Kamis, Juli 31, 2008

Pintar dan Cerdas Emosional, Kunci Menjadi Anak Berguna

Anak yang belajar dan menunjukkan kepintarannya di sekolah negeri belum tentu ketika dewasa kelak bakal menjadi orang sukses. Sukses tidak semata ditentukan oleh kepintaran otak, melainkan juga kemampuan memanage emosional.


Joko meraung-raung dan menangis sejadi-jadinya, memanggil ibunya yang sedang memasak di dapur. “Mbok..huaaa…huaaa, iku ono telek..(ada kotoran)!! resi i.. resi i(bersihkan),” raung Joko sambil menunjukkan ke pahanya yang ada kotoran ayam, saat sang ibu datang. “Kok iso ono telek ayam le,” tanya ibu yang bernama Sastro ini seraya membersihkan kotoran itu dari paha buah hatinya.
Baru saja beranjak masuk dan akan membersihkan tangan, kembali terdengar rengekan si Joko. Dan dengan tergopoh-gopoh, Sastro kembali menghampiri Joko. “Mbok...baleni..(kembalikan),“ pinta Joko seraya menunjukan kotoran ayam yang telah dibersihkan sang ibu. Sastro dengan sikap sabar dan tenang, memungut kembali kotoran itu dari tanah, kemudian meletakkan kembali ke paha Joko.
Selang beberapa saat ketika melangkahkan kaki menuju rumah, Sastro kembali dikejutkan dengan rengekan Joko, yang kali ini jauh lebih keras. Kali ini, Sastro ingin menangis menahan emosi melihat tingkah laku putra kecilnya. Namun, ia berusaha membendung air matanya, kemudian menuju keluar seraya tersenyum simpul. “huaa...huaaaa..., ora podo! (tidak sama),“ Joko sedikit berontak melihat kotoran ayam yang bentuknya tidak sama dengan sebelum dibuang Sastro.
Menyaksikan itu, Sastro berusaha tenang, untuk tidak menangis dan tidak pula meluapkan kemarahan pada bocah itu. Sastro telah berhasil menjaga mata dan mulutnya. “Eee.. ora podo yo le,” ujar Sastro seraya memandang wajah Joko dengan tatapan penuh kasih sayang. Di usap-usapnya lah punggung Joko seraya berkata,”Le..le cilik cilik wes merintah merintah, koyok jendral. Mugi-mugi, sesuk dadi jenderal yo le,” Dengan halus Sastro bertutur.
Keesokan harinya, kembali Joko membuat pusing Sastro. Pagi itu Joko berlari-lari menuju rumah dengan menggenggam sejumlah timun. Terlihat dibelakangnya seorang pria tua yang berteriak sambil menunjuk si Joko. Rupanya Joko mengambil tanpa izin saat pria tua itu manen timun di kebun. Sukses membujuk Joko untuk kembalikan timun yang dia ambil dan setelah pria tua itu berlalu dan membawa timun yang diambil Joko, Sastro kembali menatap Joko dengan kasih sayang. Kemudian dielus-elusnya lagi punggung Joko seraya berkata “Mugi mugi sesok dadi wong sugih yo le. Ben ga usah nyolong meneh.“
Itulah kisah Joko. Satu kisah yang dengan manis disampaikan Hj Neno Warisman. Kisah yang menggugah dan membangkitkan emosional ratusan hadirin yang memadati Aula BI. Joko kini benar-benar telah menjadi seorang jenderal. Membuat ibunya hidup tenang di alam baka karena sang anak kini telah menjadi orang berhasil.
“Jenderal Joko bilang pada saya, dia bisa jadi jenderal bukan karena pintar. Tapi karena ibunya yang semasih hidup tidak pernah sedikitpun melontarkan kata-kata buruk dari mulutnya. Maka itu, hargailah anak-anak kita,” ujar Hj Titi Widoretno Warisman, lebih akrab dipanggil Neno Warisman..
Penyanyi dan bintang film era 1980-an ini menjadi pembicara tunggal dalam seminar parenting di Aula Bank Indonesia (BI), Sabtu (26/7). Seminar ini dihelat oleh Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang bekerjasama dengan Ikatan Wanita Bank (Iwaba).
Seminar gelaran BMH-Iwaba ini bertema ”Peran orangtua membantu mengembangkan potensi kecerdasan fisik, mental dan sosial anak di era globalisasi”, Neno mengatakan sistem pendidikan terbaik ada di Negara Finlandia, alasannya karena disana tidak ada anak yang tidak naik kelas. Sementara di Jepang, lanjutnya, yang kurang pintar adalah gurunya. Alasannya, guru lah yang memohon kepada murid agar tekun belajar. Dan setelah muridnya berhasil, barulah si guru dikatakan pintar.
“Mari ubah paradigma kita yang menganggap yang pintar adalah anak yang masuk sekolah negeri. Atau anak yang pintar matematika dan logika. Anak yang pintar menyantuni dan peminta maaf, juga memiliki kecerdasan emosional yang pasti jadi anak berguna. Katakan dia punya rangking satu karena taat pada Allah,” ajak Neno Warisman.
Usai seminar, kepada media ini, Ketua Iwaba Nining Causa Iman berujar, ini kali pertama Iwaba bekerja sama dengan BMH. Dan kemarin, selain seminar, juga dilaunchingkan Kencleng Pendidikan Donatur Cilik BMH. Dikatakan Nining, sebelum kencleng ini dilaunchingkan, puteranya telah mensedeqahkan sebagian uang jajannya ke dalam kencleng itu. Kemudian saat penuh kencleng tersebut dikembalikan ke BMH untuk kepentingan sosial.
“Ini pertama kalinya Iwaba kerja sama dengan BMH. Moga-moga seminar ini jadi agenda tahunan kita yang tiap tahunnya. Tentu saja dengan tema yang berbeda,” imbuh Nining didampingi suami, Kepala Cabang Bank Indonesia (BI) Balikpapan Causa Iman Karana.(*)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar