurahan Sumber Rejo Balikpapan Tengah (Balteng) meraih peringkat pertama, dalam lomba administrasi RT tingkat kota tahun 2008. Upaya yang dilakukan ketua RT yang kala itu masih dijabat oleh Misto beserta msyarakat sungguh maksimal. Bagaimana tidak. Secara swadaya RT yang dihuni 102 Kepala Keluarga (KK) membeli seperangkat komputer dan mendirikan balai serbaguna. Dibalai serbaguna itulah, komputer diletakkan disana untuk entry data. Dibalai itu juga rutin kegiatan posyandu dan periksa kesehatan lansia, disamping rapat pengurus.
"Pembenahan administrasi ini juga, saya hanya meneruskan semasa RT ini dipegang pak Tegun. Dan semua upaya ini juga tidak terlepas dari bantuan masyarakat setempat," kelakar Sumito pada Selasa (25/11).
Untuk diketahui Misto menjabat sebagai Ketua RT 33 pada 2005-2008. Dan sejak Juli 2008-2011, RT 33 dibina oleh H Sumarlan Tegen. Beliau jugalah yang menjabat sebagai ketua RT 3 periode berturut-turut, kemudian digantikan Misto. Dan kini, Tegen kembali dipercayai warga untuk membina RT seluas kurang lebih 1 ha tersebut.
Menjumpai Misto di balai serbaguna, didampingi Tegen dirinya mengatakan yang menjadi kriteria penilaian dalam lomba, bukan semata administrasi RT terkait luas wilayah, penduduk, surat menyurat dan biaya-biaya. Kata Misto, penilaian juga terkait administrasi posyandu, siskamling dan lingkungan. Dan saat itu tim penilai diantaranya dari unsur Polresta dan Pemkot Balikpapan.
"Disini kalau ada kegiatan, pasti langsung dicatat. Kematian, kedatangan, sumbangan dari luar dan swadaya masyarakat. Dan saat penilaian itu, semua seksi-seksi ditanyain sama tim penilai," ujar Misto.
Disamping piagam dan piala, Selaku sang jawara administrasi tingkat kota, RT 33 telah mengantongi uang pembinaan sebesar Rp 17,5 juta. Dan hadiah itu telah diserahkan langsung oleh Wali Kota Balikpapan H Imdaad Hamid SE di dome pada Minggu (23/11). Akan dimanfaatkan untuk apakah dana itu? Tegen melanjutkan, sebagai ketua RT 33, dirinya berencana memanfaatkan hadiah itu untuk seragam ibu-ibu PKK, membeli mesin perintis dan menggerakkan cleen green heality (CGH). Tegen menuturkan, di lingkungannya masih ada lahan kosong. Rerumputan disana akan dirintis, kemudian ditanami apotik hidup atau toga dan sayur-sayuran.
"Sebenarnya kita untuk CGH juara 3 tingkat kelurahan. Dan ini akan kita gerakkn lagi. Tapi tujuan utama dari ini semua bukan semata juara. Kita ingin merangsang rasa sadar akan kebersihan, kesehatan dan semangat gotong royong kepada masyarakat," pungkasnya.(*)




latihan jurnalistik


beginilah gaya priyambodo saat memberi pembekalan

 
“Sikat Sampai Licin, Kayak Kepala Kecoak"


PELATIHAN Jurnalistik media pers dan kehumasan digelar Humas Pemkot Balikpapan. Bertempat Aula Balaikota, pelatihan berlangsung sejak 25-26 November dan diikuti sedikitnya 50 peserta. Berikut isi dari pelatihan tersebut.


MATERI yang disuguhkan di hari pertama pelatihan, yakni Selasa (25/11) Peningkatan Cyber Media Jurnalistik. Sebagai pembicara Priyambodo RH Direktur Eksekutif lembaga pers Dr Soetomo (LPDS).
Priyambodo membocorkan bagaimana agar website kehumasan pemerintahan asik dan lebih interaktif. Ketika memiliki portal, penulisan dalam gaya blog biasa menggunakan bahasa formal dan dominan berisi saran. Kata dia, supaya menarik, baiknya jika disitus itu disisihkan kolom komentar. Karena situs itu official, sifatnya resmi, tetaplah mengacu kepada 5 W + 1 H (who what where when why + how). Tetapi libatkan juga apa nilai lebihnya.
“Saya ingat waktu kecil dulu. Bapak saya dari angkatan. Jadi saya disuruh sikat sepatunya. Sikat sampai licin, kayak kepala kecoa, kata bapak. Begitu juga dengan artikel atau berita. Kredibel dan kapabel. Agar beritanya dibaca orang berkualitas, buat konsep yang berbobot. Harus ada fakta, nara sumber dan back ground. Yang berbicara adalah orang yang punya hak semisal kepolisian untuk kasus kriminal dan saksi mata. Buka juga situs google sebagai penambah bahan,” ulasnya dan menambahkan panduan untuk kehumasan antara lain hindari ’benar sendiri’, kemukakan akurasi informal, manfaatkan ’off the record’ (hak ingkari nara sumber), manfaatkan Teknologi Informasi (IT), berkelakarlah secara kreatif dan yakinkan wartawan adalah mitra.
Pengajar di Galeri Fotografi Jurnalistik ANTARA (GFJA) juga menerangkan, dalam penulisan jangan langsung menggambarkan imajinasi, tetapi perhatikan dari segi pelayanan publiknya. Contoh, lanjut ayah tiga putri ini, saat kita membicarakan tentang lokasi wisata. Ceritakanlah proses perjalanannya, harus naik apa, berapa lama, ongkosnya berapa jika naik bis atau taxi. Bukan semata menuliskan eksoktik lokasi wisata itu sendiri. Dengan demikian, berita itu juga menyentuk untuk kepentingan publik, bukan semata mengangkat lokasi wisatanya saja.
Alumnus International Institute for Journalism (IIJ) di Berlin itu berbicara blak-blakan. Ia selalu serius dan cepat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta yang lebih didominasi oleh kehumasan yang bermitra dengan Pemkot Balikpapan. Diantaranya Telkomsel, Lanud, TV Beruang, Polresta, PT Angkasa Pura dan RS Bhayangkara.
Suami ATS Ernawati ini juga menyoroti kebebasan pers dalam menggali berita. Satu contoh, tentang kasus mutilasi. Ketika media terlalu menuliskan secara detail bagaimana si pelaku memotong komponen-komponen tubuh korban, bisa berpengaruh kepada selera publik. Cilakanya, ketika media terlalu menuliskan secara detail proses mutilasi, tidak sebanding dengan ulama dan polisi yang ada.
“Ada temuan pers agak amburadul atau kacau balau. Karena di Indonesia ada kultur wartawan adalah profesi yang terbuka. Kalau di luar negeri, wartawan tertutup. Mereka harus kursus jurnalistik, sehingga mengetahui kode etik, etika dan tatacara sebagai insan media pers. Sekarang berbalik. Seperti ahli kesehatan di rumah sakit, bukan dari sarjana kedokteran. Begitu juga dengan jurnalistik,“ ungkapnya.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Bidang Multimedia itu menyampaikan bahwa ketika berita dimuat dan disosialisasikan ke publik, itu sudah menjadi tanggungjawab redaksi bukan penulis. Stack holder supaya tidak terjadi kesalahpahaman penyalahgunaan. Ketika wartawan menggebu-gebu buat suatu berita, dan kebenaran redaktur juga sepaham dengan si wartawan sehingga tidak disaring dengan baik. Sementara itu bertolak dari apa informasi yang didapat dilapangan. Sebab itulah, pesan dia, kawan-kawan dari kehumasan menjalin hubungan baik dengan wartawan (insan pers). Buru-buru dia tambahkan, supaya tidak ada kesalahan persepsi, tidak ada salahnya memberi informasi melalui blog dengan bahasa formal.
Lepas daripada itu, kebijakan pengelolaan informasi berbasis internet perlu diterapkan kalangan humas, guna meningkatkan kinerjanya secara profesional. Sementara Teknologi Informasi (IT) dan sejumlah hal lainnya yang bersifat teknis, hanyalah alat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan penyebaran informasi. Sedangkan faktor kemanusiaan dan kecepatan mengendalikan gagasan untuk segera mempublikasikan adalah faktor utamanya. (*)



Senin, November 24, 2008

Ketika Veteran Belum Mendapatkan Tunjangan dari Pemerintah

ASAH OTAK: Djamani, dikala senggang, memilih mengisi TTS, bertemankan secangkir kopi.




Masuk Sel Belanda, Djamani Seperti Kaset Tanpa Judul


Veteran mengantar nyawa, berjuang mengembalikan kemerdekaan kepangkuan ibu pertiwi. Sedikit mengherankan. Kendati telah turun Peraturan Pemerintah (PP) mengenai Tunjangan Hari Tua (Tupat) Veteran Republik Indonesia (RI), hingga saat ini mereka dan keluarga tidak dapat menikmatinya.

SEBAGAI veteran pembela kebenaran (masa-masa 1963 hingga 1976) yang berjuang dalam pembebasan Irian Barat, Djamani hingga saat ini belum mendapatkan tunjangan dari Pemerintah RI. Padahal berdasarkan PP RI Nomor 34 Tahun 2008 yang berlaku sejak tanggal 1 januari 2008, para veteran berhak menerima tunjangan setiap bulan.
Nominal tunjangan yang disebut-sebut sabagai Tupat itu sendiri disesuaikan berdasarkan golongan, yakni golongan A hingga E. dan untuk veteran pembela masuk dalam golongan E dan berhak dapat tunjangan sebesar Rp 746 ribu setiap bulan.
“Kita sudah dapat piagam penghargaan dari presiden sebagai tokoh kehormatan. Saya bingung, kita tokoh kehormatan harus menunjukkan surat miskin baru bisa dapat tunjangan,” keluh Djamani dengan nada datar.
Pemilik nama lengkap La Ode Djamani ini sebenarnya tidak mau menuntut banyak. Dijumpai di Kantor Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Balikpapan kemarin, ia berujar asal ada asap di dapur dan mampu biayai sekolah si buah hati saja, itu sudah cukup. Lantaran tidak mau menuntut banyak itulah, ia mencukupi kebutuhan hidup dengan mengandalkan keahliannya sebagai tenaga penjahit. Yah, dengan membuka taylor di rumah kontrakan yang sederhana berlokasi di Komplek BTN Manggar Baru itu ia berjuang menafkahi istri dan seorang anak yang kini duduk di bangku kelas V SD.
Djamani, lahir di Kaimana Irian Jaya 25 Oktober 1946. Tahun 1961, Djamani tergabung dalam Tri Komando Rakyat (Trikora), yang mana Trikora itu terbentuk atas perlawanan dengan cara militer terhadap Belanda yang tidak senang atas berubahnya status RI dari negara serikat menjadi negara kesatuan. Djamani sendiri berjuang di irian lokal, tepatnya di Kalimana, tanah kelahirannya.
Banyak pergolakan yang perlu mendapat perlawanan para pejuang. Terutama dari sisi politik, hingga akhirnya kisah penjajahan Belanda berakhir pada 1 Mei 1963. sepanjang perjuangan itulah, Djamani bersama pejuang lainnya merasakan pahitnya kehidupan sebagai negara terjajah. Tokoh-tokoh perjuangan disana, selalu dan dapat mengatasi kepentingan pertikaian yang terjadi, yang biasanya berakhir dengan penangkapan-penangkapan tokoh pejuang itu.
“Selama pergolakan itu, kelihatan bahwa penindasan terhadap pertumbuhan bangsa kita sangat tidak manusiawi. Golongan separatis tertindas. Itu sangat saya rasakan dari segi pendidikan dan pekerjaan juga dari segi fisik,“ kenang Djamani.
Sejenak mata layunya menerawang. Suami Sariyonah itu mencoba mengingat kejadian-kejadian yang ia alami pada masa pembelaan. Selang beberapa detik, ia membenarkan posisi duduknya diatas kursi, menarik nafas panjang dan kembali bercerita. Pada masa Trikora, jika pribumi dilihat mengenakan busana berwarna merah, putih atau atribut-atribut lain dengan kombinasi warna atau salah satu diantaranya, akan langsung dijegal komplotan Belanda. Pribumi itu langsung diangap sebagai kaum separatis dan langsung dihajar habis-habisan oleh tentara Belanda itu.
Pernah satu ketika, Djamani bersama sekerumput anak muda lainnya duduk bersantai di satu sudut jalan. Hanya sekadar kumpul-kumpul anak muda menghabiskan waktu.
Apesnya, sejumlah tentara Belanda yang melintas malah mereka adalah sekelompok anak muda yang membentuk demonstrasi, menuntut kebebasan. Sontak, penjajah kulit putih berbaju loreng itu menghujankan pukulan bertubi-tubi, tanpa ampun kepada Djamani dan 19 rekan lainnya. Tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan, sekerumput anak muda itu pun di boyong ke tahanan dan mendekam disana didalamnya dua hari. Djamani mengaku sangat geram saat itu. Namun apa daya, persenjataan dan kekuatan penjajah lebih kuat dibanding mereka.
Yang berkesan pada masa itu, bagi pemilik Nomor Pokok Veteran (NPV) 20.000.764 itu adalah masa-masa setelah pembebasan Irian Barat. Rasa kebebasan berpendapat dan berbuat, kendati harus diatur dengan peraturan kenegaraan, membuatnya bisa lebih leluasa mengeluarkan pendapat.
Terlepas dari itu, Djamani pun mencoba mengadu nasib, dari Ambon kemudian ke Balikpapan bersama sang istri. Seolah Dewi Fortuna sedang tidak bersamanya, saat turun dari kapal, tas tentengan berisi dokumen penting seperti ijazah perguruan tinggi saat ia lulus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum dan Tata Negara di salah satu universitas di Jayapura, rahip di gondol pencopet. Pencopet itu mengira tas itu berisi uang, sehingga si pencopet memotong tas itu dari bawah hingga pegangan tas.
“Itulah kata teman-teman, saya ini ibarat kaset tanpa judul. Saya punya ilmu yang bisa saya sampaikan ketika saya terdaftar sebagai guru. Tapi apa buktinya. Ijazah saya sudah tidak ada,“ ucapnya seraya tersenyum kecil.
Untungnya, dokumen penting lainnya seperti Surat Keputusan (SK) Veteran, piagam penghargaan dari Presiden RI dan satya lencana karya satya tidak termasuk isi dari tas tenteng itu. Hingga akhirnya ia berjumpa dengan Karel Baginda, Ketua LVRI Balikpapan dan menunjukan SK itu. Kini, jadilah ia sebagai sekretaris markas daerah LVRI Provinsi Kaltim. Dan dari situ, dengan mengandalkan biaya operasional yang tidak mencapai Rp 300 ribu itu berikut kemampuannya dalam menjahit, ia menjalani kerasnya tuntutan ekonomi kota minyak Balikpapan. (*)


Pedagang Serbu Dinas Pasar


Minta Pasar Pandansari Baru Segera Beroperasi

BALIKPAPAN--Sebagian pedagang tempat penampungan sementara (TPS) Pasar Pandansari sudah tidak sabar untuk menempati bangunan baru. Apalagi dengan kejadian kebakaran yang menghanguskan 174 lapak pada Sabtu (15/11) malam. Kebakaran yang melanda Pasar Pandansari sudah dua kali terjadi, kejadian pertama berlangsung dua hari setelah perayaan Idul Fitri lalu.
“Kami minta supaya pedagang dipindahkan ke gedung baru, kalau tidak kami akan mengerahkan massa yang lebih banyak,“ tandas Ketua Tim 12, Andy Welly yang juru bicara pedagang TPS Pasar Pandansari kemarin. Andy Welly pada Senin (17/11) datang bersama puluhan perwakilan pedagang yang hingga kini berjualan di TPS.
Menanggapi tuntutan itu, Kepala Dinas Pasar Drs H Achmad Ilhamsyah MSi menyatakan belum bisa memenuhi keinginan pedagang untuk pindah ke gedung yang baru.
Alasannya, wali kota telah membuat kebijakan, Pasar Pandansari yang selesai direhab total baru akan diserahkan tanggal 26 Desember nanti. Pasar tradisional itu nantinya akan dikelola langsung oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT).
“Saya mohon bapak-bapak dan ibu-ibu bersabar. Kita harus senasib dengan 1.400 pedagang lainnya. Tanggal 26 Desember oleh pelaksana, baru diserahkan wali kota ke Dinas Pasar,“ ujar Ilhamsyah kepada perwakilan pedagang TPS Pasar Pandan Sari.
Masih di Dinas Pasar, Andy Welly menyatakan, dirinya mengherankan, kenapa pedagang hingga kini belum mengetahui dimana ia akan ditempatkan di gedung baru. Rencana pengundian nomor pedagang sudah sejak lama mencuat namun tak kunjung dilakukan.
“Di shopping, bangunannya belum jadi, pedagang sudah tahu nomor berapa. Di sini (Pasar Pandansari, Red), gedung sudah jadi, pedagang belum tahu nomor berapa,“ katanya.
Pertemuan antara perwakilan pedagang TPS Pasar Pandansari dengan pihak Dinas Pasar berlangsung kurang lebih satu jam. Pedagang juga sempat mempertanyakan bagaimana nasib mereka jika harus menunggu lebih dari satu bulan menempati kios baru.
Ilhamsyah yang sore itu didampingi Kepala UPTD Wilayah VI Sepinggan H A Baharuddin dan bBdang Sosial Budaya Alpur menyampaikan, paling lama dalam dua hari ini, pihaknya akan membersihkan sisa puing-puing kebakaran yang menghanguskan sebanyak 174 lapak tersebut. Sehingga pedagang bisa membangun tenda sementara dan kembali berjualan seperti biasanya.
“Kalau tenda, apakah dibangunkan oleh pemerintah atau bangun sendiri. Kalau boleh pemkot, itu kan hanya satu bulan. Mungkin untuk yang jualan sayur atau pisang, itu kan bisa saja jualan sementara waktu. Kita segera bersihkan puing-puing itu,“ janji Ilhamsyah.
Lebih jauh ia mengemukakan, untuk undian nomor, akan dilakukan usai pembersihan puing-puing kebakaran. Kata dia, pencabutan nomor undian akan berlangsung selama 10 hari. Alasannya, ada 1.400 lapak yang itu tidak mungkin diselesaikan satu atau dua hari. Setidaknya dalam satu hari, bisa 140 nomor yang akan diundi.
“Saya minta pedagang secepatnya supaya menahan diri. Zoning sudah, tapi nomor undian belum. Ini akan kita konsep sebaik-baiknya agar nanti tidak ada lagi pedagang yang komplain,” imbuhnya.
Ilhamsyah sendiri mengatakan UPT saat ini hanya diperkuat tujuh orang. Jumlah itu akan diperbanyak dengan cleaning service (CS). Karena sementara ini, CS ada dibawah pengurus pedagang. “Karena ini UPT, dikelola langsung. Jika nanti ada WC buntu, lampu mati, jangan ada yang komplain ke wali kota. Karena untuk perbaikan itu tidak akan diambil dari APBD,“ tandasnya.
Selain itu Ilhamsyah juga menekankan, pihaknya tidak bisa memerintahkan pedagang untuk segera pindah, lantaran masih terbentur dengan masa pemeliharaan bangunan oleh pihak kontraktor yang baru akan selesai pada 26 Desember.
”Kita tidak bisa langsung main pidahkan begitu saja, sebab sesuai prosedur pedagang bisa pindah setelah masa pemeliharaan bangunan selama 90 hari atau tiga bulan selesai dan diserahkan kepada pemkot,” ujar Ilham.
Beberapa waktu lalu, lanjutnya lagi, Dinas Pasar sempat memindahkan lokasi tempat sampah yang sebelumnya berada di badan jalan, menuju tempat sampah yang ada sekitar kawasan bangunan baru. Keinginan tersebut sempat disoal dengan PT Karunia Wahana Nusa selaku pemenang tender proyek dengan alasan masih dalam masa pemeliharaan, namun karena adanya desakan pedagang akhirnya pihak kontraktor menyetujuinya.
”Kita mau saja mempercepat pemindahan, tapi mau bagaimana lagi sudah prosedurnya seperti itu. Jadi pedagang bisa pindah setelah di atas tanggal 26 Desember,” jelas Ilham.
Kembali ia menjelaskan, kondisi pasar yang baru dibangun belum sepenuhnya sempurna. Masih ada beberapa yang belum diselesaikan kontraktor, seperti pengadaan pintu utama, pintu rolling besi masing-masing kios pedagang serta atap bangunan yang masih terlihat bocor. Oleh karena itu, pihaknya berharap agar sebelum tanggal 26 Desember, seluruh pengerjaan bangunan, terutama fisik sudah bisa terselesaikan. Sedangkan untuk pengelolaannya, kemungkinan besar tidak akan diserahkan pada pihak swasta, melainkan dialihkan upaya penguatan Unit Pelaksana Tugas (UPT) Pasar Pandansari.
”Masih ada beberapa yang perlu dibenahi lagi. Dan kita akan mengupayakan pengundian kios dilakukan sebelum tanggal 26 Desember, setelah itu baru kita benahi manajemen pengelolaannya dengan memperkuat UPT,” pungkasnya.
Sebelumnya di balaikota, Wakil Wali Kota (Wawali) H Rizal Effendi SE menjelaskan, gedung Pasar Pandansari yang baru nantinya akan dikelola oleh Unit pelaksana Teknis (UPT). Dan tidak ada pihak ketiga atau swasta dalam hal ini. UPT dibawah Dinas Pasar itu nantinya akan diperluas dan penambahan personel. Sehingga sistem manajemennya nanti adalah semi swasta.
“Kita sudah sampaikan ke Kepala Dinas Pasar untuk segera lakukan pengundian, agar Desember pedagang sduah bisa menempati kios barunya. Dan mereka korban kebakaran yang diprioritaskan dalam hal ini,” ujar wawali. (*)

Cara Memotong Unggas Berdasarkan Syariat Islam

17 Penjagal Ayam Ikut Pelatihan


BALIKPAPAN--Dinas Pertanian (Diptan) Subdin Kehewanan dan Peternakan bersama Majelis Ulama Indonesia pada Selasa (18/11) menggelar pelatihan bagi 17 penjagal ayam yang ada di Balikpapan. Kegiatan pelatihan yang dilangsungkan di sekretariat sementara MUI yakni Badan Amil Zakat (BAZ) tersebut merupakan tindak lanjut hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan saat Ramadan lalu. Dari hasil sidak diketahui jika sejumlah penjagal tidak memahami cara memotong ayam berdasarkan syariat Islam. Dalam pelatihan sehari itulah, penjagal diberikan pemahaman soal cara yang benar memotong ayam baik dari sisi kesehatan maupun syariat Islam.
“Cara memotong ayam haruslah HAUS, singkatan dari Halal, Aman, Utuh, Sehat,“ ujar Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Drh Noorlenawati.
Dia menjelaskan, Halal adalah tidak bersentuhan dengan barang atau zat yang diharamkan, semisal kandang babi. Aman, tidak membahayakan seperti mengandung kotoran yakni debu, bulu, rambut dan pecahan gelas. Juga secara biologi tidak mengandung virus, bakteri dan parasit. Dari segi kimia tidak mengandung pestisida, logam berat dan racun. Utuh artinya murni. Tidak dikurangi atau ditambahi zat apapun.
“Sehat, si ayam dalam kondisi baik, tanpa pewarna, daging dan pori-pori bulu putih bersih, agak mengkilap, dan tidak berbau. Dada dan paha kenyal. Pembuluh darah dileher dan sayap bersih tidak terdapat darah. Jadi kalau ada yang suntik ayam, itu salah pak. Air itu ada kumannya dan daging jadi lekas busuk,“ papar Noorlenawati.
Lebih jauh, wanita berjilbab ini menuturkan, Rumah Pemotongan Ayam (RPA), seyogianya dilengkapi sarana membersihkan pisau, berisi larutan desinfektan, lodofor atau air panas. Untuk penjagal berakal sehat jasmani dan rohani. Syarat lainnya antara lain baju bersih, mengenakan tutup kepala, serta mencuci tangan.
“Hal penting segera potong ayam, bulu disingkirkan dan tidak boleh meniup daging (daging disuntik, Red),“ tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Balikpapan Djailani Mawardi yang didaulat sebagai pembicara, lebih menekankan kepada rukun dan sunah penyembelihan. Dirinya menyampaikan, ada lima rukun penyembelihan dan empat sunah dalam menyembelih (selengkapnya lihat boks, Red).
“Seorang pedagang akan mendapat pahala apabila cara jual belinya sesuai dengan ketentuan Islam, bahkan rasulullah SAW. Demikian halnya dengan para penjagal, mereka akan mendapat nilai ibadah dari yang mereka kerjakan itu. Karena melayani kepentingan masyarakat atau ummat dengan syarat memenuhi ketentuan syariat Islam,” ujarnya meniru salah satu Firman Allah SWT.
Sebaliknya, jika mengabaikan dan melawan ketentuan syariat, lanjutnya, akan mereka para penjagal akan gagal dari ibadah bahkan menjadi Maksiat (Durhaka kepada Allah SWT) dosa dan akan mendapatkan laknat.
Djailani Mawardi juga mengingatkan, untuk pemotongan tenggorokan dan kerongkongan, itu tidak boleh dua kali. Namun untuk pemotongan urat nadi itu diperbolehkan.
Satu lagi pembicara dari Komisi Fatwa MUI H Nashirul Haq Lc MA. Dirinya membeberkan, ada anggapan bahwa bangkai ayam itu sah dikonsumsi. Dengan dalih menjadi mubazir, dan mubazir adalah kawannya setan. Padahal, lanjutnya, mengonsumsi bangkai ayam (ayam mati sendiri tanpa dipotong) itu adalah tidak sah. Alasan kuat, bangkai mendatangkan penyakit karena terkandung mubarok didalamnya.
“Penyembelihan belum sempurna, kemudian meninggalkan dengan alasan yang kuat, jika tempo waktu singkat hitungan beberapa menit kemudian dilanjutkan, itu boleh dilakukan. Namun, jika ditinggal hingga mencapai satu jam, itu sama saja sudah menyiksa hewan dan tidak diperbolehkan,“ ulasnya seraya menambahkan anggapan itu oleh sebagian ulama mengatakan penyembelihan belum sempurna, sehingga tidak layak lagi untuk dilanjutkan.
Masih di tempat yang sama Sekretaris MUI Drs H M Jailani menjelaskan, penjagal yang ikut pelatihan tidak pulang dengan tangan kosong. Para penjagal ayam itu, akan mendapatkan sertifikat dan badge. Juga baju seragam yang menunjukan bahwa mereka adalah penjagal ayam potong yang resmi dan telah mendapatkan sertifikat dari MUI.
“Sertifikat dan badge sedang kami proses. Tadi mereka sudah kami foto. Kira-kira satu minggu lah sertifikat dan badge nama itu bisa diambil,“ imbuh Jailani. (*)

Proses/prosedur menyembelih:
1. Doa Bismillahi Allahu Akbar
2. Memutuskan jalan nafas, jalan makanan, jalan darah dengan sekali gerakan, tanpa mengangkat pisau dari leher dan tidak langsung memisahkan kepala.
3. Pisau dibersihkan setiap lima menit atau saat pisau kotor.
4. Celupkan kedalam air panas pada suhu 70-80 derajat. Biarkan 1-2 menit. Ini merupakan proses memanaskan kulit agar bulu ayam mudah dicabut.
5. Setelah cabut bulu, potong kepala, leher, ceker dan keluarkan jeroan
6. Pencucian cepat, air bersih dan tidak terlalu dingin. Pencucian dilakukan dengan menyemprot karkas dengan keras.
Sumber: Diptan Balikpapan

Rukun Penyembelihan:
1. Harus beragama Islam.
2. Menyebut Nama Allah yaitu dengan membaca Bismillahi Allahu Akbar.
3. Hewan yang disembelih halal dimakan.
4. Menggunakan alat (pisau, parang, dsb).
5. Pelaksanaan penyembelihan memutuskan kerongkongan dan tenggorokan dan memutuskan urat tempat saluran makan dan minum.
Sumber: MUI Balikpapan

Sunah-sunah Menyembelih:
1. Menyelembih dengan pisau tajam.
2. Menghadapkan hewan yang disembelih ke arah kiblat.
3. Orang yang menyembelih menghadap arah kiblat.
4. membaca sholawat kepada nabi Muhammad SAW
Sumber: MUI Balikpapan






Biaya Hidup di Kota Minyak Terus Meningkat



Bulan Mei Rp 3,2 Juta, September Jadi Rp 3,7 Juta

BALIKPAPAN--Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat turut mempengaruhi perekonomian masyarakat Indonesia termasuk di Kota Minyak. Inflasi (gejala kenaikan harga secara umum) tinggi, kemampuan memenuhi kebutuhan menjadi berkurang. Hal itu bukan semata terjadi pada sektor keuangan riil, nilai rupiah pun ikut terpengaruh. Bukan hanya pemerintah, pelaku industri dalam negeri yang mengandalkan produk impor untuk modal, komponen dan bahan baku juga kena imbas.
Kepala Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Badan Pusat Statistik (Kasi IPDS BPS) Kota Balikpapan, Agung Nugroho S ST mengatakan, perbedaan sedikit mencolok terlihat dari rata-rata pengeluaran untuk biaya hidup masyarakat Balikpapan. Dilihat dari segi pendapatan, pada tahun 2006, masyarakat Balikpapan yang berpenghasilan dibawah Rp 1499.999, mengeluarkan biaya hidup dalam sebulan sebesar Rp 135.083. Memasuki tahun 2007 meningkat menjadi Rp 142.328, sehingga mengalami peningkatan sebesar Rp 7.245 (selengkapnya lihat boks, Red).
“Berpenghasilan diatas Rp 600 ribu yang paling besar pengeluarannya. Pada tahun 2006, rata-rata pengeluaran Rp 1.085.115. Tahun 2007 meningkat menjadi Rp 1.107.262, sehingga mengalami peningkatan Rp 2192.377,“ sebut Agung.
Jika tadi secara rinci pengeluaran biaya hidup berdasarkan pendapatan, maka memasuki tahun 2008, BPS telah mengkalkulasikan biaya hidup keseluruhan masayarakat Balikpapan. Disebutkannya, pada Mei 2008, dalam kategori biaya hidup terbesar, Balikpapan masuk dalam peringkat ke-8 yakni Rp 3,22 juta perbulan. Biaya terbesar adalah Jakarta yakni Rp 4,3 juta menyusul Aceh Rp 3,8 juta dan Jayapura Rp 3,70 juta. Rata-rata pengeluaran biaya hidup tersebut, tambahnya, untuk empat orang.
“Skala Nasional, kita urutan ke-8. Tapi regional Kalimantan, kita nomor satu,“ tambahnya seraya menyebutkan posisi kedua adalah Pontianak dengan rata-rata Rp 3,03 Juta, menyusul Samarinda Rp 3,02, Sampit 2,65 dan Palangkaraya 2,61.
Bulan Mei, krisis yang diduga akibat anjloknya saham karena terlalu jor-joran kredit perumahan tersebut telah terasa. Ditambah lagi dengan kenaikan harga BBM, kebutuhan hidup pun semakin meningkat. Ini bisa dibuktikan dengan terus meningkatnya kebutuhan hidup dari bulan kebulan.
Data terakhir BPS Kota Balikpapan, lanjutnya, pada September 2008, biaya hidup empat orang masyarakat Balikpapan, melonjak hingga mencapai Rp 3,762 juta. Dengan laju inflasi selama bulan September 0,43 persen. Namun lonjakan ini, membuat posisi Balikpapan yang tadinya urutan ke-8 nasional, melorot jadi urutan 16. Sementara posisi pertama tetap pada biaya hidup di Jakarta yakni Rp 5,641 juta, menyusul Jayapura Rp 4,98 juta dan Aceh Rp 4,92.
Angka tersebut diatas menunjukan, betapa semakin meningkatnya biaya hidup. Sehingga masyarakat kecil menjadi semakin terpuruk. Untung saja, Pemkot Balikpapan telah menyediakan anggaran khusus untuk keluarga miskin (gakin). Sebesar 2,5 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Balikpapan itu dibelanjakan untuk kesejahteraan gakin. (*)

Rata-rata Pengeluaran Sebulan Menurut Golongan Pengeluaran 2007

Golongan Pengeluaran Perkapita Perbulan Rata-rata Pengeluaran
<>Rp 150.000 – Rp 199.999 Rp 177.452,19
Rp 200.000 – Rp 299.999 Rp 263.371,46
Rp 300.000 – Rp 399.999 Rp 348.565,66
Rp 400.000 – Rp 499.999 Rp 448.539,39
Rp 500.000 – Rp 599.999 Rp 544.986,74
Rp 600.000 + Rp 1.107.262,98


Rata-rata Pengeluaran Sebulan Menurut Golongan Pengeluaran 2006

Golongan Pengeluaran Perkapita Perbulan Rata-rata Pengeluaran
<>Rp 150.000 – Rp 199.999 Rp 173.769,20
Rp 200.000 – Rp 299.999 Rp 258.716,66
Rp 300.000 – Rp 399.999 Rp 352.138,36
Rp 400.000 – Rp 499.999 Rp 448.521,54
Rp 500.000 – Rp 599.999 Rp 550.313,23
Rp 600.000 + Rp 1.085.115,74

Sumber: BPS Kota Balikpapan






Senin, September 29, 2008

Suka Pakai Jilbab, Bocah Bersisik Hafal Doa Makan

Saat aku menyambangi rumah Hj Rohana, orangtua angkat Amanda di Gang Sepakat RT 47 Manggar, bocah bersisik itu sedang tidak di rumah. Amanda sedang asik bermain di rumah tetangga dan langsung pulang ke rumah saat Rohana berteriak memanggilnya dari jendela rumah dari jendela belakang.
Amanda sepertinya sedikit heran melihat ada banyak orang berdiri di teras rumahnya. Memang, kali ini Post Metro hadir bersama rombongan dari Badan Amil Zakat (BAZ) dan Bukit Damai Indah (BDI). Tujuannya adalah berbagi paket ceria dengan Amanda.
“Ma...mama... itu ada olang datang ma...,“ teriak Amanda saat tiba di rumah dan langsung masuk memanggil Rohana yang dianggapnya sebagai ibu kandungnya. Tentu saja setelah melepas kedua alas kakinya di depan pintu. Tergopoh-gopoh Rohana keluar dan mempersilakan rombongan ini masuk kekediamannya.
Amanda tampaknya semakin cerdas. Saat dimintai mengucapkan doa, dengan cepat ia mengucapkan doa makan. Lucu dan mengharukan. Ditengah kondisi fisik yang sedari lahir tanpa pori-pori kulit, ia dengan lancar mengucapkan doa, yang tentu saja sesuai ciri khas bocah usia tiga tahun.
“Allohumma baalik lanaa, fiima lozaqtanaa waqinaa adzabannaal...,“ ucap Amanda kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Sontak membuat semua yang hadir semakin merasa terharu dan kagum dengan Amanda.
“Ayo baca doa lagi. Coba baca doa mau tidur. Biar dapat hadiah dari ibu-ibunya,” rayu Rohanah yang duduk di samping Amanda.
Bocah yang terancam buta karena rentan mengalami iritasi mata itu sepertinya sangat menyayangi Rohana. Saat ditanya, dimana ibu kandungnya, dengan polos Amanda menjawab ibunya telah lari dengan orang. Dimana ayah, ditanya begitu, ia menjawab di penjara karena nakal. Rohana sendiri mengatakan, jika si ayah keluar dari tahanan, bocah itu enggan ikut ayah. Amanda juga tidak mau ikut dengan Ibunya yang telah tega meninggalkannya sedemikian lama.
“Sudah satu tahun ia tidak bertemu ibunya. Pernah ibunya nelpon katanya lagi di Penajam. Anaknya juga ga mau. Ya sudah lah, saya juga bisa menjaga Amanda,” ujar Rohana sembari tersenyum menatap Amanda.
Ekspresi dan raut wajah Amanda selalu datar. Ia tidak bisa tersenyum atau tertawa lebar. Karena memang kulitnya seperti beku dan kaku, sehingga sulit digerakkan oleh otot-otot urat saraf. Tapi dari sikap Amanda yang acuh menunjukan bahwa ia senang dikunjungi. Itu bisa dilihat dari tatapan kedua matanya.
Bisa juga perilaku riang Amanda karena ia baru saja dihadiahi Handphone (HP). Eits, bukan HP beneran, tapi mainan yang bentuknya menyerupai HP, dan bisa mengeluarkan melodi jika ditekan tombol-tombolnya. HP itu nyaris selalu tergantung di lehernya. Saat ditanya Amanda mau menghubungi siapa? Ia hanya menatap lugu media ini kemudian tersipu malu.
“Kira-kira satu minggu lalu saya ke DKK, terus dikasih obat dan uang untuk Amanda. Saya belikan mainan itu. Senang dia itu,“ ucap ibu yang sore itu berbalut daster panjang dengan rambut tertutup topi haji berwarna pink.
Keceriaan terpancar di kedua bola mata bocah mungil itu kembali terlihat saat Sinta, staf BAZ, menghadiahinya sepasang busana muslim. Busana itu berwarna soft pink. Amanda pun terlihat manis saat Sinta memasangkan jilbab kemudian merapatkan baju itu ke badan Amanda. Saat jilbab hendak dilepas, Amanda ngotot tidak mau melepasnya. Sepertinya ia menyukai hadiah itu. Padahal yang dikhawatirkan ia akan merasa gerah dan kepanasan karena kulitnya tidak mampu menyerap keringat.
“Telimakacih ya bu…,” ucap Amanda tersipu sambil terus memainkan ujung jilbab yang ia kenakan.
Disamping Paket Ceria Ramadan (PCR) dan busana muslim, Amanda juga mendapatkan santunan. Badrus staf BAZ, menyerahkan dana santunan itu lewat Rohanah. Ia menyampaikan dana santunan itu untuk menjaga kesehatan Amanda sembari menunggu saatnya Amanda diboyong ke Jakarta Eye Center (JEC) untuk mengoperasi kelopak mata. Operasi yang belum bisa dipastikan kapan, lantaran kulit paha Amanda yang rencananya dipakai untuk transpalasi kulit itu masih bersisik, sehingga tidak mungkin digunakan untuk kelopak mata. (*)








Puasanya Kaum Dhuafa di Kota Madinatul Iman

SEANDAINYA diminta memilih, Sanibah lebih memilih setiap bulan adalah bulan Ramadan. Menurut gakin RT 07 Batu Ampar ini, puasa atau tidak, lambungnya juga jarang terisi nasi. Selain keadan yang membuat demikian, lanjut usia (lansia) yang tercatat sebagai warga miskin (gakin) ini mendapati kelainan di tenggorokan jika menelan suatu jenis makanan yang tidak dapat diterima tenggorokannya.
Sanibah tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung minyak dan santan. Kalau pun ada tetangga yang mendermakan makanan yang mengandung dua hal diatas, Sanibah yang kini berusia 60 tahun itu sekadar mencicipi. Selebihnya dikonsumsi suaminya Laode (63) dan dua anak angkatnya Pardiansyah (16) dan Yuliani (7). Sanibah hanya mampu mengkonsumsi rebus-rebusan saja.
“Sama aja. Biar ga puasa sehari cuma sekali atau dua kali makan. Puasa aku makan pas sahur aja satu sendok. Trus minum air banyak. Kalau buka makan biasa, itu juga nasinya sedikit,“ tutur Sanibah.
Pada umumnya, menjelang buka puasa, umat muslim menyiapkan hidangan buka puasa yang menggiurkan. Apalagi mereka berasal dari kalangan elite, hidangan terbaik dengan ragam menu lah yang disajikan. Tentu saja sebagai gakin, menyajikan hidangan berbuka yang lezat hanya sebatas mimpi bagi Sanibah. Hanya cukup satu menu, nasi dan air putih aja. Sedikit berbeda lah dengan suami dan anak-anaknya. Terkadang mereka mencampur air putih dengan gula. Agar air terasa manis, dan tubuh tetap bertenaga karena kandungan koarbohidrat pada gula, sehingga tetap fit menjalankan ibadah puasa.
Kondisi Sanibah saat disanggong Post Metro kemarin, sudah lebih baik dibanding terakhir kali bertemu. Sekira satu setengah bulan yang lalu, lansia yang dikaruniai empat anak dan telah berkeluarga itu terlihat susah sekali berbicara. Suaranya berat dan terputus-putus. Terkadang hanya bisikan berat yang terdengar ketika ia hendak mengatakan sesuatu. Kini pemandangan itu berangsur-angsur membaik. Sejak lima hari lalu, lansia berdarah Bugis ini rutin minum jamu tradisional. Jamu itu diberikan oleh anak angkatnya yang menetap di Somber, yang tidak begitu jauh dari kediamannya.
Yang namanya jamu, pasti rasanya pahit dan tidak enak. Untuk Jamu Cap Putri Sakti dalam kemasan botol kaca satu liter, yakni jamu yang ia konsumsi ini, rasanya pahit dan agak sedikit pedas. Kendati setelah minum jamu yang berkhasiat mengobati asam urat dan rematik itu langsug disorong dengan air, tetap saja rasa pahit itu ada dan lama menghilang. Namun, lansia ini amat bersyukur karena gurah yang selama ini menganjal di kerongkongannya berangsur-angsur berkurang. Sehingga ia mulai terlihat enak berbicara.
“Aku minumnya sedikit aja. Seperempat gelas kecil dua kali sehari. Sejak minum ini sudah nak, sedikit enak ini tenggorokanku. Ini tinggal setengah lagi,“ kisahnya sembari menunjukkan jamu yang ia maksud.
Sanibah juga tau benar, bulan Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan barokah. Jika asmanya tidak kambuh, lansia dengan berat badan 29 kg ini rajin salat ke masjid. Tetapi, jika penyakit sesak itu kambuh, ia sungguh tidak mampu lagi. Terutama saat melaksanakan sujud. Ia takut saat itu ia tidak dapat bangkit kembali untuk selama-lamanya.
“Kalau longgar berinak (nafas) baru salat nak. Ngaji juga jarang, karena tarik nafas susah nak,“ keluhnya.
Jika rasa ngilu dibadan menyerang, Sanibah mengobatinya sendiri. Oleskan minyak kayu putih di pundak, kemudian melakukan pijatan-pijatan kecil semampunya. Tak jarang airmatanya berlinang karena tidak kuasa menahan rasa sakit itu. Lain halnya jika ada Yuliani, ia merasa sedikit terbantu. Sementara La ode sibuk mencari nafkah sebagai pemulung dan dibantu Pardiansyah mengutipi sampah di rumah-rumah RT 07 usai pulang sekolah. (*)